Hijaunya Dago Tinggal Cerita? Januari 10, 2012
Posted by indra kh in Bandung, featured, lingkungan.Tags: Bandung, Dago, lingkungan
trackback
Majalah Tempo edisi September 1981 memberitakan tentang kecemasan penurunan debit air bersih PDAM yang berasal dari perbukitan Dago. Waktu itu, salah satu yang dituding sebagai penyebabnya adalah penggundulan bukit Pasirmuncang dan sekitarnya, yang akan dijadikan komplek perumahan dosen ITB, dan juga kampus Unisba. Dengan dalih semuanya sudah melalui tahapan perencanaan yang matang pembangunan akhirnya berjalan terus. “Lembaga perguruan tinggi tidak akan sembarangan berbuat,” demikian alasan yang dikemukakan pada saat itu.
Kutipan berita di atas hanyalah salah satu contoh bahwa kawasan Dago yang hijau sebenarnya sudah terusik sejak lama. Kini setelah 3 dekade, Dago dan sekitarnya sudah jauh berubah. Tak hanya lembaga perguruan tinggi yang membangun di sana, investor besar seperti berlomba-lomba membangun kawasan ini. Alih fungsi lahan hijau menjadi pemukiman, Hotel, restoran, toko, factory outlet, minimarket kian tak tertahankan.
Lupakan saja cerita nostalgia orang-orang yang saling menunggu (ngadagoan) di sekitar terminal Dago (yang waktu itu masih hutan) untuk pergi bersama-sama ke kota Bandung. Lupakan juga area perkebunan kopi dan teh yang ada di bukit Dago, atau tepatnya di sekitar Tea House. Tempat-tempat tersebut kini sudah berubah, dipadati oleh komplek perumahan, rumah kost, minimarket, rumah makan, dsb.
***
Masa kecil dan remaja Saya banyak dihabiskan di kawasan Dago. Jadi sedikit banyak Saya tahu betul daerah ini. Pada tahun 1980-an Saya masih hapal betul daerah Coblong, Cihaur yang masih penuh dengan area persawahan. Saya juga masih ingat di sekitar Dago Barat waktu itu masih hutan dan ada mata air (seke). Sekarang hijaunya daerah tersebut sudah punah, berganti dengan bangunan dan komplek perumahan mewah.
Sekitar tahun 1990-an bila menyusuri daerah Bukit Dago, mulai dari Dago Pojok – Tanggulan hingga Curug Dago masih sejuk karena masih banyak pepohonan. Beberapa spesies burung dan serangga juga masih sangat mudah Saya jumpai.
Awalnya tidak pernah terbayangkan kalau area sekitar Curug Dago hingga Punclut akan berubah menjadi tandus dan gersang. Memang sih tahun 2008 lalu sudah terlihat indikasi ke arah sana (lihat tulisan Saya di: Quo Vadis Kawasan Bandung Utara), namun Saya mengira tidak akan separah seperti sekarang ini.
Beberapa bulan yang lalu Saya mencoba menyusuri kembali jalan dari sekitar Terminal/Curug tersebut hingga memasuki sebuah komplek perumahan besar, setelah saya ikuti terus jalan tersebut ternyata sudah ada jalan berhotmix hingga ke kawasan Punclut.
Di satu sisi Saya senang karena ada akses jalan alternatif yang bisa membuat jarak perjalanan Bandung – Lembang menjadi lebih pendek, namun di sisi lain ada kesedihan yang mendalam, karena hijaunya Dago bahkan hingga Punclut sudah hampir habis. Daerah tersebut sudah dibuldozer untuk dijadikan perumahan mewah.
Sebenarnya ada keheranan tersendiri, mengapa pembangunan di daerah yang menjadi sumber resapan air seperti itu bisa memperoleh izin? Mengapa tidak dipertahankan menjadi kawasan hijau saja? Mengapa pemerintah kota terkesan diam saja tidak memproteksi? Ahh tapi setelah dipikir lagi apa sih yang bisa diharapkan dari pemerintah sekarang ini? Semrawutnya tata kota di Bandung sudah bisa menjawab hal itu.
Cerita hijaunya kawasan Dago dan juga Punclut mungkin sudah saatnya berakhir. Hijaunya perbukitan di utara Bandung itu sudah waktunya menjadi sekedar nostalgia. Akan segera tiba waktunya Kita memiliki dongeng baru untuk anak cucu, bahwa Bandung dulu pernah memiliki perbukitan yang asri, yang indah, yang bernama: DAGO.





saya hanya bisa mengucapkan, ‘…mereka tak punya NURANI’, tahun 1989, saya pernah tinggal di Ciburial, di tahun itu Ciburial masih sangat asri, kabut masih bisa kita lihat sampai jam 12 siang!!…sekarang?….
Selamat datang 7 miliar manusia. Masih mampukah bumi ini menopang?
Ya, menurut saya ini jadi konsekuensi pertumbuhan penduduk dan ekonomi juga Mang. Gampang-gampang sulit, untuk mengambil keputusannya.
Memang dulu ngapain aja pas remaja di Dago? Naik motor trail?
buminya sudah tidak indah lagi sekarang mah kang…
(
kawasan dago sama seperti desa saya kang, dinginnya sudah tidak terlalu dingin kebun-kebun tempat bermain dulu sudah berbeda bukan tanaman yang ada tapi beton-beton kokoh yang menjulang, perbukitan yang berubah fungsi menjadi perumahan mewah.
wisatawan yang dulu sempat singgah di cipanas sekarang berpendapat lain “cipanas sekarang tak sedingin dulu ya” miris mendengarnya juga….
berubah drastis ya gan, termakan oleh jaman
manfaat buah sirsak
manfaat buah apel
Menurut artikel2 yang saya baca, kawasan dago dan punclut merupakan daerah resapan air, aturannya 80% kawasan hijau, 20% pembangunan. Pertanyaannya, apakah pemkot konsisten?
mereka hanya mementingkan dirinya sendiri saja..
Kunjungi web kami di http://www.busaerowisata.com
mantabs gun artikelnya