jump to navigation

Sepeda Motor Multifungsi November 11, 2010

Posted by indra kh in automotive, culture, fenomena, serbaneka, transportation.
Tags: , ,
trackback

John C Potter, seorang masinis di pabrik gula  Umbul Probolinggo yang menjadi pemilik sepeda motor pertama di Indonesia mungkin akan kaget jika melihat kepadatan motor di jalanan saat ini. Betapa tidak, konon kini ada sekitar 35 juta sepeda motor yang berseliweran di jalanan tanah air. Penggunanya tak hanya di kota besar, namun juga hingga ke pelosok.

Sepeda motor, mengangkut apapun jadi (dok - indrakh)

Yang menarik, para peminat kendaraan roda dua ini di negeri ini cukup unik. Selain untuk kebutuhan alat transportasi: Misalnya digunakan untuk  pergi ke tempat kerja,  untuk mengantar anak ke sekolah, untuk ojeg, sepeda motor juga sering tampak digunakan untuk alat angkut barang.

Kecilnya bagasi yang dimiliki dan tidak adanya bak penampung barang tidak menjadi halangan bagi sebagian pengguna untuk mengangkut barang. Tak hanya untuk mengangkut barang kelontong, makanan atau sayuran saja, untuk mengangkut rumput pun jadi. Di daerah saya kini banyak peternak sapi yang mencari rumput gajah dengan menggunakan sepeda motor.

Mencari rumput pun kini menggunakan sepeda motor (dok - indrakh)

Memang tak hanya di Indonesia saja saya lihat para pemilik motor menggunakannya sebagai alat transportasi multifungsi. Di Vietnam, Thailand, dan Kamboja pun penduduknya melakukan hal yang sama. Malah ada yang lebih ekstrim: Ada yang digunakan untuk mengangkut ayam, kerbau, hingga ada yang digunakan untuk berboncengan hingga tujuh orang. Contoh foto-fotonya bisa dilihat di sini.

Mayoritas penduduk Indonesia dan sebagian negara Asia Tenggara pastinya bukan tak mau beralih menggunakan mobil sebagai alat angkut. Masih rendahnya tingkat kesejahteraan dan harganya yang mahal menyebabkan mereka sulit untuk membeli kendaraan roda empat. Memang sih, katanya angka pendapatan perkapita Rakyat Indonesia kini ada di angka 24 juta rupiah. Tapi hitungan itu kan termasuk juga para pekerja asing yang gajinya selangit. Jadi hitungan ini menurut saya kurang fair. Tidak menggambarkan kondisi kesejahteraan rakyat yang sebenarnya.

Makanya tidak aneh jika kebanyakan rakyat Indonesia masih memilih sepeda motor sebagai pilihan alat transportasi. Masih buruknya transportasi publik di negeri ini juga pasti menjadi pertimbangan lainnya.

Toh kini tak perlu berbekal uang banyak untuk menjadi pemilik sepeda motor di Indonesia. Dengan membayar DP 500 ribu pun orang sudah bisa membawa sepeda motor ke rumah. Asalkan mau rajin mencicil bayaran bulanan, dalam 1, 2, atau 3 tahun sepeda motor sudah bisa menjadi milik sendiri. Jika malas membayar, yah risikonya didatangi debt collector. Kalau sudah begitu, sepeda motor pun akan tinggal angan-angan.

Jika dulu pada tahun 1893, John C Potter harus memesan langsung ke pabrik Hildebrand und Wolfmüller, di Muenchen, Jerman untuk memiliki sepeda motor, maka kini orang bisa langsung pergi ke dealer terdekat, atau bahkan mencari para penjual bermobil pick-up yang banyak keliling menawarkan sepeda motor.

Komentar»

1. za - November 11, 2010

Kenal aja sama John C Potter. Dari buku apa Mang? Motor bebek itu jumlahnya banyak sekali di Indonesia. Kalau di luar negeri (barangkali selain yang Mang Odonk sebutkan di atas) lebih banyak motor laki macam Honda Tiger.

Di Indonesia, malah teknik pemasarannya, motor matic disegmentasikan untuk perempuan. Yak, tambah terus motor!

Kalau kata Om Har, sekarang gak perlu DP sudah bisa bawa pulang motor.

Kenal di Cileungsi, Zak😀 Dia juga sama motornya gak ada STNK-nya :)) Gak sih tadi coba aja melacak informasi tentang sejarah sepeda motor di Indonesia.

2. ysalma - November 11, 2010

kirain tetanggan sam John C Potter😀
motor memang alternatif transportasi yang sangat memungkinkan untuk kondisi rakyat Indonesia saat ini,, itu perkapita, pemerintah mendata ekspatriat juga ya sama aja boong yaa, cerita dongeng di negeri antah barantah jadinya😦

ysalma: yeee beda jaman ama si John itu mah:D

Iya jadi semua pendapatan dibagi semua orang yang tinggal di sini, termasuk para ekpspat itu.

3. adit-nya niez - November 11, 2010

Sepeda motor multifungsi dengan gerobak di samping misalnya, seharusnya bisa jadi pasar potensial buat merk-merk motor lokal untuk pasar daerah ya…

Saya yakin brand motor yang sudah besar belum tentu berani ngambil ceruk pasar ini…

Adit-nya niez:
Betul ini bisa jadi ceruk buat merk lokal, sayangnya di negeri ini orang masih pengen kendaraan yang bermerk juga, ya. Jadi mereka milih menggunakan motor bermerk yang bisa dijejeli barang ketimbang pake motor bergerobak tapi merknya tidak terkenal.

4. sey - November 11, 2010

hihi..aku juga pernah loo..pake motor bawaannya seabreg hihi blanja dadakan sih, jadi mau gak mau harus pake motor da perginya bawa motor hehe…anak2 aja ketiban pegang barang…full muatan deeh…kaca helm aja tutup yang rapet xixi

Sey:
Nah kalau ibu yang satu ini saya percaya banget sebagai motoris wanita tercanggih. Jangan2 nganterin pesenan meubeul juga pake motor, bu? *piss*

5. Sriyono Semarang - November 11, 2010

Wah Daya angkutnya beda tipis ma mobil nihhh🙂

Sriyono:
Betul mas, selama PD bawanya kayaknya para biker di negeri ini apapun diangkut saja pake motor😀

6. Prima - November 11, 2010

cerminan negara berkembang, lalu lintasnya warna-warni,😀. Lagian sepertinya belum ada peraturan lalu lintas yang mengatur hal ini ya mas? cmiiw
Salam kenal, thanks dah mampir ke blog saya.

indra kh - Desember 1, 2010

Nah itu saya juga belum tahu mungkin sudah ada aturannya.

7. achoey - November 12, 2010

Meski berbahaya, toh lebih meriah mengangkut-angkutnya😀

indra kh - Desember 1, 2010

senang buat yang lihatnya, sengsara buat yang membawanya😀

8. peyek - November 12, 2010

wah… sumpah kang!, saya punya satu, buat dua ekor sapi kepunyaan bapak saya di belakang rumah, sehari harus empat karung penuh rumput, dan sedihnya, motor itu adalah motor saya sewaktu masih di sekolah menengah pertama, semestinya menjadi motor penuh nostalgia, “nostalgiamu akan semakin bertambah”, begitu kata Bapak saya suatu ketika, entahlah, barangkali nostalgia saya bertambah bersama dengan dua ekor sapi itu.

indra kh - Desember 1, 2010

sepertinya jadi punya teman nostalgia kalau begitu, cak😀

9. sawali tuhusetya - November 13, 2010

lebih praktis dan portabel, mas indra, hehe …. sepeda motor juga merangsang orang kreatif, hiks.

indra kh - Desember 1, 2010

Kreativitasnya memang patut dipuji pak, tidak menyerah kepada keadaan.

10. sjafri mangkuprawira - November 14, 2010

…sepeda motor sudah begitu merakyatnya…dan multifungsi termasuk buat cari penghasilan dengan menggunakannya untuk ojek…baik di perdesaan bahkan di perkotaan…praktis sebagai pesaing angkot…cuma ada yg membuat sebagian orang ngedumel…sepeda motor sekarang konon sudah menjadi raja jalanan…sliwer sana sini,,,yg tak jarang menguasai seluruh badan jalan…sampai-sampai kendaraan dari arah berlawanan harus mengalah atau menyerah…ada baiknya adab berkendaraan apapun seharusnya ditegakkan…salam

indra kh - Desember 1, 2010

Betul Prof, etika menggunakan sepeda motornya masih perlu dibenahi. Salam kembali. Terima kasih sudah mampir.

11. almascatie - November 14, 2010

sepeda motorku masih kosong terus dibelakang e😀

indra kh - Desember 1, 2010

mau diisi apa bang? Rumput atau tanki minyak? hehe

12. Lucky dc - November 16, 2010

Ya soalnya sekarang pake sepeda motor itu, cepet, hemat, dan gesit. Makanya sepeda motor laku di pasaran🙂

indra kh - Desember 1, 2010

salah satu solusi kalau gak ingin terjebak macet juga😀

13. tireguards - November 18, 2010

artikel yg menarik, two thumbs up😀

14. renra cikatos - November 19, 2010

thanks for your info….very good and sangat bermanfaat…goodluck for you..

15. Andina - November 24, 2010

apapun bisa dilakukan kalau memang lebih praktis dan lebih menghemat biaya. ya salah satunya menggunakan sepeda motor yang menurut saya sangat tidak wajar. sampai keselamatan pengguna diabaikan. thx bwt postingannya.

16. Ikkyu_san - November 24, 2010

selama masalah transportasi massal tidka dibereskan, pasti sepeda motor akan bertambah terus…. Aku pernah nonton acara TV di sini (Tokyo) ttg kredit motor, katanya mereka harus bayar 1 juta perbulan (1/3 dari gajinya) waaah gimana yang gajinya cuma 1 juta ya?

EM

17. pdf Manual - November 24, 2010

waah memang sepeda motor udah menjadi bagian di masyarakat kita…

18. anna - November 25, 2010

setuju dengan komen mbak Imel (Ikkyu-san)
selama mass transport di indo belum beres.. kendaraan2 pribadi bakalan nambah terus.. motor pun akan bersliweran kyaka nyamuk🙂

19. edratna - November 25, 2010

Jadi ingat cerita anakku, yang lagi kuliah di LN, suatu ketika kakinya terkilir. Dia susah sekali untuk ke dokter, maklum kuliah di daerah yang jauh dari mana-mana. Dan sepeda motor tak boleh untuk membonceng orang, tapi hanya untuk mengangkut barang….sedang temannya yang punya SIM jarang sekali serta punya kesibukan sendiri.

Di negara kita, permakluman nya tinggi, dan kayaknya kita memang berani menghadapi risiko ya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: