Tagog Apu, Bertahan di Tengah Eksploitasi

Masih ingat dengan rute klasik Bandung – Jakarta melewati Padalarang, Puncak hingga Ciawi? Bagi Anda yang pernah menempuh rute tersebut mungkin belum lupa dengan panorama deretan bukit karst di sekitar Citatah Rajamandala. Perbukitan batu gamping peninggalan sekitar 20 juta tahun yang lalu itu masih menyisakan pemandangan yang menakjubkan setiap kita lewati. Pun begitu yang saya rasakan ketika melewati kawasan tersebut beberapa pekan lalu.

“Panorama salah satu bukit gamping di Citatah Rajamandala (indrakh)”

Dulu saya merasa aneh tentang kawasan ini, mengapa di daratan yang jauh dari lautan bisa ditemukan fosil koral dan terumbu karang? Apakah dulunya daerah ini memang berada di bawah permukaan laut. Ternyata setelah saya menelusuri berbagai literatur tentang geologi Bandung diketahui bahwa sekitar 30 – 20 juta tahun yang lalu daerah Bandung ke utara merupakan laut. Daratan utamanya sendiri adalah daerah sekitar gunung api di daerah sekitar pegunungan selatan Jawa Barat sekarang. Sekitar Gunung Patuha hingga Papandayan mungkin, ya?

Perbukitan karst sepanjang kurang lebih 18 km itu sebenarnya terdiri dari banyak bukit kapur dengan nama-nama yang unik, seperti Tagog Apu, Pasir Pawon, Gunung Hawu, Sanghiang Tikoro, dll. Namun entah mengapa orang lebih mengenal daerah tersebut sebagai Tagog Apu. Pada saat pertamakali melintasi perbukitan itu lebih dari dua dekade lampau, saya pun diberitahu orang tua bahwa nama perbukitan tersebut adalah Tagog Apu.

“Eksploitasi bukit karst untuk kebutuhan industri (indrakh)”

Hanya saja saya melihat ada perbedaan kondisi setiap ada kesempatan melintasi kawasan tersebut. Kian lama sepertinya deretan perbukitan batu gamping yang saya lihat semakin berkurang. Tidak utuh lagi. Penggalian dan penambangan yang terjadi selama bertahun-tahun mungkin salah satu penyebabnya. Pada kasus ini kembali potensi ekonomi menjadi lebih penting ketimbang konservasi. Betapa tidak potensi batu gamping untuk kebutuhan pembuatan semen, lantai marmer, kapur tohor, cat hingga industri kosmetik menjadi peluang yang sangat menggiurkan bagi penduduk sekitar maupun pengusaha pendatang.

Padahal perbukitan tersebut konon masih menyimpan banyak peninggalan geomorfologis, geologis bahkan arkeologis yang belum tereksplorasi. Sungguh disayangkan jika misteri ilmu yang terkandung di dalamnya harus lenyap karena perbukitan batu gamping Tagog Apu dan sekitarnya hilang digerogoti kerakusan manusia. Kini kalaupun ada yang masih utuh, bukit-bukit itu konon tidak memiliki kandungan batu gamping yang baik untuk industri.

“Salah satu pabrik kapur di Citatah Rajamandala (indrakh)”

Selain hilangnya berbagai potensi temuan ilmu pengetahuan, ternyata eskploitasi terus menerus terhadap perbukitan kapur di Citatah Rajamandala memunculkan potensi bencana yang tidak kita sadari. Dalam buku ekspedisi Geografi Bakorsutanal tahun 2006 saya membaca bahwa lapisan gamping di bukit Citatah – Rajamandala – Sukabumi itu berada di atas formasi batu asih (batu lempung) yang bersifat pecah-pecah dan mudah lapuk. Jika lapisan gampingnya terus dieksloitasi sehingga hanya menyisakan batu lempung maka kawasan tersebut akan menjadi rawan longsor dan rawan pergerakan tanah, yang pada akhirnya turut mengancam sumber air tanah dan mata air yang ada di sekitarnya.

Semoga saja pihak berwenang segera menyadari bahwa perbukitan karst di Citatah Rajamandala hingga Saguling harus dilindungi sehingga potensi bencana bisa dihindari. Tapi jika eksloitasi tetap dibiarkan terjadi terus menerus, entah sampai kapan Tagog Apu dan sekitarnya bisa bertahan?

18 Tanggapan ke “Tagog Apu, Bertahan di Tengah Eksploitasi”

  1. Harjo Berkata:

    Informasi yang menarik mas, kalau benar di sana ada banyak fosil coral, terumbu karang. Artinya, kawasan ini (bahkan dunia, menurut saya) ini dulunya memang benar-benar pernah tertutup oleh lautan. Jadi, kisah tentang jaman Nabi Nuh ada benarnya. Setuju enggak?

    @ Harjo: setujuuuuu, mas :D

  2. oRiDo Berkata:

    jd inget jaman kuliah dulu..
    bandung..bandung…

    jadi inget kuliah lapangan di karangsambung dulu.. ;-)

    @ oRiDo: ka Bandung lagi, kang.

  3. syahrizal pulungan Berkata:

    kita berdoa semoga tidak terjadi bencana dan semoga pemerintah dapat menyikapinya

    @ syahrizal: amin

  4. edratna Berkata:

    Sebelum merantau ke Jawa Barat, saya sudah membaca karya sastra karangan Abdul Muis …yang menceritakan percintaan seorang gadis berasal dari Tagogapu dengan pemuda bangsawan Sunda yang kuliah di Stovia. Jadi, asal ke Bandung saya membayangkan perjalanan Ratna naik kereta api dari Tagogapu, berhenti di stasiun Padalarang (yang membuat dia ketemu pangerannya), sampai turun di stasiun Bandung.

    Disitu dijelaskan pula keindahan alam wilayah Tagogapu.

    Cerita di atas perlu diinformasikan untuk mengetuk hati para pimpinannya, lagipula kan mumpung Jabar punya Gubernur baru, yang tentunya lagi semangat bekerja untuk membangun Jabar dan melindungi lingkungannya.

    @ edratna: wah saya jadi pengen baca bukunya. Trims bu.

  5. gajahkurus Berkata:

    Tagog Apu, nama ini saya kenal dari Bapak saya dulu, dulu… sekali jaman masih SD :-) Bapak saya sering berucap begini: “Ah silaing mah, tagog apu” hehehe. Sampai hari ini saya nggak tahu apa maknanya ungkapan itu.
    Barangkali Pak Indra tahu?

    @ Tagogapu: Tagog itu mungkin dari nagog alias nangkring (diam), apu itu kapur. Jadi tagogapu artinya tempat berdiamnya kapur alias pegunungan kapur. Abdi ngarang pisan nya kang :mrgreen:

  6. peyek Berkata:

    Daerah tempat tinggal saya juga merupakan daerah pegunungan kapur mas, wah kalo dulu pabrik semen itu masih beroperasi, debunya minta ampun, tapi beda Gresik beda Bandung, kalo Bandung masih dingin, lah Gresik… waduh bisa dehidrasi akut!

    @ peyek: oh gitu, kasihan anak-anak ya cak, resiko kena ispa-nya di daerah semacam itu juga relatif tinggi sepertinya

  7. Okta Sihotang Berkata:

    wah..okta lom pernah lewat sana tuh, so no ilustration of it
    wacaooo ;)

    @ Okta: moga-moga bisa kebawa jalan-jalan ke tempat ini via mimpi, ya bang :D

  8. roisz Berkata:

    Sudah lama roisz trans tidak mengambil jalan itu, mungkin suatu saat harus melewati rute tersebut.

    @ roisz: kalau rutenya lewat situ lagi, ajak-ajak, mang :D

  9. natazya Berkata:

    nda pernah kesitu situ….

    baru denger

    heuheuheuhuehueh

    @ natazya: weleh, nona nata masak urang bandung belum pernah lewat ke situh, hehe. Temu blogger sekali2 harus ngadain di tagogapu saja, ya :D

  10. Yari NK Berkata:

    Yang namanya manusia baru akan tersadar jikalau sudah mendapatkan bencana dari “kebodohan” yang sudah dilakukannya……..

    Btw…. memang sejak ada jalan tol Cipularang saya kalau ke Jakarta sudah dibilang tidak pernah lagi lewat rute Puncak padahal sayang ya melewati pemandangan yang sebenarnya cukup indah itu……….

    @ Yari NK: Kalau bencana sudah terjadi baru sibuk :(

  11. Sawali Tuhusetya Berkata:

    Semoga saja pihak berwenang segera menyadari bahwa perbukitan karst di Citatah Rajamandala hingga Saguling harus dilindungi sehingga potensi bencana bisa dihindari. Tapi jika eksloitasi tetap dibiarkan terjadi terus menerus, entah sampai kapan Tagog Apu dan sekitarnya bisa bertahan?

    sepakat banget, mas indra. mestinya pihak yang berwenang, dalam hal ini pemda, jangan gampang terpengaruh oleh bujuk raya para pemilik modal yang ingin melakukan eksploitasi alam utk mengeruk keuntungan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lignkungan.

    @ Sawali: padahal setahun pemerintah konon hanya mendapat bagian sekitar 300 juta saja lho, pak. Tak sebanding dengan impaknya.

  12. Cm4nk Berkata:

    Semua yg seperti ini jadi dilema Kang…kalo misalnya industri semen,pengolahan batu gamping dll ditutup,toh bakal ada eksploitasi lagi di tempat lain.. n kalo ditutup total,bakal ada berapa puluh-berapa ratus orang lagi yg kehilangan pekerjaan?? CMIIW..

    Cm4nk: dilematis memang. Tapi kalau tidak segera dikonservasi, mengerikan juga.

  13. hevi.fauzan Berkata:

    Sayang pihak berwenang-nya lebih mengutamakan keuntungan dari sektor industri dari pada dari sektor sejrah dan pariwisata.

    @ Hevi: Kumaha Persib yeuh? hehe

  14. Rayyan Sugangga Berkata:

    Ini rute saya kalau pulang ke Bogor (bis & travel). Saya baru tahu kalau dulu daerah gunung kapur rajamandala merupakan lautan.

    Betul mas, pasti masih menyimpan fosil & benda-benda arkeologi lainnya. Dan memang juga, suka serem kalau melihat kondisi gunung kapur yang semakin rusak.

    @ Rayyan: kalau kawasan Tubagus dulunya apa, ya? Masih termasuk danau bandung purba sepertinya

  15. tukangkopi Berkata:

    wah, udah pantes jadi dosen geomorfologi ini, Kang. hehe.. tapi bener juga, kalo terus menerus dieksploitasi secara membabi buta kasian ntar adik2 kelas saya di geologi. nggak ada tempat buat ekskursi batu gamping yang deket lagi. secara kita dulu tempat ekskursi favorit adalah di padalarang situ karena lokasinya yang gampang dicapai.. :D

    @ tukang kopi: hayoo sebagai senior harus bertanggungjawab :mrgreen:

  16. JUMADI Berkata:

    Maaf saya numpang ngasih informasi, mau over kredit rumah.

    http://www.rumahbekas.com/index.php?go=detail&id=3581

    terima kasih

  17. andri Berkata:

    “tagog apu, aqu malah baru tahu sekarang pak, kisahe aqu kira, hanya batu biasa, yang kena keajaiban ato kutukan kayak kisah22 tangkuban perahu, he..22 siip artikel ini aqu jadi tahu sejarah geologinya, … bapak ke sana jalan2 juga ya..??”

  18. Rini Berkata:

    Kebetulan tiap aku pegi k rumah nenek aku di cikalong, otmatis aku ngeewatin tagog apu, dari semenjak aku kecil, kondisi tagog apu emang terus terus berubah, sekarang sih udah ga jelas banget bentuknya, sedih bangt kalo liatnya… banyak truk truk yang lagi ngerukin gunung..

Tinggalkan Balasan