jump to navigation

Detik Hidup, Iwan Abdulrachman (Abah Iwan) Juli 21, 2006

Posted by indra kh in music.
trackback

Photobucket - Video and Image Hosting
Saya mulai mengenal karya-karya Iwan Abdulrachman (Abah Iwan) seperti “Sejuta kabut,” Seribu Mil Lebih Sedepa,” “Melati Putih,” dll lewat acara-acara Bang Lengser dan Kang Ibing di Radio Mara Bandung. Ketika hari Jumat (2/6) saya disodori undangan untuk menonton konser Abah Iwan “Kabar dari Gunung” di Grand Ballroom Hyatt, Jln. Sumatra No.51, Bandung pada Sabtu (3/6) beberapa pekan lalu, tentu betapa girangnya hati saya.

Di tempat konser yang disetting mirip hutan itu, Jendela Ide Kids Percussion tampil sebagai sajian pembuka. Kelompok perkusi yang personelnya terdiri dari para bocah yang kerap manggung di mancanegara itu benar-benar memukau 700-an penonton yang memadati Hyatt.

Sastrawan Iman Soleh kemudian tampil selanjutnya. Ia membawakan puisi berjudul ‘Air, Burung, dan Nenek Moyang. ‘ Penampilannya menggiring penonton untuk semakin masuk dalam suasana alam. Satu hal yang paling diingat saya dari performa Iman Soleh adalah gaya membaca puisinya yang unik. Saat itu, sambil diikuti hentakan kaki seperti melangkah dalam sebuah perjalanan, pria berkumis tebal ini berkata dalam gaya seperti kakek-kakek :…Yaa Hujaan, …Yaa Aiir…”

Seusai Iman Soleh, dan sedikit prolog dari Kang Aat Suratin, acara yang dinanti pun tiba yakni sajian musik balada dengan kemasan akustik penuh pesan dari seorang Iwan Abdulrachman. Malam itu Abah Iwan membawakan sejumlah lagu pilihan soal alam.

Sedikitnya 20 lagu Abah bawakan malam itu, diantaranya lagu Simphoni Pohon Bambu, Tragedi, Badai, Akar, Anak Tarzan, Melati dari Jayagiri, Flamboyan, Mentari, dan Detik Hidup.

Detik-detik berlalu dalam hidup ini
Perlahan tapi pasti, menuju mati
Kerap datang rasa takut, menyusup di hati
Takut hidup ini terisi oleh sia-sia

Pada hening dan sepi, aku bertanya
Dengan apa ku isi, detikku ini

Kerap datang rasa takut, menyusup di hati
Takut hidup ini tersisi oleh sia-sia

Tuhan kemana kami setelah ini
Adakah Engkau dengar doaku ini

Lagu Detik Hidup, hasil karya Abah di tahun 1976 bagi saya merupakan lagu terbaik dari seorang Iwan Abdulrachman yang telah berbaur dengan alam sekira 45 tahun. Isinya benar-benar penuh nasehat yang dikemas tanpa menggurui. Petikan gitar dan suara khasnya pada lagu itu menyiratkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah dan ada kehidupan kekal menanti.

Malam telah menjelang pergantian hari, sekitar dua jam salah seorang tokoh Wanadri ini akhirnya mengakhiri tausyiah lewat petikan gitarnya malam itu. Sebagian penonton bahkan berkesempatan membawa berbagai bibit pohon dari para petani di Kuningan untuk ditanam di tempatnya masing-masing.

Komentar»

1. Ipong Witono - Agustus 29, 2007

Bung Indra,sudah tahu, hari senin 3 september, Abah Iwan akan ultah yang ke 60?para sahabat dan kerabatnya akan membuat ‘surprise party’ pada malam itu di selasar sunaryo bandung.Kali ini Abah dihibur, beberapa penyanyi lintas generasi akan menyanyikan karya Abah, al: Teti Kadi, Bimbo, Aom Kusman, Vina Panduwinata, Trie Utami, Nugie sampai Gea Ind Idol.Anda tentu boleh hadir apabila bisa merahasiakan acara ini dari Abah.Saya setuju dengan lagu Detik Hidup sebagai salah satu karya puncak Abah.Semoga ada waktu ya.

Salam
Ipong Witono

Waah kaget nih juga Pak Ipong bisa berkunjung ke blog ini. Trimakasih banyak informasinya, mudah-mudahan saya bisa menyempatkan diri untuk hadir ke Dago Pakar.

Salam

Indra KH

2. indrawan - Oktober 1, 2007

Mas..

Saya ingin sekali punya rekaman lagu ‘detik hidup’ nya bimbo..nyari sulit sekali..Bila berkenan, mohon bisa dibantu infonya?

@ Indrawan: waduh maaf pak kalau yang Bimbo gak punya, pak. Kalau yang Abah Iwan saya pernah beli kaset dan CD-nya waktu konser beliau tahun lalu.

3. ncomputing penganti-pc - Juni 10, 2008

kalau lagu2 lawas aku kurang ngerti ni🙂 🙂

4. neny - Juni 30, 2009

abah,aku pengen punya cd lagu2 abah lagi(sblmnya aku pernah beli lewat buletin wanadri)yg DETIK HIDUPaku belum punya.gmna bisa ngedapetin yg ada ttd abah…pernah punya keinginan jdi org w,tp ga kesampaian..

5. sugeng R - Mei 23, 2010

saya mungkin manusia yang jarang menangis….tapi ketika lagu ini dikumandangkan dalam suatu pelatihan manajemen kalbu tak terasa air mata membanjir membasahi pipi…salut…bgitu menyntuh dan dalam sekali maknanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: