jump to navigation

“Derenten,” Bertahan di Tengah Kepungan Gedung dan Permukiman Oktober 24, 2009

Posted by indra kh in Environment, Jalan-jalan, keluarga, lingkungan.
Tags: , , ,
trackback

Meneer Hoogland dan para aktivis Bandungse Zoological Park yang hidup pada tahun 1930-an mungkin tidak pernah mengira jika taman botani di sekitar Huygensweg (Tamansari) yang mereka pilih untuk Kebun Binatang Bandung akan bernasib seperti sekarang, terkepung oleh banyak bangunan. Salah satu hutan kota yang masih tersisa dan salah satu tempat rekreasi murah bagi warga kota kembang ini entah sampai kapan bisa bertahan dari desakan permukiman, perkantoran dan tempat usaha.

"Beberapa pengunjung di Kebun Binatang Bandung (dok/ikh)"

"Beberapa pengunjung di Kebun Binatang Bandung (dok/ikh)"

Sekedar informasi orang Sunda tempo dulu menyebut kebun binatang ini dengan istilah “Derenten,” yang diambil dari Bahasa Belanda Derentuin yang artinya kebun binatang.

Lebih dua dasawarsa lalu masih teringat dalam benak saya, tempat perlindungan satwa seluas 14 hektar ini masih sangat asri. Pepohonan tidak hanya tumbuh di areal kebun binatang namun juga di luar lokasi, sehingga udaranya masih segar dan sangat cocok untuk rekreasi keluarga. Aktivitas “botram” atau makan bersama di bawah pohon-pohon yang rindang sambil melepas lelah usai berkeliling melihat aneka satwa benar-benar mengasyikkan.

Saat itu jika memandang ke arah Barat belum banyak bangunan di sana. Yang jelas terlihat seingat saya baru gedung BATAN di sebelah timur. Namun kini ketika mengunjunginya lagi bersama anak saya kondisinya sungguh sangat berbeda. Atap rumah penduduk menjadi sangat mendominasi. Di sebelah Barat, bukan lagi hijaunya pohon yang tampak, namun gedung tinggi yang jelas terlihat. Di lokasi bekas pabrik daging yang bernama PT Mantrus itu beberapa tahun lalu sudah berdiri salah satu super mal kesohor di kota Bandung, yakni Ciwalk atau Cihampelas Walk.

"Kandang orangutan yang letaknya tak jauh dari bangunan instansi (dok/ikh)"

"Kandang orangutan yang letaknya tak jauh dari bangunan instansi (dok/ikh)"

Terkepung diantara banyak bangunan tentunya bukan hal yang mudah bagi pengelola Kebun Binatang Bandung untuk bisa memelihara indeks kesejahteraan satwa atau animal welfare. Terbatasnya lahan akan menyulitkan pengelola dalam memberikan kandang yang layak dan sesuai standar internasional bagi sekitar 1200 ekor satwa penghuni kebun binatang. Belum lagi ancaman polusi udara kota Bandung yang kian mengkhawatirkan, dan masalah klasik yakni kebutuhan dana yang tidak sedikit.

Bahkan seperti dilansir harian Kompas (28/9/08), jika pihak pengelola tidak bisa memenuhi standar animal welfare hingga 3 tahun ke depan, maka kebun binatang kebanggaan warga Bandung ini terancam akan ditutup. Hal tersebut terungkap usai kebun binatang tersebut diaudit oleh Perhimpunan Kebun Binatang Asia Tenggara (South East Asia Zoo Association) pada tahun 2008.

Sejumlah langkah perbaikan saya lihat sedang dilakukan. Beberapa kandang yang sudah tidak layak ditempati sudah dipindahkan ke tempat yang lain. Namun apakah hal tersebut bisa menyelamatkan nasib Kebun Binatang Bandung? Entahlah kita tunggu hingga 3 tahun ke depan.

Beberapa waktu lalu saya juga pernah membaca sejumlah kabar di media tentang adanya usulan pemindahan “Derenten” ini. Diantaranya ke Jatinangor, Sumedang dan ke Cikole, Lembang. Namun hingga saat ini belum jelas keputusan akhirnya. Yang pasti sebagai orang Bandung saya berharap, andaikan Kebun Binatang Bandung ini jadi dipindah maka jangan sampai areal terbuka hijau di Tamansari ini berubah fungsi menjadi pusat bisnis, mal, ataupun areal permukiman. Tetap saja pertahankan sebagai hutan kota. Karena sungguh ironis, hijaunya Bandung saat ini hanya tampak pada pawai-pawai bunga saja, sedangkan kenyataannya ruang terbuka hijau semakin terdesak. Jika tidak percaya silahkan Anda tengok saja kawasan Ciumbuleuit, Cijengkol, Punclut, Dago, Cigadung saat ini. Alih fungsi lahan di sana sungguh memprihatinkan.

Komentar»

1. adjie - Oktober 24, 2009

Salah satu realitas berbenturannya antara 2 kepentingan, yang satu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sementara yang satu lagi keindahan kota dan penyediaan fasilitas publik. Keduanya punya dua sisi mata uang tinggal kita dan pemerintah yang memprioritaskan yang mana.
Cuma satu yang kalau boleh yang ingin saya sampaikan, Bandung selain terkenal dengan ekonomi kreatifnya. ia juga terkenal akan alamnya yang asri dan suasana yang sejuk. Hal ini yang pada akhirnya orang beramai-ramai datang untuk sekedar nongkrong, minum secangkir kopi di kafe yang sekarang banyak di bandung dan pada akhirnya belanja…
Andai saja pembangunan tidak diperhatikan, alam dan taman semakin di gerus maka apa bedanya bandung nanti dengan jakarta?
Saya tidak ingin suatu saat ketika kangen untuk kembali ke bandung, minum kopi bersama teman-teman, menikmati senja di dalam mall (yang saya tidak bisa lihat matahari senja-nya), dan menghirup dinginnya udara ber-ac… ironis.

2. Rayyan Sugangga - Oktober 25, 2009

Sama seperti di Bogor. Saat ini di sekeliling Kebun Raya Bogor berdiri banyak mal-mal, ruko, pusat perbelanjaan. Menurut pihak Kebun Raya Bogor, hal itu mengganggu ekosistem di Kebun Raya, air tanah berkurang, burung-burung banyak yang pergi, tanaman banyak yang mati dan lain-lain.

Jangan jadikan Bandung seperti Jakarta …😦

3. nengthree - Oktober 25, 2009

Hah derenten bakal dipindah 3 tahun deui??
Tos lami teu kaditu..

4. M Mursyid PW - Oktober 25, 2009

Membangun jika sampai harus mengorbankan ekosistem, menurut saya tidak layak disebut membangun, merusak mungkin istilah yang lebih pas, ya?

5. Badruz - Oktober 25, 2009

Perda tentang IMB haru konsisten dijalankan, sehingga tidak semua bangunan bisa berdiri. salam,

6. Yari NK - Oktober 26, 2009

Memang sih Tamansarische dierentuin sangat nggak memenuhi syarat sebagai dierentuin yang memenuhi syarat untuk kenyamanan para satwa terutama faktor stresnya. Binatang2 seperti simpanse dan panda yang sangat peka terhadap lingkungan hampir tidak mungkin bisa dipercayakan kepada kebun binatang ini. Ya ke depannya mudah2an ada jalan keluar bagi kelangsungan hidup kebon binatang ini. Dan bagi kita, biasakanlah berkunjung ke kebun binatang, jangan hanya ke mal. Sebagai orang tua juga kita seyogianya menstimulasi otak anak kita ketika berkunjung ke kebun binatang. Di luar negeri kebun binatang masih menjadi obyek yang masih banyak dikunjungi. Gimana nih pak Indra, waktu ke S’pore mengunjungi Singapore zoo dan night safarinya? Bagus loh S’pore zoo… hehehe….

7. aRuL - Oktober 26, 2009

wah kalo pindah pasti bakalan tempat itu jadi hutan beton juga, seperti yg disekitarnya..

8. Sawali Tuhusetya - Oktober 26, 2009

banyak kebun binatang yang bernasib mengenaskan, mas indra. selain minimnya dukungan kebijakan pemda, kayaknya para pemilik modal lebih suka menginvestasikan duwitnya ke proyek yang secara instan bisa menghasilkan banyak keuntungan. semoga saja proses pengalihan Derenten bisa berlangsung lancar dan mulus.

9. antown - Oktober 27, 2009

saya suka kalau postingan kita bisa interaktif seperti komentar di atas. btw, saat ke bandung kemarin lalu saya belom sempat main ke bonbin. pingin sekali membuktikan keterjepitannya di antara bangunan2 itu

10. Edi Psw - Oktober 27, 2009

Pusat kota biasanya akan dijadikan perkantoran, sehingga kebun binatang yang berada di tengah kota tersebut harus dipindah ke pinggiran.

11. Potter.Web.ID - Oktober 27, 2009

Tos lami teu ka Bonbin heeeeee, hilap deui jalurna jabaning😀

12. indra kh - Oktober 28, 2009

@ Adjie: Kapan dong kita ngopi2 lagi?😀
@ Rayyan: Sekarang saja panasnya Bandung di musim kemarau sudah mirip2 Jakarta, mas
@ N3: Dipiwarang ngalih upami teu tiasa memenuhi standar animal welfare nu tos ditentukeun
@ Mursyid: betul, pak
@ Badruz: Tata ruang Bandung sudah semakin tidak jelas mas. Wilayah mana yang termasuk daerah bisnis, lalu mana yang pemukiman, bias.

13. indra kh - Oktober 28, 2009

@ Yari NK: Wah sayang pak saya tidak sempat pergi ke Singapore Zoo, sepertinya seru😦 Di sana saya hanya 3 hari.
@ aRuL: Yup, belum pindah saja daerah sekitarnya sudah banyak diganggu. Dibangun dengan dalih penataan.
@ Sawali: Kalaupun memang harus pindah semoga tempat ini tetap dibiarkan jadi hutan kota.
@ Antown: Mudah2an kalau ada kesempatan ke Bandung kita bisa silaturahmi.
@ Edi Psw: Iya, pak sebenarnya tak mengapa dipindah jika lokasi itu memang dinilai sudah tidak layak untuk satwa. Semoga saja lahan bekas kebon binatang itu tetap jadi RTH.
@ Liezmaya: Deuhh meuni tambelar atuh teh, hehe.

14. duri baskoro - Oktober 28, 2009

hmm.. tragis memang jika pembangunan kota akhirnya bisa membuat kebun binatang ini menjadi terusir..

salam \m/!!!

15. doelsoehono - Oktober 29, 2009

salam ….pokoknya pak Hendra semakin kerent

16. Bang Aswi - Oktober 30, 2009

Memprihatinkan. Isu yang paling santer akan dipindah ke Jatinangor, tapi kita tahu kondisi di sana seperti apa. Sekarang saja, Baksil juga dipermasalahkan. Jika Baksil jatuh, tentu nantinya ‘mantan’ kebun binatang bakalan bernasib sama. Oalah, gimana mau segar Bandung kita ini T_T

17. Cara Membuat Blog - November 5, 2009

bagian tata kota punya pr besar bagaimana caranya menangani kebutuhan gedung2 perkantoran sebagai sentra bisnis namun juga tetap mempertahankan keasrian alam.

Cara Membuat Website

18. edratna - November 6, 2009

Konon katanya mahasiswa ITB disarankan tak pacaran di Bonbin tsb, selain bisa bubar, juga bisa DO…entah siapa yang memberi rumor ini

19. [BY]onicS - November 7, 2009

Bakalan sama aja sama Jakarta..😦
Beberapa tempat asik dibantai, dan dijadikan bangunan baru..

20. Dangstars - November 19, 2009

Sukses sama yang mempertahankan

Dangstars - November 19, 2009

Saam perkenalan bos

21. Abied - Desember 2, 2009

Salam kenal …🙂

22. Kang Aom - April 21, 2010

Mudah-mudahan bisa bertahan….

23. Kapal Otok-Otok Masih Berlayar « Baca Singkat - Desember 2, 2010

[…] a comment » Mainan yang satu ini sering saya lihat jika sedang berkunjung ke derenten, pada masa kecil dulu. Miniatur kapal laut yang terbuat dari kaleng ini biasanya dimainkan dalam […]

24. Dicky Ramdhani - September 27, 2012

assalamualikum…
nyanggakeun tepang pang wanoh ti sim kuring….

sim kuring kacida katajina ku ieu tulisan…
pangpanga tina undak-usuk basana..
wakca bae sim kuring nembe nguping istilah “derenten”…
hatur nuhun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: