jump to navigation

Belajar Mengantre September 20, 2013

Posted by indra kh in Budaya.
Tags: , , , ,
trackback

Sore itu saya sedang mengantre di sebuah mini market. Saat tinggal menunggu 1 orang lagi di depan saya, tiba-tiba seorang perempuan muda nyelonong begitu saja ke depan kasir. Sambil menanyakan sebuah merk rokok, dengan tenangnya dia menyimpan belanjaannya di meja kasir. “Ini, mbak! Sambil mengeluarkan dompetnya. Tapi sepertinya sang kasir pun tidak meresponnya karena sedang sibuk melayani pembeli yang mengantre di depan saya.

"Malas mengantre (dok - indrakh)"

“Malas mengantre (dok – indrakh)”

Melihat kejadian itu saya pun bereaksi. Usai orang di depan selesai membayar, langsung saja saya pindahkan belanjaan milik perempuan tersebut ke pinggir meja kasir, lalu saya katakan: “Giliran saya dulu, ya mbak! Silahkan antre di belakang. Tidak ada komentar atas pernyataan tersebut. Dia terlihat terus berbincang dengan temannya. Entah merasa malu, atau memang tidak acuh. Selesai melakukan pembayaran saya langsung ke luar mini market tersebut.

Kejadian orang yang malas mengantre lainnya yang pernah saya alami adalah di sebuah puskesmas. Waktu itu saya bermaksud meminta surat pengantar untuk ke rumah sakit. Ketika akan mengambil nomor antrean ternyata sudah banyak orang yang berkerumun di depan loket, berlomba-lomba mengambil nomor. Padahal jelas-jelas di kaca loket tertera tulisan: Silahkan antri. Seorang petugas puskesmas juga sudah meminta agar mengantre supaya tertib, namun apa daya, ibu-ibu itu tak satupun ada yang menggubris.

***

Mengantre memang menjemukan, butuh kesabaran tapi itu memang sebuah proses yang harus dijalani agar bisa tertib. Kita harus menghormati hak orang lain yang sudah datang lebih dulu. Mungkin kita sedang terburu-buru, tapi tetap saja itu tidak bisa dijadikan pembenaran untuk menyalip di antrian. Kecuali sudah meminta izin kepada orang yang berada di depan kita untuk didahulukan, dan kemudian diperbolehkan.

Makin ke sini, rasa malu itu sudah kian terkikis. Orang sudah tidak malu mengambil hak-hak orang lain. Salah satu contohnya adalah dengan menyalip di antrean. Padahal menyalip di antrean itu sebenarnya sama saja artinya  dengan berbuat curang!

***

Mengantre memang harus diajarkan sejak kecil. Mungkin diantara Anda masih ada yang ingat masa-masa bersekolah di SD. Sebelum masuk kelas biasanya berbaris dahulu. Satu persatu diperiksa kukunya oleh guru dan kemudian masuk ke kelas. Itu salah satu cara belajar mengantre.

Ketika akan pulang sekolah pun begitu. Satu persatu siswa bersalaman dengan guru, sebelum meninggalkan kelas. Ini juga salah satu cara agar bisa belajar mengantre. Apakah kebiasaan ini masih diajarkan di sekolah? Sepertinya masih.

Selamat belajar mengantre. :)

About these ads

Komentar»

1. pursuingmydreams - September 20, 2013

Iya paling nyebelin klo sdh antri panjang ada yg tiba-tiba nyelak :sad: . Biasannya kalau suami & saya antri di supermarket utk bayar, dan pas dibelakang kami ada 2-3 orang yg belanjaannya hanya 1 atau 2 macam, ya kita kasih maju duluan, krn kasihan antri nungguin belanjaan kita yg seabrek penuh 1 trolley :lol: .

indra kh - September 21, 2013

Setuju mbak jika kondisinya seperti itu. Kasihan juga nungguan kita yang belanjaannya seabreg, hehe.

Untung di supermarket besar biasanya memisahkan kasir untuk melayani belanjaan pake trolley dan yang belanja sedikit.

2. Budi Rahardjo - September 20, 2013

Masalahnya yang nyerobot itu khawatir tidak mendapat bagian. Kalau dia yakin akan dapat, dia bisa lebih tenang. (Hanya masalah waktu saja.) Dan juga yang melayani harus mau tegas dengan tidak melayani yang nyerobot.

indra kh - September 21, 2013

Iya pak, kalau yang melayaninya bisa tegas yang nyerobot juga biasanya malu sendiri.

3. Yudhi Hendro - September 20, 2013

pernah ngalami juga yg seperti itu, waktu chek in di bandara, sudah berdiri dan antri di bagian depan, tiba -tiba ada seorang ibu yang maju dan menyerahkan segepok tiket.
saya bilang,”maaf, Bu, saya dan penumpang lainnya sudah antri dari tadi”. akhirnya ibu itu mengerti dan ikut antri.
diperlukan ketegasan dan kesantunan dalam mengingatkan orang lain, termasuk dalam hal antri.

indra kh - September 21, 2013

Kebanyakan orang memang suka sungkan untuk menegur orang lain yang salah atau merebut hak orang lain. Padahal jika kitanya berani jarang sekali terjadi konflik. Yang tetap ngotot biasanya masih bisa dihitung lah.

Yudhi Hendro - September 21, 2013

benar, kang, biasanya petugasnya juga akan mengingatkan orang yg suka nyerobot.

4. farah - September 28, 2013

perlu ditanamkan budaya antri yang tertib agar bangsa ini bisa maju. ayo indonesia

5. Rully - Oktober 4, 2013

Mungkin dari kecil, gak diajarin antre sama orang tuanya.
Mungkin waktu SD gak diajarin baris yang rapih dan tertib. :mrgreen:

“… kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri…”

http://www.pestalozzi-indonesia.com/content/view/153/2/

6. vpshunt - Desember 4, 2013

hahahaha…
bsk lagi kasir mini market harusnya pake no antrian..
wkwkwkwkwk


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 180 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: