jump to navigation

Hendarso, Legenda Hidup Calung Sunda Januari 30, 2007

Posted by indra kh in entertainment.
trackback

Photobucket - Video and Image Hosting

”Untuk sekelas musik etnis kiprah Darso memang fenomenal. Tengok saja berbagai lagu calungnya yang bisa bertahan hingga puluhan tahun. Hingga kini pun gaya dan ciri khas nyanyiannya banyak ditiru dan menjadi acuan grup-grup calung yang ada di Jawa Barat”

Sebenarnya saya tergerak membuat tulisan ini seusai membaca postingan rekan saya, Rois yang membahas sedikit tentang Darso.

***
Rabu siang dua pekan lalu, cuaca di sekitar Ujung Berung, Bandung terasa panas sekali, maklum sinar matahari saat itu memang sedang teriknya. Namun demikian kondisi ini tidak menyurutkan para tamu yang berdatangan ke sebuah acara resepsi pernikahan rekan saya. Para tamu undangan tampak sibuk memilih berbagai menu yang disajikan berbagai stand yang ada. Mereka seakan tidak peduli dengan pertunjukan di panggung yang diadakan empunya hajat.

Situasi mendadak berubah setelah Kang Ega robot yang bertindak sebagai MC menyebutkan nama seseorang yang akan naik panggung. “…….Kang Darso…..!!” katanya.

Sebagian besar tamu undangan yang sebelumnya cuek dengan kejadian di panggung tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Sebagian dari mereka bahkan ada yang merangsek mendekat ke arah panggung karena penasaran ingin melihat sang penyanyi.

Tak lama kemudian seorang pria paruh baya berambut panjang dengan dandanan nyentrik tampil ke atas panggung. Berbalut baju putih yang dihiasi tambalan beraneka warna, lelaki yang sepintas agak mirip penyair asal Ciamis Godi Suwarna ini pun mulai menyapa penonton dengan gaya khasnya yang garihal dan kocak.

***
Ya, diantara Anda mungkin ada yang belum familiar mendengar nama Hendarso. Pria yang mulai berkiprah di dunia musik sejak tahun 1960-an ini memang hanya selebritis lokal. Namun demikian lelaki yang biasa dipanggil Darso ini jasanya tidak bisa dianggap enteng dalam menjaga kelestarian seni sunda, khususnya seni calung.

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau Darso mulai meniti karir dari grup band, bukan dari musik etnis. Beberapa tahun lalu saya pernah membaca sebuah artikel wawancara di HU Pikiran Rakyat yang memuat hal ini. Pada era 60-an, bersama grup Band Nada Karya, Darso kerap mengiringi penyanyi top jaman itu, seperti Lilis Suryani, dan Tety Kadi. Sayang kiprahnya di dunia musik Indonesia mesti terhenti akibat tidak stabilnya kondisi tanah air pasca G30S/ PKI.

Setelah masa itu, Darso muda bersama teman-temannya kemudian iseng bermain calung. Konon kabarnya kala itu sebenarnya Darso tidak menyukai jenis kesenian sunda yang satu ini. Namun justru dari keisengannya inilah calung menjadi sumber pendapatan baru dan jalan hidup bagi Darso. Atas jasa RRI Bandung, nama grup calung Darso Putra semakin dikenal masyarakat Jawa Barat. Apalagi pada saat itu RRI merupakan primadona hiburan masyarakat.

Berbagai lagu yang diiringi musik calung sempat menjadi hits. Salah satu lagu calung klasik yang dibawakan Darso yang hingga kini masih saya suka adalah lagu berjudul ”Kembang Tanjung.”

Memang kesuksesan penyanyi ini tidak terlepas dari bantuan Uko Hendarto sebagai pencipta lagu, yang tak lain adalah kakak kandungnya. Namun untuk sekelas musik daerah kiprah Darso memang fenomenal. Tengok saja berbagai lagu calungnya yang bisa bertahan hingga puluhan tahun. Hingga kini pun gaya dan ciri khas nyanyiannya banyak ditiru dan menjadi acuan grup-grup calung yang ada di Jawa Barat.

Baru di era 90-an Hendarso mulai masuk ke jalur musik pop sunda. Bahkan bisa dibilang dialah pelopor penyanyi pop sunda saat itu. Penampilannya memang sempat juga mengundang kontra dari para seniman klasik musik sunda karena dinilai melanggar pakem, namun Hendarso tetap melaju. Lagu Sarboah, Cucu deui, dan Maripi adalah contoh lagu yang sempat menjadi hits di kalangan penikmat musik pop sunda kala itu.

Darso adalah penyanyi sunda yang memiliki bakat alam. Hal ini pernah diungkapkan kritikus film Eddy D Iskandar dalam sebuah artikelnya. Menurutnya lagu-lagu Darso banyak yang diciptakan secara spontan di studio rekaman. Semua itu merupakan ciri khas kekuatan penyanyi alami yang lagu-lagunya telah puluhan tahun menyatu dengan khalayak.

Tak hanya lagu bertema cinta yang dia bawakan, penyanyi yang pernah tinggal di Karasak ini pun sempat menelurkan lagu relijius berjudul ”Amparan Sajadah.” Lagu ini bahkan kini dirilis ulang dalam bentuk baru oleh penyanyi rap Ebieth Bieth A.

Beberapa lagu lain yang pernah saya dengar, diantaranya ; Nostalgia Cinta, Duriat, Tanjakan Burangrang, Mega Sutra Pantai Carita, dan Tanjung Baru.

Darso memang nyeleneh. Gaya bahasa yang dilontarkannya cenderung kasar. Namun kendati begitu sumbangan Darso terhadap seni sunda khususnya calung sangat banyak dan harus dihargai. Ia adalah legenda hidup calung sunda.

Patut disayangkan belum banyak yang menghargai kiprahnya selama puluhan tahun ini. Tercatat baru Sekolah Tinggi Musik Bandung yang pernah menganugerahkan penghargaan Jabar Music Award 2005 kepadanya.

Semoga Darso tetap bisa berkarya kendati usianya sudah tidak muda lagi. Wilujeng, kang !!

* Picture Courtessy of Roisz.

About these ads

Komentar»

1. Enjang - April 13, 2009

Ngiring nimrung ah

Saya juga termasuk penggemar Kang Darso. Memang benar, Kang Darso patut kita hargai hususnya warga Sunda yang cinta akan seni budaya.Kalau boleh saya bilang Kang Darso itu Michael Jakson nya Urang sunda. Dengan gayanya yang nyentrik & kocak bisa di terima di kalangan anak muda mau pun tua.
Termasuk kang Uko Hendarto yang selalu kreatip menciptakan lagu-lagu yang di bawakan Kang Darso.Saya sangat salut sama beliau. bahkan saya berpikir adakah generasi berikut nya yang bisa memepertahankan dan mengenbangkan seni budaya sunda, apapun jenis kesenianya termasuk seni calung, yang saya perhatikan saat ini keberadaan nya semakin tersisih dengan seni-seni modern.Dulu ketika saya masih bolon keneh, kalau orang hajatan biasa hiburannya itu Calung,Wayang Golek,Reog,Jaipongan,Pencak Silat dll.Tapi pada ahir-ahir ini hiburan tersebut sudah jarang di jumpai,tersisih sama Band,Dangdut,Orgen tunggal. Semoga saja Putra-Putri Sunda kedepannya bisa lebih mendongkrak, mengangkat kesenian budaya Sunda lebih maju . “Semangat Terus Seniman Sunda”

2. Lukisan Abstrak - Januari 11, 2011

darso mang is the best lah,..

dia adlh artis sunda yg sngt terkenal

3. Ewod - Februari 7, 2012

Sumuhun mangga geura letarikeun warisan lagu-lagu karya Kang Darso sareng Kang Uko, ulah sampe ka giles ku budaya lain.
Carana bina generasi muda supaya mencintai musik etnik, wabil khusus Seni Calung anu dina danget ayeuna parantos jarang ditanggap kuanu gaduh hajat, tos ka elehkeun ku Organ Tunggal atanapi Band – band produk budaya batur. Kumaha tah ki sanak…?


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 184 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: