jump to navigation

Berusaha Hingga Ujung Senja Februari 19, 2008

Posted by indra kh in daily, keluarga, my-life, serbaneka.
trackback

Agak lama juga hiatus yang saya lakukan. Bukan karena tidak ada bahan untuk ngeblog, namun saya mengalami erosi semangat untuk menulis blog. Entah kenapa. Hari ini akhirnya timbul juga rasa kangen untuk bercerita di sini. Walaupun hanya sebuah tulisan ringan saja, namun semoga ada manfaatnya.

***

Entah sudah berapa kali saya berjumpa dengan bapak sepuh sang penjual kerupuk ini. Hampir setiap kunjungan saya ke RM Bebek van Java selalu melihat dia. Meskipun jarang timbul minat untuk membeli dagangannya, namun rasa iba dan rasa kagum melihat usahanya untuk mempertahankan hidup akhirnya selalu menggerakkan saya untuk memutuskan membeli kerupuknya.

“Berusaha hingga ujung senja (indrakh)”

Beberapa tahun lalu, ketika SPBU Cikapayang di bawah jembatan layang Paspati masih berdiri, tepatnya di lokasi yang kini menjadi taman Cikapayang, saya juga sudah sering berjumpa dengan bapak ini. Terutama saat siang hari. Saat itu ia menjajakan kerupuknya ke setiap pengendara sepeda motor maupun mobil yang sedang mengisi bahan bakar di SPBU tersebut.

Sabtu (16/2) kemarin saat makan bersama Yan di sekitar Dipatiukur saya melihatnya lagi. Tak lama seusai saya memesan makanan, sang bapak menghampiri kami dan menawarkan kerupuknya. Satu bungkus kerupuk ikan ia tawarkan seharga 5000 rupiah.

Selain kerupuk ikan, bapak tua ini terkadang menjajakan juga kerupuk kulit. Kalau dalam bahasa sini sering disebut “dorokdok.”

Jika dilihat sepintas, usianya saya perkirakan sekitar 70-an. Badannya sudah ringkih, langkah kakinya sudah melambat, kekuatan penglihatannya mungkin sudah berkurang. Terkadang tak peduli hujan saya lihat dia tetap berjualan dari satu tempat makan ke tempat makan lain di sekitar Jl. Dipatiukur. Bila lelah datang sang bapak tua ini duduk sebentar sambil bersandar ke pagar rumah atau dinding, untuk mengurangi capek dan rasa kantuk yang mulai tiba.

“Duduk bersandar untuk menghilangkan beban hidup walaupun sejenak (indrakh”)

Pertanyaan yang kerap mampir di pikiran saya setiap melihat bapak tua ini adalah apakah sang bapak ini tidak punya anak sehingga mesti turun ke jalan, berdagang untuk mempertahankan hidupnya? Atau mungkin sang bapak ini memang memiliki sikap tidak ingin menambah beban anak-anaknya. Sehingga lebih baik mencari nafkah sendiri, tanpa menggantungkan kebutuhan kepada sanak familinya? Suatu saat ingin juga menanyakan hal ini kepadanya.

Semoga saja orang tua kita, saya maupun Anda tidak akan mengalami nasib seperti bapak ini. Semua orang tentu ingin masa tuanya berada dalam kebahagiaan: sehat, mendapat kenikmatan beribadah, keluarga yang sakinah, dikarunia anak-anak yang shaleh, dan sejuta harapan lain yang menjadi dambaan semua orang jika tiba masa senja.

Pun begitu saya menaruh rasa hormat kepada sang bapak yang satu ini, yang tetap gigih berikhtiar, berusaha hingga ujung senja, untuk mempertahankan hidupnya.

Bagaimana harapan terhadap masa tua Anda?

Komentar»

1. tukangkopi - Februari 19, 2008

ooo…dorokdok itu artinya kerupuk kulit..baru ngeh saya…:mrgreen:

Semua orang tentu ingin masa tuanya berada dalam kebahagiaan: sehat, mendapat kenikmatan beribadah, keluarga yang sakinah, dikarunia anak-anak yang shaleh, dan sejuta harapan lain yang menjadi dambaan semua orang jika tiba masa senja.

Bukan berarti bapak itu tidak bahagia dalam penampakannya yang seperti itu kan Kang?😀

Eh ntar kalo mampir Bebek van Java cari yang punya, namanya Mbek, bilang temennya Yudis, GEA ’01, siapa tau dapet diskon..😆

@ tukangkopi: Setuju, boleh jadi dia memiliki kebahagian dan kebanggan karena di usia senja masih sanggup mencari uang

2. Taryan - Februari 19, 2008

Tapi bagaimanapun juga saiah salut sama si bapa ituh, tidak menyerah pada nasib, tetap berusaha,

“Semoga saja orang tua kita, saya maupun Anda tidak akan mengalami nasib seperti bapak ini. Semua orang tentu ingin masa tuanya berada dalam kebahagiaan: sehat, mendapat kenikmatan beribadah, keluarga yang sakinah, dikarunia anak-anak yang shaleh, dan sejuta harapan lain yang menjadi dambaan semua orang jika tiba masa senja.”

Amiinn..

@ Taryan: suipp🙂

3. enggar - Februari 19, 2008

Kesendirian tidak selalu mencerminkan kesedihan pun keramaian tidak selalu mewakili kebahagiaan. Ukuran bahagia tentu berbeda buat setiap orang, ya kan mas?🙂

@ enggar: betul juga, mbak. Siapa tahu bapak sepuh ini merasa bahagia dengan kondisinya sekarang🙂

4. raddtuww tebbu - Februari 19, 2008

Pun begitu saya menaruh rasa hormat kepada sang bapak yang satu ini, yang tetap gigih berikhtiar, berusaha hingga ujung senja, untuk mempertahankan hidupnya.

saya juga menaruh hormat pada sang bapak yang itu *sambil nunjuk fotonya*,, semangat Pak!!!

@ raddtuww tebbu: suemanggaaatt😀

5. rumahkayubekas - Februari 19, 2008

Saya sering juga ketemu Bapak ini.
Ya salut dengan usaha mencari nafkahnya.
Semoga selalu diberi ni’mat sehat dan bahagia.
Amin amin.

Eh dorokdok ini mah kesukaan saya Kang,
Suka beli tuh kalo diper4an sukarno- hatta,

@ rumahkayubekas: pesen hiji ah dorokdokna, hehe

6. gempur - Februari 19, 2008

Mudah2an, apa yang dilihat pak indra juga saya sebagai penderitaan yang menimpa pak tua penjual krupuk itu justru sebaliknya bagi pak tua tersebut. Mungkin saja pak tua itu justru bahagia dengan tetap beraktifitas.. Semoga.. Amin..

@ gempur: betul mas, kita kan gak tau perasaan sebenernya dari bapak itu. Siapa tahu memang bahagia

7. roisz - Februari 19, 2008

dulu kang,… sekira satu atau dua tahun yang lalu.
ketika saya ‘nangkring’ di sebuah warung pisang keju bakar bertajuk ‘madtari’, saya pernah bertemu bapak ini untuk yang kesekian kalinya.
namun entah kenapa, dan apa yang terjadi, beberapa saat setelah saya bertemu, di tengah jalan, saya berhenti sejenak.
menghapus sedikit genangan air yang menghangatkan pipi ini.
dalam hati bertanya, “akankah bapakku mengalami hal ini, atau diriku kelak?”

wallahu alam, semoga tidak saja.

@tukangkopi & kang indra
terkadang memang kebahagiaan tidak dapat diukur dari sisi penampilan, saya sepakat, namun demikian, tidak haruslah si bapak menjajakan dagangannya hingga larut malam (kadang jam 12an si bapak itu masih ada) mengingat kondisi tubuhnya yang semakin lama semakin lemah. imho.

@ roisz: makana kedah dipeseran upami ningal abah eta ngalangkung🙂

8. peyek - Februari 19, 2008

Hm… memang mas, kadang hati jadi terpuruk ketika melihat seorang yang sudah tua tapi masih saja berjuang untuk mempertahankan hidup yang seringkali dengan hasil yang nggak cukup buat makan barang sehari.

Kadang saya malah mengumpat kepada mereka para manusia rakus yang acap kali nongol tanpa dosa.

Semoga Bapak ini dan manusia lain yang ada di negeri ini yang mengalami nasib yang sama dengan bapak ini, mendapat tempat yang layak, kelak disisi-Nya.

*saya jadi teringat dengan seorang tua renta penjual tape, sering sholat subuh di musholla sebelah rumah sebelum menjajakan dagangannya*

@ peyek: semoga penjual tape yang sudah tua itu pun dimudahkan kebutuhan kehidupannya, aamiin

9. awan - Februari 19, 2008

Ya itulah perjuangan dalam kehidupan, berjuang sampai akhir hayat, beribadah sampai mati, sehingga jiwa dan raga bermanfaat selama hidupnya.

10. kangguru - Februari 20, 2008

beuh dalem kang, kalo cerita tentang hidup
nuhun ah, aya inspirasi kanggo nyerat yeuh

@ kangguru: sami-sami, wak🙂

11. Yari NK - Februari 20, 2008

Iya nih Pak Indra, saya juga entah kenapa, lagi erosi menulis juga. Seharusnya memang orang harus tetap semangat ya, termasuk dalam hal menulis juga, seperti bapak tua yang gigih di atas, berusaha hingga ujung senja……..

@ Yari: yoi pak, sempat berada di titik jenuh nih sejak beberapa pekan yang lalu, kalau punya tipsnya bagi-bagi, ya

12. Rayyan Sugangga - Februari 20, 2008

Kalau saya sering bertemu Bapak ini di Sop Kaki di depan RM Bebek Paris van Java.
Iya salut sekali sama perjuangan bapak ini, sangat ikhlas dan jujur dalam mencari penghasilan.

@ Rayyan: ternyata banyak juga yang pernah melihat bapak ini

13. realylife - Februari 20, 2008

hidup emang berat , tapi lantas kita ngga begitu saja menyerah khan ?
justru saya rasa karena dia mensyukuri nikmat sehat yang diberikan oleh Tuhan
jadi ingin mengundang untuk baca tulisan ini
makasih
http://realylife.wordpress.com/2008/02/20/ibu-koe/

14. Mardies - Februari 20, 2008

Ah, hati saya sering trenyuh jika melihat pemandangan lansia bekerja. BTW, saya juga punya postingan tentang lansia

@ Mardies: Trims sudah berkunjung. Segera meluncur ke lokasi🙂

15. roffi - Februari 21, 2008

Saya juga sering ketemu di deket jembatan layang. Ntar saya beli deh kerupuknya, kasian juga si abah

@ Roffi: muhun kang peseran sing seueur, bagikeun di Unpad😀

16. ipans - Februari 21, 2008

idem sama rayyan,

si bapak ini sering menjajakan kerupuknya di Sop KAKI depan BCA, dekat bebek van java. saya sering trenyuh kalau ada bapak tuwa ini atau anak kecil yang menjajakan koran. menjawab tantangan hidup dengan usaha yang gigih bukan dengan menjual diri seperti pengemis jalanan yang jelas-jelas terkoordinir atau pengamen mahasiswa atau tukang parkir yang tidak jelas.

@ ipans: nambah lagi yang kenal dengan sang bapak🙂

17. andri - Februari 21, 2008

“kalo bapak sepuh ini- aqu belum pernah lihat pak-sebab aqu jarang makan-makan di situ..he..he.. aqu mah jadi ingat simbahku- yang lebih tua pak- beliau juga dh 80 th an masih kerja – sebagai tukang cukur.. padahal dh sepi sekarang tamunya” karena menurutnya jika dh usia senja itu lebih enak jika ada aktifitas yang dikerjakan” apalagi kalo ada tamu beliau selalu ngedongeng kisah hidupnya ato nanya tamunya..kayak reporter infotainment itu lho pak..he..he” obrolan itu justru menghibur hatinya… “moga abah penjual krupuk itu aqu doakan selalu gembira juga hatinya” ya pak…

@ andri: salut dengan simbah, pak. Salam hormat buat beliau🙂

18. za - Februari 21, 2008

Kalau aku sering lihat bapak yang lain, Aa Indra. Persisnya di daerah Simpang Dago. Sama berjualan, kripik. Ya, inilah warna kehidupan.

Masa tua? Belum terbayang. Satu yang pasti, ingin selalu bahagia🙂

@ za: boleh tuh za sekali-kali dibahas di blog

19. kutamaneuh - Februari 26, 2008

Mencari nafkah bagi keluarga teh wajib, jadi bapak itu lagi menunaikan kewajibannya. Kadang kalo berfikir lebih dalam lagi, mungkin lagi Ber-Jihad bagi kelurganya ?

20. topo - Januari 12, 2010

bpk ini punya anak ga ak merasa iba


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: