jump to navigation

Masih Perlukah Langganan Koran/ Majalah Saat Ini ? Juni 2, 2007

Posted by indra kh in media.
trackback

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah kesempatan perbincangan santai bersama beberapa rekan, salah seorang teman saya Zaki Akhmad melontarkan sebuah pertanyaan yang kurang lebih isinya seperti ini : “kalau zaman sekarang masih banyak enggak, ya orang yang berlangganan koran ?” Mas masih berlangganan koran ?” Lanjut pertanyaan dia. Lalu saya jawab, saya sih masih berlangganan.

koran- courtesy indra kh

Hingga saat ini, saya sedikitnya masih berlangganan 3 jenis media cetak, yakni Harian Umum Pikiran Rakyat, tabloid Nakita, dan majalah Intisari. Mengapa saya memutuskan masih berlangganan koran dan majalah, padahal untuk kebutuhan informasi di zaman seperti sekarang ini bisa mendapatkannya lewat internet ? Ada beberapa alasan tentang hal ini.

Pertama, alasan mengapa saya masih berlangganan koran Pikiran Rakyat adalah karena saya masih membutuhkan berita harian atau informasi yang sifatnya lokal (lingkup Bandung dan sekitarnya). Pasalnya terkadang kita mudah mengetahui informasi yang bersifat nasional maupun global lewat situs-situs berita, atau berita televisi, namun justru kerap ketinggalan dengan berbagai kejadian atau event yang ada di sekitar tempat tinggal kita. Sebagai contoh, informasi tentang pameran komputer, pameran buku, berbagai iklan, dan lain sebagainya.

Memang untuk informasi yang bersifat local news bisa saya dapatkan lewat siaran berita di televisi lokal, semacam TVRI Bandung, Bandung TV, atau STV, namun menurut saya itu sudah terlampau malam. Sedangkan koran Pikiran Rakyat sudah saya terima pada pukul 05.15 WIB setiap harinya, jadi terkadang untuk beberapa informasi kita sudah mengetahuinya lebih dulu.

Sementara itu, alasan mengapa saya memutuskan berlangganan tabloid Nakita tentu mudah ditebak. Sebagai keluarga muda kami membutuhkan banyak informasi tentang batita maupun balita. Dan media ini saya nilai sangat cocok untuk keluarga kami, karena materi yang dibahas kerap membantu kami di saat menghadapi masalah yang belum diketahui solusinya. Misalnya bagaimana mengatasi demam anak, mengatasi anak ketika diare, dan lain sebagainya. Benar, materi serupa dapat mudah ditemui jika kita browsing di internet, namun biasanya bila dalam keadaan panik, solusi lewat internet ini tidaklah praktis. Lebih mudah jika mencarinya di tabloid, karena biasanya tema yang diangkat pada setiap edisi cenderung spesifik.

Sedangkan alasan saya berlangganan Intisari adalah karena hasil tulisan/ liputannya yang bisa dibaca kapan-pun dan memberi inspirasi. Informasinya tidak cepat basi. Konten yang dimuat dalam majalah Intisari tidak bersifat straight news, bahkan sebagaian besar termasuk jenis in depth reporting, feature news maupun artikel feature . Di dalamnya juga banyak tips tentang berbagai hal yang bermanfaat.

Alasan lainnya, yang mungkin aneh tentang mengapa saya memutuskan masih berlangganan koran atau majalah adalah saya sering merasa kurang nyaman jika membaca lama-lama di depan monitor, lebih cepat lelah. Sementara jika membaca buku, koran, majalah dan sejenisnya cenderung bisa bertahan lebih lama.

Jadi, masih perlukah berlangganan koran atau majalah saat ini ? Bagaimana pendapat Anda ?

Komentar»

1. Roffi - Juni 2, 2007

Kayaknya saya ga bisa ninggalin kebiasaan membaca koran/majalah, jadi tetap langganan aja deh.

@ Roffi : Asa teu puguh ari teu ngaos koran teh, nya kang🙂

2. kangguru - Juni 2, 2007

Perlu kali, sebab saya ngak langganan satu pun hehehhe maklum urang kampung, baca koran pun numpang di perpus sekolah hehehhe

@ kangguru : saya mah internet yang numpang di kantor, wak🙂

3. junthit - Juni 3, 2007

Mungkin alasan lain: baca koran bisa sambil duduk, tiduran,tengkurap,miring dll,jdi bisa lebih nyaman..

@junthit : naah itu juga bisa, mas😀

4. Rully - Juni 4, 2007

kemarin siang, saya beli koran PR. cuma perlu iklan rental car aja.😀
/* sampai sekarang, belum dibaca itu koran */

5. zakiakhmad - Juni 4, 2007

Aku juga mau ikutan langganan Nakita ah Mas Indra. Ha..ha…ha… calon ibu-nya aja dimana ya?
Aku hobi baca, tapi aku sendiri gak langganan koran. Di rumah di Jakarta, langganan Kompas. Di kos-an ibu kos langganan PR. Menurutku membaca itu asyiknya diatas kertas. Kalau koran, yang aku baca biasanya cuma judul saja dan berita-berita cepat.
Bagian dari koran yang aku baca adalah (untuk koran kompas ya) opini, dan humaniora. Kompas Minggu aku baca cerpennya.

@ zakiakhmad : gak apa-apa, langganan nakita aja dulu. Di situ kan banyak calon ibu (hanya masih bayi :D), harus sabar menunggu.

6. zakiakhmad - Juni 5, 2007

:))
Gak mau ah mas, nanti terpaut terlalu jauh umurnya.

@ zaki : Hehe, kan laki-laki mah awet muda.

7. roisz - Juni 6, 2007

kalau langganan koran, nanti jatah nabung buat beli rumahnya berkurang dong jek (baca zakiakhmad), hehehe.

8. Rully - Juni 6, 2007

apanya yang awet muda?😀

@ Rully : Yang awet muda korannya

9. mrtajib - Juni 28, 2007

waduh……koran……jtah untuk nak jadi brkurang….

@ mrtajib : wahh iya sih pak😀 ini juga maksa-maksain, daripada ketinggalan info

10. doni - Juli 12, 2007

KALO MENURUT AKU SE….. MASI PERLU. KAN KORAN OR MAJALAH DISA DI BACA SAMBIL BOIL DI WC. ………

11. Nur Wadik - April 22, 2008

Saya juga heran ya, mengapa saya tidak bisa lepas dari media cetak. padahal beritanya (khususnya yang nasional) sama saja. Atau juga kalau udah nonton tinju kemarin Minggu, eh, masih pengen membaca di koran besok harinya mengenai ulasan-ulasan dari arena tinju tersebut. Jadi saya juga heran!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: