jump to navigation

Sambil Menunggu “Melahap” Buku Agustus 17, 2010

Posted by indra kh in culture, daily, family, hidup, keluarga, media, serbaneka, topics.
Tags: , ,
trackback

Bila ada pepatah menyebutkan sambil menyelam minum air maka untuk episode Saya ini mungkin yang cocok adalah sambil menunggu “melahap” buku.

Tak terasa si Sulung sudah saatnya masuk Taman Kanak-kanak. Masa trial pada pertengahan Juni lalu sebenarnya berjalan dengan sukses. Dia tak perlu ditunggu di sekolahnya, sehingga Kami hanya cukup mengantar dan menjemputnya. Namun saat masa sekolah yang sebenarnya tiba, dia menjadi berubah. Sering menangis dan tidak mau ditinggal. Al hasil mulailah episode Kami berbagi jadwal untuk menunggu si Sulung di sekolahnya. Parahnya lagi dia minta ditunggui di depan pintu kelasnya, dan tidak memperbolehkan Kami menunggu di luar kelas. Supaya bisa memastikan Kami ada, katanya.

Menunggu dengan Membaca Buku (dok-indrakh)

Hingga kini belum Kami ketahui penyebabnya. Namun dia sempat bilang kepada Saya jika dirinya tidak nyaman dengan para orang tua murid yang ikut masuk ke kelas dan menunggu di samping kursi anak mereka.

Awalnya, jika tiba giliran menunggu si Sulung di sekolahnya, Saya cukup mengisi waktu dengan melakukan browsing sana-sini via ponsel jadul saya yang keluaran 2008-an. Hanya saja lambat laun terasa jenuh. Aktivitas yang dilakukan hanya itu-itu saja. Belum lagi harus standby sekitar 4 jam di depan kelasnya. Pegal juga rasanya.

Pada akhirnya Saya mencoba membawa satu buah buku setiap menunggu si Sulung. Hitung-hitung menyicil membaca buku-buku yang belum sempat Saya baca. Bukan jenis buku dengan bacaan berat tentunya, tapi buku yang ringan untuk dicerna. Waktu itu Saya menduga  satu buku akan habis dibaca selama beberapa hari, namun ternyata buku setebal 500 halaman bisa rampung dibaca hanya dalam satu hari. Buku perdana yang saya bawa waktu itu adalah “Jendela Bandung” karangan Her Suganda, seorang wartawan Kompas.

Kini aktivitas menunggu anak menjadi seru juga, dan tidak menjenuhkan. Giliran berikutnya Saya membawa buku-buku yang lain, seperti “30 Hari Jadi Murid Anakku” karangan Mel, lalu “Bandung, Beeld van een stad karya Robert P.G.A Voskuil, “Jakarta 1950-an: Kenangan  Semasa Remaja” karangan Firman Lubis, dan lain-lain. Semoga saja deretan buka yang lain masih cukup untuk menjalani masa sebagai penunggu pintu kelas ini. Namun tentunya yang paling penting adalah semoga si Sulung tidak lama untuk minta ditunggui dan bisa kembali seperti pada masa trial sebelumnya.

Bila ada pepatah menyebutkan sambil menyelam minum air, maka untuk episode Saya ini mungkin yang cocok adalah sambil menunggu “melahap” buku. Sang anak bisa ditunggu dan buku habis dibaca satu persatu.

Komentar»

1. edratna - Agustus 17, 2010

Aktivitas baru ya..
Setiap anak memang berbeda..anakku sulung cuma mau ditunggu hari pertama itupun saya hanya menunggu dua jam karena harus ikut pendidikan.
Sedang si bungsu minta ditunggunya agak lama, untungnya mau ditunggu si mbak, karena tahu ibu harus bekerja

2. peyek - Agustus 18, 2010

wah… menarik mas, terkadang saya iri sama orang-orang yang selalu bisa melahap banyak buku, dan mereka bisa melakukannya di setiap kesempatan, tak perlu tempat dan waktu khusus, saya terkadang sering beli buku tapi tak terbaca, karena seringnya menunggu waktu luang di rumah, tapi waktu luang itu tak pernah ada tanpa kita memaksanya. Barangkali di daerah saya membaca buku di tempat umum masih dianggap hal yang risih dan tak lazim.

3. Vulkanis - Agustus 18, 2010

Wah..selamat Mas anaknya dah masuk TK…
kalo anak saya dah kelas 5 tuh

4. Dangstars - Agustus 18, 2010

Wah doyan baca buku yah Mas ?

5. Yari N K - Agustus 18, 2010

Hampir setiap anak rasanya seperti itu, rewel. Bahkan saya dulu pertama kali melepaskan anak ke sekolah malah hati saya juga yang merasa kurang tenang. Namun, biasanya hal tersebut tidak berlangsung permanen, biasanya begitu si anak sudah mengenal lingkugannya, teman2nya dan guru2nya biasanya ia mulai tenang dan bisa ditinggal. Namun perasaan tidak mau ditinggal adalah hal yang lumrah bagi anak2, kalau misalnya si anak punya suster/pengasuh, biasanya ia sudah merasa tenang. Kalau tidak, ya terpaksa orang tuanya yang turun tangan. Tapi nggak apa2 pak Indra, demi anak, repot sedikit tidak mengapa.

Selamat menunaikan ibadah puasa buat pak Indra dan sekeluarga. Mohon maaf lahir batin.🙂

6. tukangobatbersahaja - Agustus 19, 2010

Mirip seperti adik saya.
Karena ibu diluar kota jadi saya yang harus jagain.
mulai dari dalam, kemudian depan pintu, balik pintu, disamping kelas, duduk ditaman sampai akhirnya berani sendiri dan hanya tinggal dianter-jemput.
kira-kira sekitar 8 bulan hehehe.

7. ratutebu - Agustus 19, 2010

hmm.. kebayang aja nanti saya mau ngapain pas anak saya masuk TK dan minta ditungguin..😀

8. sawali tuhusetya - Agustus 20, 2010

wah, trik menunggu yang oke juga, nih, mas indra. kalau pas setiap hari bisa menuntaskan 1 buku, woi, pasti akan banyak nutrisi dan kekayaan batin yang akan kita dapatkan.

9. rangeradith - Agustus 28, 2010

Betul sekali itu mas, namun alangkah lebih baik lagi jika kita mengaji Al Quran🙂

kunjungi juga : http://www.obat-herbal.org/

10. Abdul Aziz - September 11, 2010

Assalamu’alaikum,

Saya sekeluarga mengucapkan Selamat Idul Fitri. Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala hal yang barangkali kurang nyaman di hati.
Taqabbalallahu minna wa minkum.

Salam hangat dari Cianjur

11. Abdul Aziz - September 11, 2010

Kegemaran membacanya mudah-mudahan diikuti yang lain.Insya Allah suatu saat membaca ini menjadi sebuah gaya hidup.

Masyarakat kita lebih suka SMS-an kalau ada waktu luang daripada baca buku. Bahkan tidak mengenal waktu dan tempat. Seusai shalat Jumat jemaah tidak bisa pulang karena hujan, dan mereka SMS-an berjamaah dan telpon-telponan di masjid.

12. toko online - Oktober 5, 2010

Bapak yang baik.. seharusnya bersyukur mas bisa ada waktu untuk membaca buku, lah saya udah capek pulang kerja ya kemana lagi kalo gak ke alam mimpi,he.. Selamat membaca buku mas..

13. za - November 8, 2010

Wah, ini anak pertama gak boleh manja. Yang boleh manja itu anak paling kecil. Terlalu sayang kali nih bapak-ibu-nya😉

Dari empat bersaudara, dulu cuma saya (saya paling kecil) saja Mang Odonk, yang ditungguin orang tua saat TK. Saking kesalnya orang tua dengan saya, saya diancam dipukul pakai sapu lidi kalau masih minta ditungguin.

Eh buku-bukunya pinjam dong :B

14. ir@_one - November 13, 2010
15. Ikkyu_san - November 24, 2010

waaah hebat. Omong-omong “Jakarta 1950-an: Kenangan Semasa Remaja” karangan Firman Lubis ku masih rapih belum dibaca juga…. kapan bisa baca ya?

Kalau di sini TK tidak boleh ditunggu. Ortu HARUS pulang😀 tidak boleh tunggu di depan sekolah juga😀 Anak2 di sini tidak ada yang manja. Awalnya memang menangis, tapi guru bisa handle mereka.

EM


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: