jump to navigation

Hidup di Gedung Tinggi Januari 11, 2007

Posted by indra kh in my-life.
trackback


..Saya merasa lebih kerasan tinggal di pemukiman biasa, yang kental dengan persaudaraannya. Saya lebih membutuhkan tetangga yang siap membantu ketika kita kesulitan. Saya lebih merindukan sapaan ramah orang-orang yang melewati rumah kita…

Kian minimnya lahan kosong untuk perumahan membuat pengembang pemukiman kini melebarkan lahannya secara vertikal. Di kota-kota besar bangunan apartemen mulai bermunculan. Para pengelolanya menawarkan berbagai fasilitas menggiurkan dengan beraneka konsep pembayaran. Dulu saya sering bertanya-tanya ”Apa sih bedanya tinggal di apartemen dibandingkan pemukiman biasa”? Apa enaknya dan apa nggak enaknya ? Dan kini saya sudah menemukan jawabannya.

Sekira tiga bulan lalu, sebuah kamar apartemen di kawasan Slipi, Jakarta menjadi tempat singgah atau menginap bagi saya dan rekan-rekan jika ada perjalanan dinas di sana.

Photobucket - Video and Image Hosting

Dari sisi keamanan, secara sepintas apartemen mengaplikasikan tingkat keamanan lebih dibanding perumahan biasa. Diantaranya, penjagaan satpam di pintu masuk dan lokasi strategis, CCTV yang bisa dimonitor penghuni via televisi, dan akses lift dengan RFID. Memang bila dibandingkan dengan perumahan-perumahan atau cluster elit, konsep ini tidak terlalu jauh berbeda.

Dari sisi fasilitas, apartemen juga menawarkan konsep one stop service. Adanya akses internet, tv kabel, minimarket, cafe dan restoran, laundry, kolam renang dan pusat kebugaran didesain pengelola apartemen untuk memudahkan penghuni agar mereka tidak perlu keluar area untuk memenuhi kebutuhannya. Konsep seperti ini pun saya pikir tidak berbeda jauh dengan yang telah diaplikasikan kota-kota baru atau kota satelit di pinggiran kota besar, seperti BSD, Lippo Karawaci, atau Kota Baru Parahyangan.

Hidup di apartemen memang mengasyikan, namun entah mengapa saya merasa ada yang hilang dari kehidupan seperti itu, yakni kekeluargaan dan kehidupan sosial. Kehidupan di gedung tinggi menurut pengamatan saya cenderung individualistik elitis. Bertemu dengan tetangga sebelah kamar pun mereka enggan menyapa. Menggunakan space parkir orang lain tidak pernah merasa bersalah, cuek saja. Ketika kepergok si empunya juga jangankan hadir kata maaf dari lisannya, sapaan sedikit saja tidak keluar dari mulutnya.

Saya merasa lebih kerasan tinggal di pemukiman biasa, yang kental dengan persaudaraannya. Saya lebih membutuhkan tetangga yang siap membantu ketika kita kesulitan. Saya lebih merindukan sapaan ramah orang-orang yang melewati rumah kita. Saya merasa lebih nyaman melihat pemandangan pekarangan rumah yang hijau diisi tanaman dan apotek hidup ketimbang pemandangan jalanan ibukota yang sarat kemacetan dari balik jendela apartemen.

Di apartemen tidak ada lagi pedagang keliling yang menjajakan dagangannya. Di apartemen saya tidak menyaksikan ibu-ibu rumah tangga maupun para pembantu mengerumuni tukang sayur untuk bahan memasak di hari itu. Di apartemen juga saya tidak menyaksikan pertandingan sepakbola, tenis meja atau bola voli antar kampung. Di apartemen juga saya tidak melihat lalu-lalang anak-anak kecil yang asyik bermain petak umpet dan saling kejar-kejaran. Dia apartemen juga saya tidak melihat rombongan orang maupun bocah-bocah yang bergegas menuju masjid atau pun surau untuk shalat berjamaah seusai adzan berkumandang.

***
Puihhh, lelah juga membanding-bandingkan hal seperti ini. Hidup di gedung tinggi (apartemen) ternyata ada enaknya dan juga ada tidak enaknya. Kalau Anda lebih kerasan tinggal di mana ?

Komentar»

1. Rully - Januari 11, 2007

lebih kerasan tinggal di komplek perumahan biasa, tapi punya juga di gedung tinggi. he he.

# Baguus …., hehehe😀

2. indra kh - Januari 11, 2007

bagus juga, tinggal di perumahan, apartemen disewakan buat investasi 😀

3. azfa - Januari 16, 2007

aku mah terpaksa tinggal di apartement…. tapi tinggal di lantai dasar kok hehehe🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: