Kita mungkin lebih sering mendengar istilah instan yang berkaitan dengan makanan atau minuman semacam mie instan, atau kopi instan. Namun ternyata sekarang ini ada juga sekolah-sekolah yang memilih pembelajaran instan, dan mengesampingkan proses. Memilih jalan pintas, dengan harapan siswa lebih memiliki percepatan dalam kemampuannya.
Ceritanya begini, si sulung sekarang ini sudah masuk kelas B (nol besar) di Taman kanak-kanak. Beberapa hari lalu dia diberikan pekerjaan rumah menulis halus oleh gurunya di sekolah. Hahh!! Menulis halus?? Gak salah?? Saya merasa aneh saja.
Pertama, menurut saya masa di TK fokusnya adalah bagaimana agar anak-anak bisa bermain dan belajar bersosialisasi. Kedua, jikalau ada belajar sebuah keterampilan harus dengan proses, tidak boleh dengan cara instan.
Saya sebenarnya tidak akan protes jika sebelum ada pelajaran menulis halus, guru-guru di sekolahnya sudah terlebih dulu mengajarkan tahapan-tahapannya. Mengajarkan garis, lengkung, membuat bulatan, dan aneka bentuk lainnya, sebagai proses awal untuk bisa menulis nantinya. Semuanya harus ada prosesnya toh? Tidak boleh bypasss begitu saja.
Untung kebanyakan murid di sekolah itu sebelumnya memulai di kelas A (nol kecil), jadi tidak terlalu kaget dengan tuntutan sekolah. Tapi perlu dipertimbangkan juga anak-anak yang langsung masuk di kelas B. Jangan sampai mereka masih menjalani masa orientasi untuk belajar bersosialisasi, mentalnya sudah jatuh karena ada tuntutan untuk bisa menulis. Kasihan nantinya.
Entahlah, apakah kondisi semacam ini dialami juga oleh banyak murid TK di tempat lain atau tidak? Mungkin ini diakibatkan banyaknya sekolah dasar yang menuntut siswa yang baru masuk harus sudah bisa membaca dan menulis.
Sepertinya akar permasalahan ada di tuntutan kemampuan bisa membaca dan menulis di SD, sehingga guru TK terpaksa ngebut ngajarnya
makanya mulai banyak generasi instan mas, tak bahagia waktu kecil membuat sisi emosionalnya menjadi labil saat dewasa…
Gedubrak! Gak boleh itu, harusnya. Harusnya gak ada cerita, anak lulus TK masuk SD harus bisa baca-tulis.
Aneh memang, di TK seharusnya agar anak belajar bersosialisasi, mentaati peraturan yang ringan….
tapi karena di SD harus sudah bisa baca, kadang guru TK cenderung ingin mengajar anak menulis, membaca dll.
Jika mengajarnya hanya sambil bermain tak masalah, jangan sampai anak kita sejak kecil dicekoki belajar terus, kawatir jenuh nantinya.
Betul sekali di daerah lain sama seperti itu, gambaran pendidikan negara tercinta yang serba instan… apalagi biaya pendidikan yang mahal
hii salam kenal iya dari vira ..
jangan lupa mapir keweb vira iya di http://www.rumahkiat.com/ vira mau berbagi pengalaman nih.:)
wah bagus juga iya blog ka2 … ^_^ good luck iya…..
lebih penting praktek dari teori. basisnya kurang. kalau sekedanya aja sih ok, tapi kalau improvisasi dan pengembangan dibutuhkan teori yang kuat.
Artikel menarik dan blog yang sangat edukatif plus bermanfaat..pokoknya T O P deh…
Saya Kak Zepe…Salam Kenal…
Saya juga punya tisp pendidikan kreatif…
banyak lagu anak yang bisa dipakai untuk gerak
dan lagu..dan masih banyak lagu anak-anak lainnya..
Lagu2 saya sudah banyak dpakai di TK dan PAUD seluruh Indonesia..
Mari berkunjung di blog saya
Di http://lagu2anak.blogspot.com
Kalau mau bertukar link, silakan lho…
Suka ……
Ping-balik: Menulis Elok dan Teh Kotak | Indra KH