Masa liburan sekolah belum usai. Kebanyakan siswa memanfatkan masa liburannya dengan pergi bersama keluarga ke tempat-tempat wisata. Namun berbeda dengan Tatang dan Asep (sebut saja begitu). Keduanya memilih mengisi liburan dengan berjualan terompet di area parkir supermarket.
Berjualan di musim liburan seperti sekarang sebenarnya bukan pilihan kedua bocah ini. Karena desakan kebutuhan ekonomilah yang membuat mereka mesti merelakan masa liburannya diisi dengan berdagang.
Saya bertemu kedua anak ini beberapa pekan lalu di sebuah Supermarket di Kota Lembang. Ketika baru saja turun dari mobil mereka langsung menghampiri seraya menawarkan terompet dagangannya kepada saya. “A peseran A, mirah ieu ngan 2500,” Ujar mereka sambil memberikan sebuah terompet yang terbuat dari bekas gulungan benang kepada saya. (Kang tolong dibeli, terompetnya murah kok hanya 2500 Rupiah – red). Harganya memang murah juga pikir saya waktu itu. Seingat saya pada tahun lalu harga untuk terompet yang serupa adalah 5000 Rupiah.
Saya akhirnya setuju untuk membeli beberapa terompet dari mereka, sambil sejenak ngobrol dengan mereka tentang beberapa hal, dan tak lupa mengambil foto Tatang dan Asep.
Sore itu ternyata tak banyak juga orang lain yang membeli terompet. Keberhasilan Timnas melaju ke semifinal Piala AFF 2010 dan menjelang datangnya tahun baru menjadi momen yang tepat bagi bocah-bocah penjual terompet ini dalam menjajakan dagangannya.
***
Di samping salut dengan kemauan Tatang dan Asep untuk berjualan terompet, ada juga terselip rasa sedih di hati. Bagaimanapun juga mereka itu masih anak-anak, yang mungkin memiliki keinginan untuk berlibur layaknya anak-anak yang lain. Di balik senyum dan tawa mereka, bocah-bocah ini sesungguhnya termasuk pekerja anak (working children) yang tidak sesuai dengan aturan ketenagakerjaan dan konvensi ILO, yang jumlahnya semestinya bisa semakin dikurangi di negeri ini.
Survei Pekerja Anak (SPA) dari Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Organisasi Perburuhaan Internasional (ILO) yang dipublikasikan pada Bulan Februari 2010 menemukan fakta bahwa dari 58,8 juta anak Indonesia pada 2009, 1,7 juta jiwa diantaranya menjadi pekerja anak.
Ada tiga kategori definisi untuk pekerja anak. Dari tulisan yang saya kutip dari Kantor Berita Antara menyebutkan hal sebagai berikut:
- Sesuai perundangan, umur minimum bekerja 13 tahun, sehingga anak yang bekerja di bawah 13 tahun adalah pekerja anak.
- Sesuai ketentuan anak umur 13-14 tahun diperbolehkan bekerja dengan jam kerja tiga jam sehari atau 15 jam seminggu. Mereka yang bekerja di atas itu adalah pekerja anak.
- Mereka yang berusia lebih 15-17 tahun dengan jam kerja 40 jam seminggu.
Survei menemukan, setidaknya 674 ribu anak di bawah 13 tahun berstatus bekerja, sekitar 321 ribu anak umur 13-14 tahun bekerja lebih dari 15 jam per minggu, dan sekitar 760 ribu jiwa anak umur 15-17 tahun bekerja di atas 40 jam per hari.
Saya hanya bisa berharap semoga ke depan jumlah pekerja anak di Indonesia bisa terus dikurangi.

Ping-balik: Warong Kopi - The Community Meta Blog for Indonesia Bloggers
Anak2 seperti Tatang dan Asep, selalu saya jadikan contoh buat anak-anak, kalau hidup mereka lebih beruntung, karena nggak perlu susah mencari uang sendiri, bahkan untuk uang jajan sekalipun,
Nice posting, Kang.
Kembalikan masa anak-anak sebagai masa bermain!
siapa yang menyuruh mereka bekerja?
ah naif sekali rasanya bertanya kek gituu..
semoga ketika kelak mereka dewasa mendapatkan kehidupan yg lebih baik
Kasian yah…
Mereka tidak sempat merasakan dunia masa kecil mereka….
Hmmm
Mereka sekolah gak itu ya?
Masih banyak anak yang tidak beruntung di negara kita ini.
Zaman saya kecil, banyak teman-temanku seperti Tatang dan Asep, mereka membantu orangtuanya jualan (dengan membawa kue ke sekolah, atau sepulang sekolah), ada juga yang “angon kebo”. Cuma, karena biaya kuliah dan sekolah murah, asalkan anaknya pinter, teman saya banyak yang sukses…bahkan ada yang jadi dokter (yang angon kebo tadi), jadi jendral. Malah yang orangtuanya mampu, tak se sukses anak-anak yang harus bekerja keras saat kecilnya.
Teman anakku, yang saat SMP/SMA jualan kue, dan diledeki temannya, bahwa suatu ketika kalau mereka jalan-jalan ke Mal akan ketemu Siti yang jadi SPG..ternyata anak ini bisa kuliah di UI sambil bekerja memberi les komputer anak-anak bule, bahasa Inggrisnya bagus, dan sekarang mendapat beasiswa master di Amerika dan kerja di sana.
Yang penting adalah lingkungan orangtua yang tetap memberikan kasih sayang, mendorong semangat mereka.
ka tatang sareng asep kade ah… pami aya nu meser ngakukeun namina Isropil tong dipasihan meser… abdi teu acan siap bekel kangge uih…
kasihan ya. seharusnya anak sekecil itu sekolah dan bermain dengan teman-temannya
bila kita menyaksikan kegigihan anak2 seperti Tatang dan Asep, ada rasa iba namun jg salut.
krn mereka berjuang demi keluarga, walaupun msh anak2.
salam
SEtuju ma Bunda, saya salut sama mereka, at least mereka gak ngemis. This one is much2 better… asal jgn sampai lupa sekolah dan kewajiban utama…
Ini kreatif atau permasalahan sosial ya…?
sippp….perjuangan hidup….
Salut buat mereka
Belajar menjemput rejeki
Bobotoh yang hebat.
“orang miskin & terlantar dipelihara negara” ternyata hanyalah hitam di atas putih saja Y_Y
salut banget deh, semoga semangat belajarnya juga tidak pernah luntur!
memang banyak yang harus kita pelajri tentang perjuangan hidup dari bocah sekecil itu demi menyambung hidup,….
Dengan kepedulian kita-kita, insyaAllah jumlah pekerja anak dapat terus berkurang mas..
setidaknya mari kita bantu dengan doa..
salam mas..
di tempat saya kos dulu sering bertemu dg anak seusia SMP yg berprofesi buruh bangunan mas. miris jg sih. tp bagaimana lg, mereka butuh pekerjaan itu. mereka kebanyakan sdh tdk sekolah.
ini sebuah fakta sosial yang tak terbantahkan, mas indra. entah kapan anak2 bisa terbebas dari belenggu sosial seperti itu. pemerintah yang seharusnya menjalankan amanat uud 45 utk memelihara anak2 miskin dan telantar, justru sibuk membangun citra dan kepentingan politik semata.
peraturannya aja yang ada gan… tapi kenyataanna… jauh dari peraturan yang ada. memang benner2 negeri kita ni
beginilah indonesia….
Pekerja anak muncul sebenarnya salah satu pemicunya adalah orang-tua/wali mereka. Dengan dalih kebutuhan ekonomi seringkali anak dirampas kebebasannya untuk bermain atau melakukan hal lainnya yang disukai oleh anak-anak. Bila orang tua menyadari bahwa anak itu adalah titipan Tuhan dan bukan untuk dimanfaatkan maka semoga harapan mas agar pekerja anak berkurang akan dapat tercapai
mudah2an tidak terjadi pada anak2 kita.karena wlau bagimanpun juga mereka adalah masa depan kita,harapan bangsa kita
Salut buat mereka berdua,mereka mau membantu orang tua mereka demi sekolah mereka,mudah2an ada hikmah di balik itu semua
potret kehidupan anak2 indonesia,lebih baik seperti itu berjualan/berdagang dari pada harus meminta-minta / meminta belas kasihan orang lain. slut deh….
ane jadi inget masa kecil ane juga kaya begitu,tapi so jangan cemas malah biasa’a orang tak punya seperti mereka & saya punya semangat yang lebih dibanding orang pada umum’a
Asal sekolahnya tdk terganngu menurt sy ga maslah….mngkin dgn cara begitu mereka bsa sekolah,artinya mreka bisa membiaya sekolah dengan cara membantu orang tuanya dengan berdagang yang penting halal dan tidak merugikan orang lain
Mudah2an anak sy bsa tercukupi semua kbutuhannya,sehingga tidak perlu lagi mncari pnghailan stlh sekolahnya,cukup tugas merka adlah belajar
Aku sangat salut sekali dengan kerja keras yang anak kecil itu lakukan,,,
Karena tidak semua anak kecil mau berjualan seperti itu..
Dibalik rasa sedih yang pun saya rasakan, pengorbanan mereka untuk menyisihkan waktu senggang mereka pasti akan berdampak pada kemampuan sosial mereka ke depan. Semoga mereka bisa menjadi pedagang yang lebih sukses ke depannya…
Amin.
potret generasi mndtang bangsa kita,ga sdikit dari org yang sukses dulunya seperti mereka,mudah2an mereka adalh juga harapn bangsa kita kedepannya
Walau bagaimanapun mereka sebenranya tdk menginginkan seperti itu, tapi kondisi itulah yang memaksa mereka melakukan itu, semoga mereka sabar dan tabh dalam menjalankan roda kehidupan ini