jump to navigation

Tukang Cukur di Indonesia Desember 6, 2013

Posted by indra kh in Budaya, culture, Jalan-jalan.
Tags: , , , , , ,
trackback

Kiprah tukang cukur di Indonesia menarik untuk ditelisik. Selama ini ada dua daerah yang dikenal sebagai penghasil tukang cukur di negeri ini, Garut dan Madura. Sejak kapan orang-orang dari kota intan dan pulau garam ini menjadi tukang pangkas rambut, dan mengapa profesi itu yang mereka pilih?

Tukang cukur Asgar - Foto: indra kh

Tukang cukur Asgar – Foto: indra kh

Pada awalnya penyebaran cikal bakal tukang cukur asal Garut dan Madura ke seluruh nusantara ini tidak terlepas dari adanya konflik di daerah masing-masing. Dede Saefudin, Kepala Desa Bagendit (salah satu desa pemasok tukang cukur Garut) dalam sebuah wawancara di Trans7  (20/11/2013) mengatakan bahwa kiprah orang Garut mulai jadi tukang cukur itu diawali pada saat adanya pemberontakan DI/TII. Dalam kurun waktu antara tahun 1949 hingga tahun 1950-an banyak orang Garut yang mengungsi ke berbagai daerah untuk menyelamatkan diri. Untuk bertahan hidup, salah seorang diantaranya ada yang memilih menjadi tukang pangkas rambut. Melihat kesuksesannya banyak pemuda asal Garut, khususnya orang Banyuresmi, Wanaraja, dan sekitarnya yang kemudian mengikuti jejak sebagai pencukur rambut.

Orang Madura sudah bermigrasi sejak lama. Muh Syamsuddin (2007) dalam jurnalnya tentang Agama, migrasi dan orang Madura menuliskan bahwa konflik antara Trunojoyo dan Amangkurat II (1677) menyebabkan pengikut-pengikut Trunojoyo enggan kembali ke Madura. Mereka akhirnya menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Orang-orang ini pada beberapa masa kemudian memilih mencari nafkah di sektor informal, seperti tukang soto, tukang sate, dan tukang cukur. Selain kuatnya tradisi migrasi itu merupakan bentuk jawaban terhadap kondisi ekologis pulau Madura yang gersang dan tandus

Bila melihat dokumen masa lalu, orang Madura sepertinya lebih dulu menjadi tukang cukur. KITLVRoyal Netherland Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies memiliki dokumentasi foto yang menggambarkan aktivitas orang Madura di Surabaya yang berprofesi sebagai tukang cukur pada tahun 1911 dan 1920.

Tukang cukur Madura di Surabaya (1911) - Dok KITLV

Tukang cukur Madura di Surabaya (1911) – Dok KITLV

Selain orang Madura, orang Cina di Indonesia juga diketahui ada yang berprofesi sebagai tukang cukur di masa lalu. Entah siapa yang lebih dulu mengenalkan profesi tersebut. Haryoto Kunto dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984) pernah menuliskan bahwa orang Cina di Bandung pada masa lalu dikenal menguasai profesi sebagai pemangkas rambut dan mengorek kotoran telinga dengan alat yang disebut ”kili-kili.”

Tukang cukur rambut asal Cina di Medan (1931) - Dok: KITLV

Tukang cukur rambut asal Cina di Medan (1931) – Dok: KITLV

Tak hanya orang Cina, pada zaman penjajahan Belanda, orang Jepang pun diketahui sudah ada yang memiliki toko pangkas rambut. Seperti di Alun-alun Bandung yang pada tahun 1932 diketahui ada toko Tjijoda, toko Nanko, dan Toyama. Belum diketahui, apakah saat itu ada orang Garut atau Madura yang bekerja menjadi tukang pangkas rambut di toko-toko tersebut.

Jika melihat kurun waktu di atas, kepada siapakah orang Garut pertama kali belajar menjadi tukang cukur? Kepada orang Madura, Cina atau Jepang? Ini yang belum terjawab. Yang pasti kini ada sekitar 15 ribu tukang cukur asal Garut yang tergabung dalam Paguyuban Warga asal Garut di Jakarta dan sekitarnya (Asgar Jaya). Ternyata banyak juga.

***

Ada sedikit kemiripan dari pola migrasi tukang cukur Garut dan Madura ini. Dari hasil obrolan saya dengan beberapa tukang cukur asgar (Asal Garut), tidak semua tukang cukur menetap secara permanen di kotanya. Ada yang bersifat temporer. Setelah usai musim tanam mereka biasanya pergi ke kota untuk menjadi tukang cukur, nanti setelah tiba musim panen mereka akan pulang kembali ke desa. Ada juga yang bersifat dadakan. Ketika tiba musim marema seperti menjelang hari raya, pemilik kios cukur di kota akan meminta bantuan saudara atau kerabatnya yang berada di desa untuk memenuhi permintaan jasa cukur yang meningkat.  Malam lebaran, sehari menjelang hari raya mereka akan mudik ke kampung bersama-sama.

Fenomena semacam ini terjadi juga pada orang Madura. Seperti diungkap Muh Syamsuddin, para migran tersebut pada musim tanam mereka pulang (toron) ke Madura untuk menggarap sawah dan ladangnya,kemudian setelah selesai mereka kembali lagi (ongge), dan begitu juga pada musim panen mereka kembali pulang dan sebaliknya.

***

Satu hal lagi yang menarik tentang tukang cukur ini adalah kekeluargaan diantara mereka. Kebanyakan kios cukur berisi lebih dari satu orang, dan biasanya mereka itu memiliki hubungan keluarga, kerabat, atau teman sekampung. Banyaknya kaum migran desa-kota yang terikat oleh asal muasal dan kekerabatan pada akhirnya mampu melestarikan ikatan yang kuat dengan komunitas asal mereka dalam membangun komunitas baru di kota.

About these ads

Komentar»

1. jampang - Desember 6, 2013

tapi seringnya kursi cukurnya memang ada lebih dari satu, tapi tukang cukurnya cuma satu doank. ini di dekat rumah saya seh. ada beberapa tempat pangkas rambut yang kondisinya seperti itu

indra kh - Desember 7, 2013

Mungkin di kampungnya masih dimulai masa tanam, jadi belum jadi tukang cukur ke kota. Kios cukur sementara ditunggui oleh satu orang. Mungkin :)

2. za - Desember 6, 2013

Ada typo sedikit: lau
:s/lau/lalu

Itu Shidiq berani dipotong sama tukang cukur? Wah hebat euy. Zaidan mah belum berani.

indra kh - Desember 7, 2013

Terima kasih sudah direview, hehe.

Iya sudah berani. Nanti juga ada masanya. waktu itu tiba-tiba saja dia bilang sudah berani duduk dicukur sendiri, gak usah sambil digendong :)

3. chris13jkt - Desember 6, 2013

Menarik juga cerita tentang tukang cukur ini. Dan ternyata tukang cukur langgananku juga Asgar lho :)

indra kh - Desember 7, 2013

Terima kasih, Pak Chris :)
Iya banyak soalnya, ada sekitar 15 ribu orang garut yang berprofesi jadi tukang cukur yang terdaftar. Yang tidak terdaftarnya entah berapa.

duniaely - Mei 18, 2014

15 ribu? wow .. banyak banget ya mas jumlah tukang cukurnya, baru yg terdaftar saja :)

4. Nathalia DP - Desember 6, 2013

wah ternyata seru yah cerita asal usulnya tukang cukur ini. makasih infonya mang :)
klo lia taunya mba2 salon biasanya dr gunungkidul, baru 2 sampel salon sih :D

indra kh - Desember 7, 2013

Sama-sama :D
Nah kalau salon gimana ya, apa didominasi juga oleh etnis tertentu? Kayaknya lebih umum, soalnya banyak kursus salon.

5. yoszca - Desember 6, 2013

Paparan yang menarik..thanks sudah sharing ini

indra kh - Desember 7, 2013

Sama-sama. Terima kasih sudah membaca.

6. ASUS Fonepad 7 Inci - Kopiah Putih - Desember 6, 2013

Didekat rumah saya juga ada pemuda yang “katanya” kerja di Jawa menjadi tukang cukur.. :)

7. aries - Januari 4, 2014

Stau saya kalau model potong ramput madura ciri khas nya rapi dan bergaris tajam, berkarakter tegas.

8. masbrowww - Januari 15, 2014

Daripada menjadi buruh memang lebih baik menjadi tukang cukur, penghasilanya lebih gede dan lebih terhormat.

9. brandonfury90 - Januari 15, 2014

antik sekali nih, sejarah tukang cukur di indonesia hehehehe
kunjungi jg blog sy http://beritanyeleneh.blogspot.com/

10. Imanuel Suluh - Januari 31, 2014

Di dekat kampus saya, juga banyak lapak potong rambut madura. Sesekali saya juga mencoba memotong rambut di sana. :)

11. maria prameswari - Februari 13, 2014

keren2 bngt infonya…ternyata tukang cukur juga bisa jd cerita seru yg ada nilai sejarahnya ya two thumbs

12. Cak Gun - Februari 27, 2014

Ada lagi gan daerah pemasok tukang cukur, yaitu “Padang” Sumatra Barat

Di jakarta dan daerah tangerang rata-rata tukang cukur yang saya temui, klo gk orang garut ya orang padang :)

13. Alvi - Maret 15, 2014

Saya belum pernah dicukur sama tukang cukur dari Madura
seringnya sama mamang cukur dari Garut :D

14. Nurfahmi Budi Prasetyo - April 11, 2014

Cukur di DPR: Di bawah Pohon Rindang. Hehe…siperubahan.com

15. Priana Saputra - Mei 6, 2014

Unik bener gan Postingannya, gak pernah terpikir memang buat posting kayak ginian.ha2. Terimakasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 178 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: