Mapag Panganten, Pelestari Seni Tradisi Agustus 15, 2007
Posted by indra kh in culture.trackback
Bulan April silam saya pernah mengungkapkan keprihatinan lewat blog ini, tentang kian terkikisnya seni tradisi. Keprihatinan itu perlahan sedikit terobati seusai menghadiri beberapa undangan resepsi pernikahan dari kerabat maupun rekan. Masih adanya sejumlah seni tradisional yang dipertunjukkan para seniman muda – bahkan belia – dalam pesta-pesta pernikahan tersebut cukup melegakan.

“Aksi Lengser yang kerap mengundang tawa” (indra kh)
Salah satu atraksi seni yang menarik perhatian saya adalah upacara adat “mapag panganten” (sambut pengantin). Kesenian semacam ini biasanya tak hanya ada dalam pesta pernikahan saja, namun kerap juga ditampilkan dalam menyambut kedatangan para pejabat atau tamu negara.
Galura (upacara) mapag panganten kaya dengan berbagai atraksi seni, dan melibatkan banyak seniman. Ada aneka tarian, seni karawitan, bodoran (komedi), pelajaran tentang kehidupan yang ditunjukkan simbol-simbol kesenian, dan lain-lain. Kesenian ini melibatkan sejumlah pemain gamelan, penari, pembawa umbul-umbul, dan Ki Lengser (sering disebut “lengser” saja).
Kehadiran Ki Lengser atau Mang lengser biasanya menjadi sosok yang menarik perhatian penonton atau tamu undangan. Pasalnya dialah yang mengarahkan jalannya upacara tersebut. Begitu rombongan kedua mempelai datang ke gedung/ tempat resepsi, Lengser-lah yang akan menyambut dan mengarahkan mereka ke kursi pelaminan dengan diiringi para penari dan pembawa umbul-umbul.
Peran Lengser ini biasanya dilakoni oleh seorang pria. Kalau pun ada Lengser wanita hanyalah berperan sebagai pendamping Lengser pria. Karena peranannya sebagai sosok panutan masyarakat yang dituakan, dan juga sebagai simbol penasehat dalam pernikahan, maka sosok Lengser lebih sering diperankan sebagai seorang kakek.
Pakaian yang dikenakan Lengser biasanya terdiri dari: baju kampret, celana pangsi dilengkapi dengan sarung yang diselendangkan, dan totopong (ikat kepala). Dengan memperlihatkan giginya yang ompong dan gerakan tari yang lucu, kehadirannya tak pelak selalu mengundang tawa penonton/ tamu undangan.
Seperti sudah disebutkan di atas, galura mapag panganten juga menampilkan berbagai tarian. Salah satu yang sering dipertunjukkan adalah tari merak. Tarian ini menggambarkan gerakan burung merak yang sedang memamerkan keindahan bulu sayapnya yang memiliki gradasi aneka warna.

“Penampilan para penari yang membawakan tari merak
dalam sebuah acara resepsi pernikahan” (indra kh)
Upacara mapag panganten biasanya tidak berlangsung lama, karena fungsinya hanya untuk menyambut kedatangan kedua mempelai dan mengantarkannya ke kursi pelaminan. Namun meski begitu, kehadirannya kerap ditunggu dan mengundang decak kagum banyak orang.
Semoga saja atraksi seni tradisional semacam ini tetap lestari hingga nanti, dan juga diminati oleh berbagai generasi.


Informasinya keren .. saya malah baru tahu ada kesenian ini. Thanks ya sudah menulis tentang Mapag Pengantin.
@ erander: kalau di adat sunda yang saya tahu seperti itu, pak. Mungkin blogger lain ada yang bisa cerita seni tradisi daerahnya juga.
ari kapungkurmah hiburan dinu hajat teh ku degung, ayeuna mah ku geol hot mojang dipirig ku oragan tunggal
@ wak guru: sumuhun,wak. Dina hajatan eyuna mah; kacapi suling, degung, calung lewat pokokna ku organ tunggal mah.
mari kita lestarikan budaya negri sendiri … ^^
salam kenal …… ^^
@ shige: setujuuuuu
salam kenal juga
euh.. sok janten emut kanu jaipong…
@kabayan: sok atuh kang geura ngengklak
saya kapungkur kabh agean nu nyandak payung (mayungan panganten)
salajengna .. perkawis hiburan.. degung resep, komo deui orhen tunggal euy.. sok hayang ka panggung..
@ Roffi: Wuiess, kantenan pantes pisan akang mah, apanan salirana ge jangkung ageung
, kekeke tapi bade tumaros kapungkur sok ngaheureuyan pager ayu henteu, tah
nyengir :d sambil nunggu disambut Ki Lengser, kapan atuh yan? hi hi hi
@ Taryan: sok atuh kang geura der. Atau mau jadi lengsernya dulu, hehe.
indonesia kaya akan budaya, .. dan perbendaharaan saya tentang budaya bertambah satu,..
salam kenal..:D
@ zebua: Suipp, salam kenal juga
tikapungkur abdi teh hoyong posting nu kieu kang “hajatna urang sunda”… nuju wargi nikah ge ngonsep sakedik malihanmah tos ngempelkeun poto2na, tapi bingung ngajentrekeunana…
kapayunan ku kang Indra ayeuna mah
@ xwoman: teunanaon atuh, kan benten cara pandang panginten. Kan tiasa saling ngalengkepan, percanten lah bakal langkung sae geura
walah mang, didinya pangantenan deui?
@ Rully: waduuh isyue eta mah:D
janten hoyong dipapag
@ Roisz: sok atuh geura der, engke emang janten lengserna, wakakaka
heuheu…simkuringmah sok kasima ku eta ki lengser nu mapag, lucu pisan atuh da, alah iraha aya nu mapagnya
, Nuhun kang ah ni sok waraas lach
@liezmaya: alah geuning meni seueur anu palay dipapag ku lengser
, salam pangwanoh, hatur nuhun tos keresa rurumpaheun.
roisz hayangeun kawin.. der ah
hihihi..jadi inget pas “mentas” dulu…mmhh.. mmhh.. tunggu.. tunggu… pake lengser juga ga yaaa?….poho euy!…
@ mamabumi: waah seniman juga rupanya
salam kenal, trims sudah mampir
kadang modernisasi itu menggusur nilai-nilai luhur budaya, dengan alasan nggak mau ribet akhirnya malah kehilangan makna.
syukur deh masih ada saja rakyat kita yang peduli dengan menampilkan content budaya lokal
@ peyek: yup betul, cak. Nilai-nilai budaya kerap dianggap sudah kuno dan tidak modern.
@ roffi
muhun, tos teu kiat hoyong …
nikah
kalau bisa kebudayaan yang ada di Indonesia tetap dilestarikan, karena itu merupakan ciri khas bangsa kita. Apalagi sekarang banyak generasi muda yang sebagian besar telah melupakan kebudayaan sendiri, mereka lebih cenderung meniru budaya barat ketimbang budaya sendiri.
@ dessy: setujuuuu
trims sudah berkunjung ke blog ini.
[...] para wisudawan disambut kembali oleh pagelaran upacara adat sunda. Dipapag (baca: dijemput) ki lengser, yang diiringi oleh sejumlah pembawa umbul-umbul dan para penari, barisan wisudawan Bahasa dan [...]
aslm. thanks ud ngsi tw ap it LENGSER…!!!
coz my mom won’t tell me, it’s compilcated
Saya kagum, kepada kang Indra KH. karena di era globalisasi ini, masi ada generasi muda yang masi memperhatikan seni budaya tradisional indonesia. karena utk menarik simpati para kaula muda sekarang ini sangat sulit. akibat era globalisasi sekarang ini di Indonesia, kebudayaan kita sangat2 mulai tersisihkan..
contohnya di jakarta :
dulu kakak saya menikah, menggunakan adat sunda.
seluruh kegiatan pernikahan menggunakan adat sunda, dari baju dan assesoris pengantin menggunakan sunda siger, ada mapag panganten di iringi dengan penari tabur bunga, lengser lengkap, dan menggunakan degung.
tetapi sekarang ini, jamannya usia saya.. dan dibawahnya…
semua menggunakan yg serba minimalist… kaula muda sekarang, menyebutkan kalo masi menggunakan baju pengantin seperti menggunakan sunda siger….mereka bilang JADUL (Jaman Dulu) gak okey…
padahal… kalau generasi kita sudah tidak mau memelihara dan mengembangkannya…
berarti,,, kebudayaan tradisional kita… bisa bertahan hingga berapa lama????
oleh karena itu,,,, mari kita para generasi muda….. utk lebih mencintai kebudayaan tradisional Indonesia….dengan cara seperti kang Indra KH,, ini sangat bagus….
salam kenal dari saya
deviana
dosen FTUNKRIS jakarta.
http://www.sanggarindrakusuma.com
punteeenn…
kok foto ki lengserna sama semua ya dari situs kesitus…
aku pengen liat ki lengser yang lain dunk
sya i love indonesia saya cinta tari merak yg penuh lemah gemulai
i love indonesia i love merak