jump to navigation

Menjemput Asa di Jembatan Rajamandala November 8, 2010

Posted by indra kh in cianjur, culture, daily, featured, hidup, inspirasi, Jalan-jalan, kuliner, serbaneka.
Tags: , , , ,
trackback

Sore itu Mang Ujang (bukan nama sebenarnya) masih setia menunggui kedai kecilnya, yang berada di sebelah barat Jembatan Citarum Rajamandala. Hari sebenarnya sudah mulai senja, namun dagangan cincau hijaunya masih banyak tersisa. Masih ada hampir setengah wadah kayu yang belum laku. Padahal biasanya pada hari libur dagangannya sangat laris, sehingga tak perlu sampai sesore itu ia menanti dagangannya habis. Sepinya pembeli ia duga akibat kondisi cuaca yang tidak menentu belakangan ini, bahkan hujan bisa turun seharian, entah itu pagi, siang atau sore.

Pedagang Cincau Hijau di Sekitar Jembatan Rajamandala (dok - indrakh)

Kepada saya, pria umur 50 tahunan ini bercerita bahwa ia memulai usaha kedai cincau hijaunya itu sekitar satu tahun lalu. Ketika musim liburan sekolah tiba, ia bersama beberapa rekannya berinisiatif mencoba peruntungan dengan berdagang cincau hijau di sekitar di Jembatan Rajamandala. Kedai tempat berjualan cincau tersebut dibangunnya secara sederhana, hanya berupa amben beralaskan tikar dan atapnya menggunakan terpal.

Tak disangka usaha cincau mereka ternyata ramai didatangi pembeli, terutama oleh para pengguna sepeda motor yang berniat rihat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandung atau ke Cianjur. Akhirnya dari sekedar coba-coba,  Mang Ujang dan kawan-kawan kemudian memilih menetap untuk berjualan cincau di sekitar jembatan Sungai Citarum yang menghubungkan wilayah Cianjur dan Bandung Barat itu.

Para pedagang sangat senang karena tak perlu berkeliling kampung lagi untuk menjajakan dagangannya. Hanya perlu duduk menunggu pembeli yang datang dengan sendirinya. Selain itu, tempat berjualan yang mereka tempati juga tidak dikenakan biaya sewa atau tagihan preman. Hanya sesekali saja desa meminta mereka untuk berpartisipasi dalam sejumlah kegiatan, seperti perayaan kemerdekaan misalnya.

Menikmati Segelas Cincau di Jembatan Citarum Rajamandala (dok - indrakh)

Harga jual cincau hijau yang dijajakan masih terbilang murah. Satu gelas dihargai sebesar Rp.2.500,-. Tak seperti yang dijajakan oleh pedagang kebanyakan yang menggunakan gula biang atau sirup berwarna merah, pemanis yang digunakan untuk campuran cincau hijau Rajamandala adalah menggunakan gula aren. Campuran lainnya adalah menggunakan santan dan es serut.

Untuk kebutuhan bahan baku, selama ini para penjual cincau di Jembatan Rajamandala tidak merasa kesulitan. Pasalnya setiap hari ada penyuplai tetap daun cincau yang mengantarkannya kepada mereka. Namun untuk pembuatannya diserahkan kepada masing-masing pedagang.

***

Hari mulai gelap dan cincau dalam gelas saya pun sudah habis. Sebenarnya masih banyak cerita yang ingin didengarkan dari Mang Ujang, namun saya harus melanjutkan perjalanan sore itu. Semoga saja Mang Ujang dan kawan-kawan bisa bertahan lama untuk berdagang cincau di tempat itu, agar setiap hari mereka bisa menjemput asa di Jembatan Rajamandala.***

Komentar»

1. wahyu am - November 8, 2010

pake gula aren ya?
segerrrrrrrrrrrrrrr… slurrppppp…

Yup, betul. Maknyuzz🙂

2. peyek - November 9, 2010

Cincau, terasa dongeng bagi saya kang, sederhana saja, karena saya tak pernah merasakan seperti apa segernya cincau, di daerah saya kan tak ada orang jualan cincau. hehehehe….😀

Dan satu lagi, semoga mang ujang bisa bertahan lama di jembatan Rajamandala tanpa di pungut apa-apa, kalau daerah saya barangkali saja, orang seperti mang Ujang layaknya kerja bakti aja, penuh pungutan sana-sini.

Adanya apa dong cak, dawet? Hehe, Nah itulah cukup kaget juga ketika Mang Ujang bilang tidak ada pungli di situ.

3. tutinonka - November 9, 2010

Wah, sudah lamasaya tidak makan cincau … Dulu waktu kecil malah sering bikin sendiri dari daun cincau.
Semoga Mang Ujang mendapatkan rizki yang mencukupi dari cincaunya …🙂

Wah enak tuh buatan sendiri, kalau sekarang pohonnya juga sudah jarang, ya bu?

4. almascatie - November 9, 2010

*ngiler*

setiap kisah dibalik semua yg kita nikmati menjalin cerita yg panjang .

Sebenarnya banyak hal yang bisa kita tulis, tinggal kemauannya itu😀 *aya balik lagi ke dasbor*

5. Abi Sabila - November 10, 2010

Sangat menyedihkan bila ada pedagang yang rela menukar keberkahan dengan lembaran rupiah. Demi alasan memperbanyak keuntungan mereka tega mencampurkan barang dagangannya dengan yang tidak semestinya, semoga ini tidak pada mang Ujang, dan penjual-penjual lainnya. Dunia bisa diraih tanpa harus mengabaikan akhirat.

Amin, semoga mang Ujang bisa seperti itu

6. aRuL - November 10, 2010

kapan sy diajak ke sana… nikmat banget kelihatannya🙂

Saya juga kebetulan saja waktu itu pas akan pergi ke Cianjur, bang

7. Lucky dc - November 11, 2010

Salah satu jajanan zaman sekolah yang ngangenin🙂

indra kh - Desember 1, 2010

Iya, sudah mulai jarang ditemui sekarang ini.

8. hamida - November 11, 2010

cincau?
di ambon ada gak ya?

indra kh - Desember 1, 2010

Nah jangan-jangan di sana beda namanya🙂

9. Prima - November 12, 2010

Oh Tidak! Kangen Bogor! wkakakakaka…
Foto kedua sangat sentimentil…

indra kh - Desember 1, 2010

seharusnya ada foto ketiga, waktu gelasnya sudah kosong😀

10. edratna - November 25, 2010

Cincau hijau dengan sirup merah…wahh sedaap sekali.
Sekarang sulit cari cincau hijau ini…kalau cincau hitam menurut saya kok kurang enak dibanding cincau hijau.

indra kh - Desember 1, 2010

Iya bu kalau cincau hitam di pasar pun masih banyak, tapi memang rasanya jauh dengan cincau hijau.

11. Q - Mei 1, 2011

bener2 seeegwr……….

12. agung yuwono - Juni 11, 2012

beli tumbuhan cincau rambat bulu kemana pa///?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: