Menjemput Asa di Jembatan Rajamandala November 8, 2010
Posted by indra kh in cianjur, culture, daily, featured, hidup, inspirasi, Jalan-jalan, kuliner, serbaneka.Tags: cianjur, featured, inspirasi, Jalan-jalan, wisata kuliner
16 comments
Sore itu Mang Ujang (bukan nama sebenarnya) masih setia menunggui kedai kecilnya, yang berada di sebelah barat Jembatan Citarum Rajamandala. Hari sebenarnya sudah mulai senja, namun dagangan cincau hijaunya masih banyak tersisa. Masih ada hampir setengah wadah kayu yang belum laku. Padahal biasanya pada hari libur dagangannya sangat laris, sehingga tak perlu sampai sesore itu ia menanti dagangannya habis. Sepinya pembeli ia duga akibat kondisi cuaca yang tidak menentu belakangan ini, bahkan hujan bisa turun seharian, entah itu pagi, siang atau sore.
Kepada saya, pria umur 50 tahunan ini bercerita bahwa ia memulai usaha kedai cincau hijaunya itu sekitar satu tahun lalu. Ketika musim liburan sekolah tiba, ia bersama beberapa rekannya berinisiatif mencoba peruntungan dengan berdagang cincau hijau di sekitar di Jembatan Rajamandala. Kedai tempat berjualan cincau tersebut dibangunnya secara sederhana, hanya berupa amben beralaskan tikar dan atapnya menggunakan terpal.
Sambil Menunggu “Melahap” Buku Agustus 17, 2010
Posted by indra kh in culture, daily, family, hidup, keluarga, media, serbaneka, topics.Tags: buku, keluarga, pendidikan
15 comments
Bila ada pepatah menyebutkan sambil menyelam minum air maka untuk episode Saya ini mungkin yang cocok adalah sambil menunggu “melahap” buku.
Tak terasa si Sulung sudah saatnya masuk Taman Kanak-kanak. Masa trial pada pertengahan Juni lalu sebenarnya berjalan dengan sukses. Dia tak perlu ditunggu di sekolahnya, sehingga Kami hanya cukup mengantar dan menjemputnya. Namun saat masa sekolah yang sebenarnya tiba, dia menjadi berubah. Sering menangis dan tidak mau ditinggal. Al hasil mulailah episode Kami berbagi jadwal untuk menunggu si Sulung di sekolahnya. Parahnya lagi dia minta ditunggui di depan pintu kelasnya, dan tidak memperbolehkan Kami menunggu di luar kelas. Supaya bisa memastikan Kami ada, katanya.
Hingga kini belum Kami ketahui penyebabnya. Namun dia sempat bilang kepada Saya jika dirinya tidak nyaman dengan para orang tua murid yang ikut masuk ke kelas dan menunggu di samping kursi anak mereka.
Buka Mata ini Nyata Mei 15, 2008
Posted by indra kh in daily, ekonomi, hidup, my-life, serbaneka, topics.50 comments
Langkah kaki Mak Inah, sebut saja begitu, terlihat sudah melambat meski tidak gontai. Tubuh ringkihnya membungkuk menanggung beban setumpuk kayu bakar hasil pencariannya di sekitar kaki Gunung Putri. Menilik usianya semestinya ia tinggal menikmati hidup saja. Namun kondisi ekonomilah yang memaksanya harus mencari bahan bakar gratisan yang tak membutuhkan biaya, seperti potongan-potongan bambu atau kayu-kayu bekas. Sesekali kayu bakar itu ia jual untuk menyambung hidupnya.
“Langkah Mak Inah demi seikat kayu bakar (indrakh)”
Kendati begitu Mak Inah masih bisa lebih tenang. Ia tak terlalu dipusingkan dengan kian langkanya minyak tanah di tanah Pasundan. Ia tak risau seperti masyarakat lain yang kelimpungan dengan lenyapnya gas elpiji di Negorij Bandong dan sejumlah daerah lainnya. Satu pertanyaan yang mungkin masih melintas dalam benaknya: “Masih terbelikah bahan makanan pada saat BBM naik kelak?
Berusaha Hingga Ujung Senja Februari 19, 2008
Posted by indra kh in daily, keluarga, my-life, serbaneka.20 comments
Agak lama juga hiatus yang saya lakukan. Bukan karena tidak ada bahan untuk ngeblog, namun saya mengalami erosi semangat untuk menulis blog. Entah kenapa. Hari ini akhirnya timbul juga rasa kangen untuk bercerita di sini. Walaupun hanya sebuah tulisan ringan saja, namun semoga ada manfaatnya.
***
Entah sudah berapa kali saya berjumpa dengan bapak sepuh sang penjual kerupuk ini. Hampir setiap kunjungan saya ke RM Bebek van Java selalu melihat dia. Meskipun jarang timbul minat untuk membeli dagangannya, namun rasa iba dan rasa kagum melihat usahanya untuk mempertahankan hidup akhirnya selalu menggerakkan saya untuk memutuskan membeli kerupuknya.
“Berusaha hingga ujung senja (indrakh)”
Beberapa tahun lalu, ketika SPBU Cikapayang di bawah jembatan layang Paspati masih berdiri, tepatnya di lokasi yang kini menjadi taman Cikapayang, saya juga sudah sering berjumpa dengan bapak ini. Terutama saat siang hari. Saat itu ia menjajakan kerupuknya ke setiap pengendara sepeda motor maupun mobil yang sedang mengisi bahan bakar di SPBU tersebut.
Bukan Tukang Cukur Biasa November 21, 2007
Posted by indra kh in Bandung, daily, my-life, topics.19 comments
Sambil memangkas rambut dia akan bercerita banyak dan mengajak berdiskusi tentang apa saja. Sambil sesekali menghisap dalam-dalam rokok kretek yang menjadi ciri khasnya. Saya masih ingat, pada kunjungan terakhir ke tempatnya Kang Momon sempat berkeluh kesah tentang biaya kuliah anaknya yang dipandang sangat mahal.
“Suasana di salah satu tempat pemangkas rambut di Ciumbuleuit, Bandung (indrakh)”
Sebuah tulisan Zaky Yamani di HU Pikiran Rakyat edisi 15 November lalu benar-benar mengagetkan saya. Kang Momon ternyata sudah meninggal. Siapakah Kang Momon? Ia memang bukan artis atau selebritis. Ia hanyalah seorang tukang cukur yang membuka prakteknya di bilangan Simpang, Dago, tak jauh dari kedai Bubur Ayam Pak Zaenal. Kini dia sudah tiada karena penyakit liver yang dideritanya. Semoga Allah SWT melapangkan jalannya.
Lebih kurang 25 tahun saya mengenal dia. Almarhum Kakek saya yang pertamakali membawa ke pemangkas rambut “Sesuai,” tempat praktik cukur Kang Momon. Satu hal yang saya kagumi dari sosok tukang pangkas rambut yang satu ini adalah kepiawaiannya dalam mendengar, menangkap informasi dan bercerita tentang banyak hal. Dari mulai masalah politik, seni, Persib, dan nilai-nilai tentang hidup. Bahkan ia sangat mengenal sejumlah nama-nama anggota keluarga besar saya. Ia pun dengan hapal menceritakan ulang kabar anggota keluarga atau kerabat saya yang sempat datang ke tempatnya. Hal seperti ini ternyata dialami juga oleh beberapa teman saya yang juga menjadi pelanggannya.





