jump to navigation

Minimnya Tontonan Anak Bermuatan Pendidikan Juni 20, 2008

Posted by indra kh in family, film, hidup, keluarga, my-life, serbaneka, topics.
Tags: , ,
trackback

Anak adalah amanah. Anak adalah mutiara keluarga. Para orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik dalam segala hal untuk anaknya. Mulai kasih sayang, perhatian, makanan, pendidikan, termasuk tontonan mereka. Nah masalahnya ternyata tak mudah mendapatkan tontonan yang bisa menjadi tuntunan untuk anak. Jika Anda memilih televisi sebagai andalan, siap-siaplah untuk kecewa. Kotak ajaib itu cenderung lebih menggiring para bocah untuk menjadi lebih konsumtif, dan mungkin hedonis maupun permisif di masa depannya.

“Alternatif tontonan untuk anak (indrakh)”

Maraknya televisi swasta sekitar tahun 90-an ternyata tidak serta merta membuat tontonan anak yang mendidik menjadi banyak pilihan. Sepertinya kuantitas tayangan bermuatan pendidikan masih lebih lumayan ketika negeri ini baru memiliki satu stasiun televisi, TVRI. Si Unyil, Gemar Menggambar bersama Pak Tino Sidin, Cepat Tepat dan Cerdas Cermat, Ayo Menyanyi, Taman Indria bersama Pak Kasur dan Bu Kasur adalah beberapa tayangan yang bisa menjadi tuntunan pada masa itu.

Tapi kini tayangan seperti tersebut di atas bisa dihitung dengan jari. Menurut pengamatan saya hanya Si Bolang yang layak masuk nominasi. Yang lainnya kendati memiliki kemasan tontonan bocah namun sebenarnya konten yang disajikan tidak mencerminkan tontonan anak-anak. Sebagai contoh kontes lagu anak-anak yang ada di beberapa televisi. Namanya saja yang membawa embel-embel anak-anak, tapi lagu yang dinyanyikan adalah lagu remaja dan dewasa. Sinetron-sinetron ataupun film kartun untuk anak yang ada saat ini juga menurut saya masih belum cocok untuk konsumsi para bocah.

Lalu bagaimana menyiasatinya. Ada beberapa hal tentu yang bisa dilakukan. Mungkin ada yang memilih berlangganan channel anak-anak via tv kabel, atau mungkin ada yang memilih tidak mengijinkan sama sekali anak-anak untuk menonton namun mengalihkannya kepada membaca buku. Anda sendiri boleh jadi punya cara masing-masing yang nanti bisa sharing di sini.

Saya sendiri untuk saat ini lebih memilih memberikan tontonan serial-serial tentang flora, fauna dan segala hal yang berkaitan dengan alam dan pengenalan kehidupan, seperti yang disuguhkan rumah produksi first impression, brainy baby, baby Einstein, Edu Talk Qurani, Rumah Qur’ani, dll. Berdasarkan pengalaman, video-video tersebut cukup efektif sebagai sarana pengenalan sesuatu untuk batita. Misalnya mengenalkan suara, warna, beraneka jenis satwa, makanan, dll. Selain itu ada beberapa serial dalam negeri yang memiliki muatan religi yang bagus.

Tayangan lainnya yang lebih ilmiah adalah serial keluaran BBC. Beraneka topik film dokumenter yang pernah diputar di BBC juga sangat menarik untuk ditonton. Dari mulai tema sederhana , penelitian ilmiah yang dikemas dalam bahasa yang mudah dicerna hingga dunia antariksa ada di sana. Mungkin ini juga bisa jadi pilihan.

Nah Anda punya pengalaman lain atau ingin urun pendapat, silahkan berbagi di sini.

Komentar»

1. chatoer - Juni 20, 2008

Si unyil, tontonan paporit waktu kecil kang. legend banget gak ada yang mampu nyaingin

2. bayuhebat - Juni 20, 2008

bingung juga.!! mau ngembanginnya juga gak ada ide😀
saran dah hanya saran saja. kalau para produser bisa ‘bajak’ (bahasa alusnya mengindonesiakan) film yang aneh – aneh kenapa gak ‘bajak’ juga film anak – anaknya sekalian?

3. peyek - Juni 20, 2008

memang, akan semakin sulit mendidik anak, karena itu ada yang bilang “tak hanya anak yang butuh pendidikan, orang tuapun harus mendapat pendidikan bagaimana mendidik anak yang baik”, ini kata orang loh kang!🙂

4. namakuananda - Juni 20, 2008

Brainy Baby. Siip juga
Harun Yahya juga bagus lho mas,
ato CD gratis dari produk susu.
untuk tontonan TV, kita harus mendampingi mereka sekalian bisa sharing dan menjadi teman untuk anak kita sendiri.

salam

5. adit-nya niez - Juni 21, 2008

Si unyil sama jalan sesame “sesame street”…😀

6. Donny Reza - Juni 22, 2008

Saya juga suka si Bolang. Suka iri pada mereka yang masih bisa menikmati suasana yang serba natural🙂 TV kita emang menyebalkan …

7. roisz - Juni 23, 2008

mungkin juga karena banyaknya layanan atau tontonan anak-anak yang kurang diminati oleh para pengiklan.

atau juga mungkin karena kurangnya kreativitas (rasanya kalau yang ini tidak mungkin) dari para produser untuk menciptakan terobosan.

bisa jadi, karena tidak ada regenerasi yang lancar antara generasi yang satu dengan generasi yang lain.

bahkan, yang muncul sekarang artis pun sudah menginjak remaja, sebut saja geofanny, saski, sherina, dan lain sebagainya.

komnas anak mungkin bisa memberikan masukan bagi para stasiun televisi

8. sambalewa - Juni 24, 2008

mungkin kurang ketertarikan dari sineas untuk buat film anak.

9. Arema - Juni 24, 2008

Memang tujuan mayoritas adalah komersil, malah sekarang tontonanya serba acara mencari bintang mulu..cpd.. nonton spacetoon aja

10. uwiuw - Juni 25, 2008

Anak adalah amanah.” kalau saja sy bener bener mengeti kalimat ini, mungkin kita jadi bisa diskusi namun sayangnya tidak. jadi cuma bisa baca saja🙂

11. Rayyan Sugangga - Juni 25, 2008

Mungkin karena itu ada yang lebih memilih tidak memiliki televisi di rumah. Lebih baik berlangganan TV Kabel ( Discovery. Animal Planet, National Geographic, dll) daripada harus menonton siaran televisi lokal.

12. Sawali Tuhusetya - Juni 25, 2008

itulah repotnya kalau TV sdh menjadi bagian dari industri, mereka hanya mengejar profit, sedangkan tayangan2 edukatif yang dianggap tdk mampu mengundang banyak iklan beramai2 mereka tinggalkan. bisa jadi media seperti itulah yang ikut memicu maraknya budaya kekerasan di kalangan anak2, pak, haks:mrgreen:

13. Yari NK - Juni 26, 2008

Sebenarnya kartun biasapun dapat menjadi tontonan pendidikan bagi anak2. Asal…. tentu didampingi oleh orang tua. Masalahnya banyak orang tua yang nggak peduli kalau anak2nya tengah menonton film kartun (atau ada juga yang tidak mengerti dan kurang kreatif). Misalnya film “Tom and Jerry”, sepintas tidak ada pendidikannya, namun kalau kita dampingi dapat juga menuai pendidikan dari film terebut. Misalnya kita ceritakan kalau kucing dan tikus itu bermusuhan karena kucing itu pemakan daging dan karnivora. Terus kita ceritakan juga bahwa berantem antara Tom and Jerry itu tidak baik…. lebih baik kita hidup bersama dengan damai dan lain-lain….. Yah andaikan si anak menonton tontonan yang “tidak sesuai” maka peran orang tuanyalah yang dapat mendidik anak terebut pada saat si anak menonton….. setidaknya seperti itu….🙂

14. andri - Juni 26, 2008

“Betul pak, kalo anak-anak fim nya, memang harus yang lebih mendidik. Masalahnya gimana bagi yang belum punya anak,… ya….

15. edratna - Juni 26, 2008

Karena kami keduanya bekerja di luar rumah, sejak umur 3-4 tahun saya sudah mengajarkan anak membaca dari buku gambar, dengan jalan cerita/mendongeng berdasar buku tsb….si mbak yang momong juga dilatih mendongeng. Kemudian anak saya umur 2,5 tahun udah masuk TK kecil, jadi udah ada tugas menggambar. Sepulang ibu dirumah, dia menunjukkan gambarnya dan ibu mendongeng…dan mereka lebih suka melihat TV bersama ibu, karena nanti bisa diskusi atau mengobrol hasil film yang ditonton. Setelah umur 4 tahun, anak saya udah bisa membaca buku….jadi mulai asyik membaca bukunya, bahkan kalau bermain dengan anak tetangga dia membawa buku gambar…dan mendongengi teman-temannya.

Hari Sabtu adalah latihan/kursus piano, pulangnya mampir ke toko buku, makan, nonton film kalau ada film anak-anak. Juga saat SD, pagi sekolah dan sorenya mengaji…dan ini berlangsung sampai kelas V. Mereka sibuk, tapi kesibukan itu sudah dibahas sebelumnya dan sesuai keinginan anak-anak. Sepulang ngaji, dia bermain di sepanjang jalan, mengumpulkan hal-hal yang menarik sepanjang jalan, sedang mbak yang momong memonitor dibelakangnya.

Jadi yang penting harus pandai menyiasati….agar anak bersama ortu bisa memilih hal yang menarik.

16. Ardianto - Juni 26, 2008

Saya suka acara semacam Si Bolang, Si Unyil, atau Surat Sahabat. Benar-benar menampilkan alam dan budaya Indonesia.

17. Idebisnisusaha - Juni 29, 2008

anak saya malah suka nonton ultraman.. ya saya biarkan saja, namanya juga anak cowok hehehe

18. hanggadamai - Juli 1, 2008

TV bagi pendidikan anak2 memang sangat berperan. Tapi heran juga ya, sangat sedikit program televisi (apalagi) di indonesia yg mendidik..

19. mar - Juli 4, 2008

ngintip resepnya budheku, mas… tidak perlu berlangganan tv kabel. dia hanya memprogram tvnya sedemikian rupa sehingga hanya stasiun tv tertentu saja yang bisa nongol. stasiun tv yang “merusak” dieliminasi.

20. Kang Nur - Juli 8, 2008

saya nilai serial “Bocah Petualang” di salah satu stasiun TV itu termasuk program yg bagus

21. gajahkurus - Juli 12, 2008

Karena minimnya tontonan anak yang diharapkan bisa menjadi tuntunan bagi anak-anak, saya ambil keputusan ekstrim memensiunkan TV. Betul pada awalnya anak-anak protes, berontak, dan berusaha menonton di rumah tetangga. Tetapi setelah diberikan alternatif lain untuk mengisi waktu mereka, lama kelamaan mereka biasa mengisi harinya tanpa TV. Alhamdulillah…

22. natazya - Agustus 29, 2008

emang kasian ama anak kecil jaman sekarang… ah… tontonan ga ada yang mendidik… ni ajah mao bulan puasa acaranya live interactive smua dan kontennya komedi ga penting… jaman dulu mah mending ada kisah para nabi! hmmmm… ah… itulah gunanya ada banyak buku di dunia… gantinya tv😀

23. apiqquantum - Agustus 29, 2008

ikutan bingung juga aku nih…
ingin bikin acara tv yang bagus tapi…gimana caranya?
ide sih aku banyak. just idea!

Salah satunya mengenalkan matematika kepada anak usia dini dengan cara yang fun gitu.

24. debrajoem - September 18, 2008

sebagai orang tua, kita harus selalu waspada dgn mainan, tontonan dan hal2 lain yg membahayakan keturunan kita, sebagai orang tua tentu kita juga harus banyak belajar tentang banyak hal…sehingga dapat dgn mudah membingbing anak.
thanks

25. agung - Januari 10, 2009

assalamualaikum
kapan di garut ada tv lokal yach…..

26. Pengaruh Televisi Terhadap Konsentrasi Anak | Indra KH - April 18, 2012

[…] Oleh karena itu saya sempat mencoba alternatif lain yakni dengan menyediakan sejumlah tontonan anak yang dikemas dalam format DVD, dengan harapan dia tidak hanya melihat sekadar tontonan namun juga […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: