Keberanian untuk Merantau


Namanya Syahrizal, sebut saja seperti itu. Siang itu ketika saya datang ke kiosnya, dia terlihat bingung mendengar omongan saya dalam bahasa Sunda: “Ngagentos jok sabaraha ieu? Tiasa diantosan teu? (Kalau mau mengganti jok motor berapa harganya? Bisa ditunggu tidak?” tanya saya kepadanya. “Maaf Pak, Saya belum mengerti bahasa Sunda,” ujarnya. “Ohhh …. Saya kira orang Sunda, hehe” kata saya.

Merantau: dari Pesisir Padang ke Bandung (dok-indrakh)

Akhirnya saya lanjutkan obrolan dalam bahasa Indonesia saja. Ternyata Syahrizal ini baru tiga bulan tinggal di Bandung, sehingga masih kesulitan memahami bahasa Sunda. Dia ikut berdagang untuk membantu kakaknya yang lebih dulu merantau ke Tanah Priangan yang membuka kios servis jok sepeda motor dan mobil. Pemuda ini asal Minangkabau, tepatnya dari wilayah pesisir Padang.

Terus terang saya selalu kagum dengan orang-orang yang berani merantau, jauh meninggalkan kampung halamannya untuk mencari peluang untuk mengembangkan diri dan memperbaiki tingkat kesejahteraan hidupnya.Mengapa saya kagum? Karena saya belum tentu bisa seperti mereka. Entahlah apakah karena saya berasal dari suku Sunda yang biasanya enggan jauh dari kampung halaman atau karena terlampau cinta dengan tanah kelahiran? :) Istilahnya: “Kurung batokeun.” Mungkin pendapat saya boleh jadi tidak sepenuhnya benar, karena cukup banyak juga orang Sunda yang mencari penghidupan di tanah rantau, tapi dibandingkan orang Minang, Batak, Bawean, Bugis atau Madura jumlah perantau Sunda sepertinya masih kalah.

Kios servis jok tempat Syahrizal bekerja (dok-indrakh)

Saya juga sebenarnya sih lebih banyak bekerja di Jakarta dibandingkan di Bandung. Setiap pekan saya mengunjungi Ibukota, namun biasanya tidak tahan untuk berlama-lama tinggal di sana. Menjelang akhir pekan saya pasti pulang, karena kangen istri dan anak-anak :)

Membahas tentang para perantau asal Minang, saya jadi teringat tulisan tentang merantau dari Gamawan Fauzi, Mendagri saat ini.  Saking banyaknya perantau Minang di Indonesia atau bahkan dunia ini sehingga memunculkan sebuah anekdot, bahwa ketika Neil Amstrong mendarat di Bulan bersama Apollo 11 kurang lebih 38 tahun silam, ia sangat terkejut mendapati orang Minang sudah lebih duluan sampai di sana untuk membuka rumah makan Padang.

***

Ya, ini hanya tulisan sederhana saja. Saya hanya salut dengan orang-orang muda semacam Syahrizal yang berani mencari tantangan untuk merantau jauh meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan keluarga yang dicintainya, untuk mencari peluang mengembangkan diri demi bekal hidup.

Diantara Anda ada perantau yang punya pengalaman menarik dan ingin berbagi cerita di sini? Silahkan.

16 pemikiran pada “Keberanian untuk Merantau

  1. di batur mah merantau teh udah jadi budaya, mun teu rantau teh aib … nu teu aya di tatar sunda :-) jadi memang harus mengubah budaya orang sunda heula kang … halah

  2. Maunya sih berkata, “wah saya juga tidak bisa merantau meninggalkan orang tua…..” Kenyataannya saya sudah 18 tahun tinggal di Tokyo hahaha

    sekalinya kembali menulis eh tentang merantau nih :D

    EM

  3. Ibu saya orang minang asli, tetapi jiwa ‘merantau’ sepertinya tidak tertanam dalam diri saya. Mungkin karena ibu saya tidak terlalu mewariskan nilai-nilai ke-minang-annya kali yah…

    Tapi tetap, sama seperti anda, saya pun kagum dengan sosok seperti Syahrizal…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s