jump to navigation

Tagog Apu, Bertahan di Tengah Eksploitasi Mei 6, 2008

Posted by indra kh in Bandung, Environment, Jalan-jalan, lingkungan, serbaneka, topics, travel and places.
trackback

Masih ingat dengan rute klasik Bandung – Jakarta melewati Padalarang, Puncak hingga Ciawi? Bagi Anda yang pernah menempuh rute tersebut mungkin belum lupa dengan panorama deretan bukit karst di sekitar Citatah Rajamandala. Perbukitan batu gamping peninggalan sekitar 20 juta tahun yang lalu itu masih menyisakan pemandangan yang menakjubkan setiap kita lewati. Pun begitu yang saya rasakan ketika melewati kawasan tersebut beberapa pekan lalu.

“Panorama salah satu bukit gamping di Citatah Rajamandala (indrakh)”

Dulu saya merasa aneh tentang kawasan ini, mengapa di daratan yang jauh dari lautan bisa ditemukan fosil koral dan terumbu karang? Apakah dulunya daerah ini memang berada di bawah permukaan laut. Ternyata setelah saya menelusuri berbagai literatur tentang geologi Bandung diketahui bahwa sekitar 30 – 20 juta tahun yang lalu daerah Bandung ke utara merupakan laut. Daratan utamanya sendiri adalah daerah sekitar gunung api di daerah sekitar pegunungan selatan Jawa Barat sekarang. Sekitar Gunung Patuha hingga Papandayan mungkin, ya?

Perbukitan karst sepanjang kurang lebih 18 km itu sebenarnya terdiri dari banyak bukit kapur dengan nama-nama yang unik, seperti Tagog Apu, Pasir Pawon, Gunung Hawu, Sanghiang Tikoro, dll. Namun entah mengapa orang lebih mengenal daerah tersebut sebagai Tagog Apu. Pada saat pertamakali melintasi perbukitan itu lebih dari dua dekade lampau, saya pun diberitahu orang tua bahwa nama perbukitan tersebut adalah Tagog Apu.

“Eksploitasi bukit karst untuk kebutuhan industri (indrakh)”

Hanya saja saya melihat ada perbedaan kondisi setiap ada kesempatan melintasi kawasan tersebut. Kian lama sepertinya deretan perbukitan batu gamping yang saya lihat semakin berkurang. Tidak utuh lagi. Penggalian dan penambangan yang terjadi selama bertahun-tahun mungkin salah satu penyebabnya. Pada kasus ini kembali potensi ekonomi menjadi lebih penting ketimbang konservasi. Betapa tidak potensi batu gamping untuk kebutuhan pembuatan semen, lantai marmer, kapur tohor, cat hingga industri kosmetik menjadi peluang yang sangat menggiurkan bagi penduduk sekitar maupun pengusaha pendatang.

Padahal perbukitan tersebut konon masih menyimpan banyak peninggalan geomorfologis, geologis bahkan arkeologis yang belum tereksplorasi. Sungguh disayangkan jika misteri ilmu yang terkandung di dalamnya harus lenyap karena perbukitan batu gamping Tagog Apu dan sekitarnya hilang digerogoti kerakusan manusia. Kini kalaupun ada yang masih utuh, bukit-bukit itu konon tidak memiliki kandungan batu gamping yang baik untuk industri.

“Salah satu pabrik kapur di Citatah Rajamandala (indrakh)”

Selain hilangnya berbagai potensi temuan ilmu pengetahuan, ternyata eskploitasi terus menerus terhadap perbukitan kapur di Citatah Rajamandala memunculkan potensi bencana yang tidak kita sadari. Dalam buku ekspedisi Geografi Bakorsutanal tahun 2006 saya membaca bahwa lapisan gamping di bukit Citatah – Rajamandala – Sukabumi itu berada di atas formasi batu asih (batu lempung) yang bersifat pecah-pecah dan mudah lapuk. Jika lapisan gampingnya terus dieksloitasi sehingga hanya menyisakan batu lempung maka kawasan tersebut akan menjadi rawan longsor dan rawan pergerakan tanah, yang pada akhirnya turut mengancam sumber air tanah dan mata air yang ada di sekitarnya.

Semoga saja pihak berwenang segera menyadari bahwa perbukitan karst di Citatah Rajamandala hingga Saguling harus dilindungi sehingga potensi bencana bisa dihindari. Tapi jika eksloitasi tetap dibiarkan terjadi terus menerus, entah sampai kapan Tagog Apu dan sekitarnya bisa bertahan?

Komentar»

1. Harjo - Mei 6, 2008

Informasi yang menarik mas, kalau benar di sana ada banyak fosil coral, terumbu karang. Artinya, kawasan ini (bahkan dunia, menurut saya) ini dulunya memang benar-benar pernah tertutup oleh lautan. Jadi, kisah tentang jaman Nabi Nuh ada benarnya. Setuju enggak?

@ Harjo: setujuuuuu, mas😀

2. oRiDo - Mei 6, 2008

jd inget jaman kuliah dulu..
bandung..bandung…

jadi inget kuliah lapangan di karangsambung dulu..😉

@ oRiDo: ka Bandung lagi, kang.

3. syahrizal pulungan - Mei 6, 2008

kita berdoa semoga tidak terjadi bencana dan semoga pemerintah dapat menyikapinya

@ syahrizal: amin

4. edratna - Mei 6, 2008

Sebelum merantau ke Jawa Barat, saya sudah membaca karya sastra karangan Abdul Muis …yang menceritakan percintaan seorang gadis berasal dari Tagogapu dengan pemuda bangsawan Sunda yang kuliah di Stovia. Jadi, asal ke Bandung saya membayangkan perjalanan Ratna naik kereta api dari Tagogapu, berhenti di stasiun Padalarang (yang membuat dia ketemu pangerannya), sampai turun di stasiun Bandung.

Disitu dijelaskan pula keindahan alam wilayah Tagogapu.

Cerita di atas perlu diinformasikan untuk mengetuk hati para pimpinannya, lagipula kan mumpung Jabar punya Gubernur baru, yang tentunya lagi semangat bekerja untuk membangun Jabar dan melindungi lingkungannya.

@ edratna: wah saya jadi pengen baca bukunya. Trims bu.

5. gajahkurus - Mei 6, 2008

Tagog Apu, nama ini saya kenal dari Bapak saya dulu, dulu… sekali jaman masih SD🙂 Bapak saya sering berucap begini: “Ah silaing mah, tagog apu” hehehe. Sampai hari ini saya nggak tahu apa maknanya ungkapan itu.
Barangkali Pak Indra tahu?

@ Tagogapu: Tagog itu mungkin dari nagog alias nangkring (diam), apu itu kapur. Jadi tagogapu artinya tempat berdiamnya kapur alias pegunungan kapur. Abdi ngarang pisan nya kang:mrgreen:

6. peyek - Mei 6, 2008

Daerah tempat tinggal saya juga merupakan daerah pegunungan kapur mas, wah kalo dulu pabrik semen itu masih beroperasi, debunya minta ampun, tapi beda Gresik beda Bandung, kalo Bandung masih dingin, lah Gresik… waduh bisa dehidrasi akut!

@ peyek: oh gitu, kasihan anak-anak ya cak, resiko kena ispa-nya di daerah semacam itu juga relatif tinggi sepertinya

7. Okta Sihotang - Mei 6, 2008

wah..okta lom pernah lewat sana tuh, so no ilustration of it
wacaooo😉

@ Okta: moga-moga bisa kebawa jalan-jalan ke tempat ini via mimpi, ya bang😀

8. roisz - Mei 6, 2008

Sudah lama roisz trans tidak mengambil jalan itu, mungkin suatu saat harus melewati rute tersebut.

@ roisz: kalau rutenya lewat situ lagi, ajak-ajak, mang😀

9. natazya - Mei 6, 2008

nda pernah kesitu situ….

baru denger

heuheuheuhuehueh

@ natazya: weleh, nona nata masak urang bandung belum pernah lewat ke situh, hehe. Temu blogger sekali2 harus ngadain di tagogapu saja, ya😀

10. Yari NK - Mei 6, 2008

Yang namanya manusia baru akan tersadar jikalau sudah mendapatkan bencana dari “kebodohan” yang sudah dilakukannya……..

Btw…. memang sejak ada jalan tol Cipularang saya kalau ke Jakarta sudah dibilang tidak pernah lagi lewat rute Puncak padahal sayang ya melewati pemandangan yang sebenarnya cukup indah itu……….

@ Yari NK: Kalau bencana sudah terjadi baru sibuk 😦

11. Sawali Tuhusetya - Mei 7, 2008

Semoga saja pihak berwenang segera menyadari bahwa perbukitan karst di Citatah Rajamandala hingga Saguling harus dilindungi sehingga potensi bencana bisa dihindari. Tapi jika eksloitasi tetap dibiarkan terjadi terus menerus, entah sampai kapan Tagog Apu dan sekitarnya bisa bertahan?

sepakat banget, mas indra. mestinya pihak yang berwenang, dalam hal ini pemda, jangan gampang terpengaruh oleh bujuk raya para pemilik modal yang ingin melakukan eksploitasi alam utk mengeruk keuntungan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lignkungan.

@ Sawali: padahal setahun pemerintah konon hanya mendapat bagian sekitar 300 juta saja lho, pak. Tak sebanding dengan impaknya.

12. Cm4nk - Mei 7, 2008

Semua yg seperti ini jadi dilema Kang…kalo misalnya industri semen,pengolahan batu gamping dll ditutup,toh bakal ada eksploitasi lagi di tempat lain.. n kalo ditutup total,bakal ada berapa puluh-berapa ratus orang lagi yg kehilangan pekerjaan?? CMIIW..

Cm4nk: dilematis memang. Tapi kalau tidak segera dikonservasi, mengerikan juga.

13. hevi.fauzan - Mei 8, 2008

Sayang pihak berwenang-nya lebih mengutamakan keuntungan dari sektor industri dari pada dari sektor sejrah dan pariwisata.

@ Hevi: Kumaha Persib yeuh? hehe

14. Rayyan Sugangga - Mei 8, 2008

Ini rute saya kalau pulang ke Bogor (bis & travel). Saya baru tahu kalau dulu daerah gunung kapur rajamandala merupakan lautan.

Betul mas, pasti masih menyimpan fosil & benda-benda arkeologi lainnya. Dan memang juga, suka serem kalau melihat kondisi gunung kapur yang semakin rusak.

@ Rayyan: kalau kawasan Tubagus dulunya apa, ya? Masih termasuk danau bandung purba sepertinya

15. tukangkopi - Mei 9, 2008

wah, udah pantes jadi dosen geomorfologi ini, Kang. hehe.. tapi bener juga, kalo terus menerus dieksploitasi secara membabi buta kasian ntar adik2 kelas saya di geologi. nggak ada tempat buat ekskursi batu gamping yang deket lagi. secara kita dulu tempat ekskursi favorit adalah di padalarang situ karena lokasinya yang gampang dicapai..😀

@ tukang kopi: hayoo sebagai senior harus bertanggungjawab:mrgreen:

16. JUMADI - Mei 9, 2008

Maaf saya numpang ngasih informasi, mau over kredit rumah.

http://www.rumahbekas.com/index.php?go=detail&id=3581

terima kasih

17. andri - Mei 12, 2008

“tagog apu, aqu malah baru tahu sekarang pak, kisahe aqu kira, hanya batu biasa, yang kena keajaiban ato kutukan kayak kisah22 tangkuban perahu, he..22 siip artikel ini aqu jadi tahu sejarah geologinya, … bapak ke sana jalan2 juga ya..??”

18. Rini - Juni 28, 2008

Kebetulan tiap aku pegi k rumah nenek aku di cikalong, otmatis aku ngeewatin tagog apu, dari semenjak aku kecil, kondisi tagog apu emang terus terus berubah, sekarang sih udah ga jelas banget bentuknya, sedih bangt kalo liatnya… banyak truk truk yang lagi ngerukin gunung..

budi santoso - Juni 9, 2009

Aparatnya buta ………………………………..ketutup Rp

19. Begy - Juli 21, 2008

halo mas salam kenal.. saya mau minta izin ngopi foto2 di tagog apu nih… saya mau KKN disana mulai besok… terima kasih…

budi santoso - Juni 9, 2009

MAMPIR KE RUMAHKU

20. avel - Desember 27, 2008

emmhh.. boleh inta info nama perusahaan penambangan gamping di padalarang??
untuk tujuan KKL geologi undip..
trims

21. budi santoso - Juni 9, 2009

ak sangat skesal melihat penambang liar yang nggak tau diri

22. budi santoso - Juni 9, 2009

TAGOG APUKU SAYANG TAGOG APUKU MALANG

23. Cheria - Desember 9, 2009

Jelasin donk tentang pedang di tagog apu

24. m. taqi haidari - Januari 24, 2010

di tahun 70-80an bukit citatah sering jadi latihan panjang tebing anak2 wanadri, tapi ketika saya balik lewah kelokan citatah-tagog apu, terheran-heran juga, rupanya gunung kapur yang dipakai ‘gagantelan’ wanadri itu hampir rata dari pandangan di atas jalan dr cianjur ke bandung, keindahan itu terasa hilang.
tp kumahanya amun abdi peryogi kana kapurna, kanggo reklamasi tambang?

25. bahrum salya - Februari 19, 2012

Tagogapu..Tempat yang indah dengan segala kekayaan alamnya,tapi banyak orang yang belum tahu.Tank’s buat profilnya.Sekedar info Tagogapu adalah sebuah kawasan pedesaan yang berada dijalan raya Purwakarta


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: