jump to navigation

Anda Mudik Kemana? Oktober 22, 2007

Posted by indra kh in Islam, Jalan-jalan, lebaran, ramadhan.
trackback

Mudik adalah sebuah aktivitas unik tahunan di negeri ini. Kendati setiap orang/ keluarga membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk pulang ke kampung, mudik tetap menjadi saat yang dinanti. Kemacetan yang selalu menjadi rutinitas di saat arus mudik ataupun arus balik, ditambah resiko kecelakaan yang tinggi, dan perjalanan yang harus ditempuh berhari-hari bagi sebagian orang tetap tak mampu menggoyahkan niatan para pemudik untuk berkumpul dengan keluarga. Lalu, tahun ini Anda mudik kemana? Punyakah kisah menarik yang bisa dibagi di sini?

mudik_ramai1.jpg

“Salah satu contoh perjalanan mudik yang mengesampingkan resiko (indrakh)”

Sedikit berbagi. Keluarga kami memilih merayakan hari-hari awal Idul Fitri di kota Bandung saja. Pasalnya sebagian besar keluarga dan kerabat berada di kota ini. Kendati dibumbui pengalaman sebuah insiden pada saat shalat Ied, lebaran di Bandung tetap mengasyikkan – bertemu dengan orang-orang yang lama tak bersua, mencicipi aneka kue dan masaan enak, dsb. Hanya saja yang sedikit menjengkelkan adalah kemacetan yang justru kian menjadi-jadi pada hari raya ini. Padahal tahun-tahun sebelumnya kondisi jalanan Bandung akan lenggang di saat lebaran datang. Kemudahan akses dari Jakarta, banyaknya factory outlet dan maraknya tempat wisata di kota kembang ditenggarai menjadi penyebab hal ini. Cerita ini telah saya ceritakan pada tulisan berjudul: “Liburan Hari Raya Lalu Lintas Bandung Tetap Padat” yang dimuat di mycityblogging/bandung.

Perjalanan ke luar kota baru kami lakukan pada hari Minggu (14/10). Itu pun malam hari. Tujuannya adalah Bayongbong, sebuah kota kecamatan yang berada di dataran tinggi Garut. Sudah tiga lebaran saya tidak berkunjung ke sana (seperti lagu bang Thoyib saja, hehe), padahal di sana masih ada saudara dan kerabat.

Pertimbangan memilih melakukan perjalanan pada malam hari adalah untuk menghindari macet di kawasan Rancaekek, Cicalengka, dan Nagrek. Berangkat dari Bandung pukul 20.00 WIB, hingga keluar pintu tol Cileunyi kami masih merasa lega, karena perjalanan lancar. Namun apa daya, setelah masuk kawasan Parakan Muncang laju kendaraan akhirnya harus rela merayap karena terjebak kepadatan yang amat sangat. Kondisi bahkan kian parah setelah pihak kepolisian menerapkan buka tutup untuk daerah Cicalengka dan tanjakan Nagrek. Seluruh pemudik (kecuali bis dan sepeda motor) yang akan menuju Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dst harus melalui jalur alternatif Majalaya – Cijapati – Kadungora.

cijapati1.jpg

“Iring-iringan kendaraan di ruas Majalaya menuju Cijapati (indrakh)”

Rute ini sebenarnya bisa memangkas sedikit waktu perjalanan ketimbang melalui Nagrek. Hanya saja untuk melalui jalur ini Anda harus ekstra sabar, hati-hati dan sedikit sport jantung. Selain jalanan yang rusak sebelum Warunglega (Cikancung), saat sampai di kawasan Cijapati Anda akan disuguhi jalan yang sempit, berkelok-kelok dan memiliki banyak tikungan tajam disertai beberapa tanjakan dan turunan yang curam. Para pengemudi yang melewati ruas Cijapati – Garut dituntut untuk berkonsentrasi penuh bila tidak ingin kendaraannya terperosok ke jurang. Minimnya rambu-rambu dan penerangan jalan juga membuat sulit para pemudik yang memilih melakukan perjalanan malam hari. Apalagi kini kondisinya bertambah sulit karena jalur tersebut harus dilalui oleh iring-iringan kendaraan.

Jalur berbahaya Cijapati terbukti. Saat melewati ruas ini, sedikitnya dua kecelakaan saya lihat. Kecelakaan pertama dialami sebuah minibus yang terperosok ke sebuah kebun, kemungkinan disebabkan rem yang blong. Insiden kedua terjadi saat sebuah sedan terbalik karena tidak mampu menaiki sebuah tanjakan curam. Memang untuk melalui jalur ini kendaraan Anda memang harus sehat. Jika mobil atau motor Anda sedang bermasalah, jangan coba-coba untuk melalui Cijapati.

***

Biasanya untuk mencapai kota Garut hanya membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam. Namun saat itu sudah 4 jam perjalanan kami masih berada di Kadungora, yang menjadi titik akhir ruas Cijapati. Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam, pada pukul 01.00 WIB kami sampai juga di tujuan.

Belajar dari pengalaman saat mudik yang tetap terjebak kemacetan kendati berangkat malam hari, akhirnya saat perjalanan pulang ke Bandung kami memilih berangkat pukul 03.00 WIB. Pilihan ini ternyata jitu, saat itu jalanan relatif masih sepi sehingga kami sudah bisa sampai kembali ke Bandung pada pukul 04.30 WIB.

Nah, bagaimana perjalanan mudik Anda?

Komentar»

1. M Fahmi Aulia - Oktober 22, 2007

oya..adegan di atas TIDAK MESTI acara orang2 mudik..
1. orang yg sedang tamasya
2. orang yg hendak sowan ke rumah saudara
*berbekal cerita dari teman, yg pernah melakukan adegan yg sama seperti di foto…*

oya…untuk perjalanan mudik saya, ada di sini.
*numpang sepam…hihihi..*

@ M Fahmi Aulia: yup bisa jadi memang seperti itu, mas.

2. enggar - Oktober 22, 2007

Kalo saya mudiknya ke Jakarta. Hihihi, itu bukan pulang kampung ya? pulang kota tepatnya. Suka iri deh liat orang lain pulang kampung, pengin juga ikut ngrasain mudik🙂

@ enggar: sebelum ke Jakarta ke daerah mana saja dulu, mbak. Misalnya lewat Nagrek, Malangbong, lalu Wado keluar Sumedang lalu Subang baru ke Jakarta, minimal merasakan suasana cet macetnya, hehe.

3. iffata - Oktober 22, 2007

Tadi Zaki nanya: How’s your journey? Jawabannya singkat: tiresome. Perjalanan Mudik kemaren emang melelahkan.
Sampai di Padang 19.30 malam (14/10/07), tak kebagian lagi travel yg ke Payakumbuh. Jadinya bisa menyusul keluarga yg duluan ke kampung baru keesokan harinya. Dan perjalanan Padang-Payakumbuh yg biasanya cuma 2,5 jam, saat itu memakan waktu … 7 jam! Padahal H+2, tapi arus mudik serta yg menuju wilayah wisata pedesaan membludak.

Meski begitu … sungguh senang sekali bisa 5 hari bersama ibu🙂

@ iffata: tapi jadi tua di jalan, ya fah, lama buanget😀

4. za - Oktober 22, 2007

Wah, pukul 3 pagi berangkat. Ck..ck..ck… Bagiku setiap perjalanan selalu meninggalkan kesan. Dan akan tetap selalu ada, cerita yang tak tertangkap, apabila kita naik kereta.

Mudik, adalah sebuah fenomena tersendiri, untuk Indonesia.

@ ZA: setiap perjalanan selalu mengundang cerita alias jalan-jalan penuh cerita😀

5. andri - Oktober 23, 2007

mudik ku kemarn sempat lihat malioboro yogya, oalah pak, rame banget rata-rata plat mobil B juga D. Sayang kamera digital adkku rusak jdi gk sempat moto je.. sampai aqu balik lagi ke wates kulon progo.. aqu ganti aja naik sepeda ponakan lihat sawah-sawah he..he..juga iring2 an orang mudik dan arus balik dari pake motor-mobil hingga sepur alias kreta.. gtu kisah ku di Ngajogjo karto yo..

@ andri: weleh rame banget ya ndoro🙂

6. kangguru - Oktober 23, 2007

Mudik memang asyik, celaka mah emang takdir hehhehe
BTW mudik ka bandung yeuh

@ kangguru: waah mudik ka tempat macet gening, wa

7. Rully - Oktober 23, 2007

mudik ka Serang.:mrgreen:

@ Rully: ohh Tubagus mudik ka Serang geh

8. uchie - Oktober 26, 2007

abdi mah mudik ka indramayu…..hehehehhe

@ uchie: mana mangga-na😀 ?

9. alif - September 18, 2009

waw , taun ini saya ke garut lewat cijapati (sepertinya) . mudah-mudahan bisa selamet sampe tujuan yaah ?🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: