jump to navigation

Terkikisnya Seni Tradisi April 26, 2007

Posted by indra kh in culture.
trackback

Ada yang baru dengan pemandangan ruang garasi di rumah orang tua, saat kunjungan saya beberapa waktu lalu. Seperangkat gamelan degung hadir di salah satu sudut ruangan. Alat-alat musik tradisional ini sengaja dibeli oleh mereka sekedar untuk koleksi dan untuk dimainkan ketika datang waktu senggang.

Melihat kendang, goong, saron, bonang, dan alat gamelan lainnya, pikiran saya jadi flash back sekitar satu setengah dekade, di saat sedang gemarnya memainkan salah satu perangkat gamelan, yakni kendang. Bersama rekan-rekan di kampung maupun sekolah (SMP, SMA) dulu, tanpa perasaan malu kami kerap bermain calung, degung, gondang, dan seni tradisi Sunda lainnya, untuk pegelaran sekelas kampung ataupun perhelatan di sekolah.

kendang

Kini di jaman informasi dan globalisasi, seni tradisi saya lihat kian terpinggirkan. Sebagian generasi muda seperti enggan bila harus bermain alat musik tradisional, memainkan seni peran khas daerahnya, atau bahkan hanya untuk menontonnya. Sebagai contoh untuk kota Bandung, tengok saja penonton di Taman Budaya, gedung Rumentang Siang, YPK Naripan. Selain jumlahnya relatif sedikit, mayoritas penontonnya-pun didominasi oleh golongan tua.

gamelan

Apakah anak-anak sekolah jaman sekarang masih mengenal cianjuran, calung, pupuh, lagu-lagu degung semacam catrik, jipang lontang, kulu-kulu, atau pertunjukan longser ? Apakah anak-anak jaman sekarang masih menyukai wayang golek ? Saya memang tidak mengetahui jawaban yang pasti. Hanya saya sering melihat ataupun mendengar, ketika seseorang memutar lagu daerah, orang-orang di sekitarnya terutama anak muda biasanya langsung protes mengganggapnya kampungan dan tidak ngetrend. Bila ada pertunjukan seni tradisi daerahnya di televisi, tidak sedikit pula yang memilih memindahkan saluran ke acara lain.

Memang, boleh jadi hal ini disebabkan oleh kesalahan strategi pada kemasan pertunjukan yang cenderung manampilkan kemasan asli. Namun seniman-seniman masa kini saya lihat sudah sangat kreatif. Mereka melakukan modifikasi pada seni daerah sehingga menarik untuk dinikmati atau ditonton. Sasagon group dan Dalang wayang golek Asep Sunandar Sunarya, bisa menjadi contoh.

***

Selain kesenian, menggunakan bahasa ibu pun kian jarang nampaknya. Orang-orang tua baru jaman sekarang lebih sreg dan merasa lebih gaya dengan mengajarkan Bahasa Indonesia dulu ketimbang bahasa daerah asalnya. Padahal berdasarkan pengalaman, Bahasa Indonesia biasanya akan bisa dipelajari saat sang anak menginjak bangku sekolah.

Beruntung hadir televisi-televisi lokal, yang menyajikan porsi acara derah lebih banyak dibanding televisi nasional. Sehingga resiko kian tergerusnya seni tradisi oleh modernisasi bisa sedikit ditahan. Namun bila tanpa partisipasi kita, bukan mustahil seni tradisi akhirnya hanya akan menjadi sekedar cerita-cerita para orang tua kepada anaknya, bahwa pada jaman dulu bangsa kita memiliki banyak khazanah seni dan budaya daerah. Jika ingin mengetahui informasi lebih lanjut, anak-anak ini hanya bisa menontonnya di museum-museum. Atau bahkan harus melancong ke negeri orang, karena pihak asing lebih tertarik terhadap seni tradisi kita. Semoga nasib angklung yang hak patennya diambil negeri jiran tidak terulang kepada alat musik daerah ataupun seni tradisi lainnya.

Komentar»

1. RAN - April 26, 2007

pertamax …😀

jadi inget keur smp. ngiluan karawitan. diajar berbagai alat tradisional.

neng nang neng …. gong ….

@ RAN : jadi gimana, mau ngeband sambil bawa saron juga ? Hehe

2. alief - April 27, 2007

semoga… saya hanya bisa ikut mendoakan saja, karena gak punya keahlian seni tradisional apapun🙂

@ alief : Doa juga sangat penting cak😀. Kalau menurut saya, dengan tetap menjaga bahasa daerah pun sudah termasuk berpartisipasi.

3. Roffi - April 27, 2007

Saya menangis dalam hati.. karena merasa tak mampu mewarisi budaya Sunda terhadap anak saya.. nyarios basa lemes wae meni ararepeu.

Karaos pisan kang ayeuna2, geuning abdi teh teu gaduh saeutik2 acan katiasa dina kasundaan.. kapungkur paling oge ngiringan pencak silat ngan teu diteraskeun.. Lamun panjang yuswa, insya Allah abdi hoyong neraskeun deui minat kana budaya sunda.

mudah2an saja pemerintah daerah senantiasa menjaga dan mendukung budaya khususnya di Jawa Barat ini, sehingga kita generasi penerus tidak melupakan akar budaya kita.

@ Roffi : Sami atuh kang, abdi ge mung tiasa ngemutan urang sarerea ngalangkung postingan ieu weh wungkul. Da upami ngemut kanu katiasa mah ararisin, pararalun teuing. Rumaos kamampuan mung sakitu-kituna. Mugia urang sarerea boh urang Sunda-na atanapi daerah sanesna, kaduh kahoyong nanjeurkeun deui budaya lemah caina.

4. junthit - April 27, 2007

selama seni tersebut ditampilkan dg kemasan yg itu2 saja wajar kalau anak2 sekarang pada bosen ,
mungkin solusinya membuat kemasan yang lebih menarik , sebuah tantangan bagi kita..

@ junthit : betul. Zaman memang telah berubah, dan seni tradisi harus berbenah juga dari sisi kemasan. Saya pikir bagus unsur seni dimodernisasi selama tidak menghilangkan ciri khas atau pun pakem yang ada.

5. ndarualqaz - April 28, 2007

Untunglah di SMA saya masih sangat banyak yang bangga main alat musik tradisional, soalnya di SMA saya dulu ada ekskul teater yang selalu pake alat musik tradisional dan ada ekskul kerawitan.

jika saja diknas (padahal bagus2 dulu depdikbub) memasukkan kurikulu tentang seni tradisional di indonesia pasti banyak generasi muda yang tak canggung main alat musik tradisional

(wah saya jadi inget band dari sma saya yang menang lomba band sampe ke singapura dan jepang gara2 make alat musik tradisional, cuma terkenalnya maah di luar negeri, dikotanya sendiri aja sedikit sekali yang tahu)

@ ndarualqaz : Betul mas, saya setuju. Nampaknya diknas harus segera memasukan seni tradisi ini ke dalam kurikulum, jika tidak ingin generasi kita kehilangan identitas aslinya.

6. Deni Triwardana - April 28, 2007

Gimana Solusinya hayo….?

@ Deni : Mungkin salah satunya bisa saja seperti idenya mas ndarualqaz, yakni dengan memasukkan kurikulum tentang seni tradisional ke dalam pendidikan sekolah, walaupun nampaknya berpotensi juga mendapatkan tentangan dari siswa, karena tidak semuanya senang dengan hal ini.

7. Evy - April 28, 2007

Eh di US malahan anak2 SD diajarin gamelan lho, masak anakku beljar gamelan malahan di US

@ Evy : Ealahh gitu ya bu dokter ? Jangan-jangan kalau kita kurang tanggap, bisa-bisa gamelan juga diakuin milik Paman Sam lagi. Waduuh…

8. deking - April 29, 2007

Alhamdulillah masih ada yang melestarikan seni budaya kita…
Jangan sampai nanti gamelan dkk dipatenkan sama pihak asing

9. komersialiasi seni tradisi « [roffi’s blog] - April 30, 2007

[…] terkait: Terkikisnya Seni Tradisi oleh Indra […]

10. rief - Juni 11, 2007

muhn, abdi ge ngaraos prihatin pisan.

11. Mapag Panganten, Pelestari Seni Tradisi « Indra KH - Agustus 15, 2007

[…] trackback Bulan April silam saya pernah mengungkapkan keprihatinan lewat blog ini, tentang kian terkikisnya seni tradisi. Keprihatinan itu perlahan sedikit terobati seusai menghadiri beberapa undangan resepsi pernikahan […]

12. lia - September 5, 2007

seharusnya seni tradisional diajarkan kepada anak-anak supaya seni tidak punah atau hilang.Thanks

@ lia: tanggungjawab terbesar ada pada pundak setiap orang tua nampaknya, ya

13. jordan - September 9, 2007

kasih profil tentang musik tradisional indonesia n keragamannya…
ochee….

14. satya - November 9, 2007

makasih banyak atas informasi yang diberikan saudara.perkenankan diri saya : saya Satya n sekarang saya kulyah di UGM dan sedang meneliti tentang karangan gamelan atau asal usul gamelan maka saya sangat seneng sekali ketika membaca apa yang saudara lampirkan,ya saya sarankan agar menambahkan perincian gamelan itu dan apa yang terkandung dalam gamelan atau juga asal asal gamelan dari mana aja

15. candra - November 23, 2007

saya mo tanya apa karawitan jawa dah di hak patenin..?!

@ Candra: wah maaf nih masih belum tau tuh tentang hal tersebut. Ada rekan2 yang bisa bantu?

16. agata - November 27, 2007

maaf banget candra saya tak tau pasti udah ato belomnya…

tp ini memang penting buat di hak patenin,,, tar malay ngaku2 lg…

tp saya jg pengen tau kejelasan dah di hakpatenin apa blm

17. imam syafi'i - Desember 30, 2009

perkenalkan saya : Imam, mohon informasinya untuk mendapatkan kontak person kesenian tradisional Sasagon dimana ya ? aku perlu banget nih ? Trimakasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: