jump to navigation

Benteng-benteng Tinggi November 24, 2010

Posted by indra kh in culture, lingkungan, serbaneka, topics.
Tags: , , , ,
trackback

Ini memang bukan cerita tentang Vallum Hadriani yang membentang dari Carlisle hingga ke Newcastle-on-Tyne, sebuah benteng bangsa Romawi di jaman Caesar Hadrian yang dibangun untuk membendung serbuan tentara Skotlandia.

ilustrasi (dok-indrakh)

Ini juga bukan cerita tentang benteng yang melintasi Sungai Maas di Maastricht, Negeri Belanda sana. Ini hanyalah cerita kegundahan saya melihat banyaknya tembok-tembok tinggi, pagar-pagar tinggi yang ada di sekitar kita.

Entah kenapa sebagian masyarakat kita sekarang ini gemar sekali membentengi rumahnya dengan benteng atau pagar-pagar yang tinggi. Kalau rumahnya di pinggir jalan sih tak masalah. Kalau ia tinggal di komplek yang mayoritas penghuninya memang hidup sendiri-sendiri dan enggan hidup bermasyarakat, ya silahkan saja. Namun jika ia tinggal di lingkungan pemukiman biasa, perkampungan pada umumnya, yang masih memelihara keakraban antar sesama, masih saling menyapa antar tetangga, laah…. jangan keukeuh bangun rumah dengan ditambah pagar tembok tinggi di sana sini. Toh beberapa pemukiman real estate yang bertipe cluster pun masih bisa menerapkan rumah tanpa pagar atau hanya pagar tanaman.

Saya pikir jika tinggal di pemukiman biasa sebaiknya cukup dengan pagar sedang saja. Sehingga tetangga dekat masih bisa menyapa ketika lewat, tukang sayur masih bisa menawarkan dagangannya, petugas PLN ataupun PDAM pun masih mau memeriksa meteran di rumah,  dan anak-anak tetangga tidak sungkan datang untuk mengajak main anak sang empunya rumah.

Bukankah jaman dulu ada budaya saling mengirimkan makanan ke tetangga, budaya saling membantu ketika ada tetangga yang sakit, atau ikut membantu menjaga rumah ketika tetangga mereka sedang pulang kampung. Sepertinya budaya seperti ini sudah mulai luntur. Yang terjadi adalah apapun kondisi tetangga kita, ya masa bodoh.

Saya merasa aneh saja melihatnya, jika melewati sebuah lingkungan yang hampir mayoritas rumah di situ bersifat “terbuka,”  dalam artian tidak memakai pagar dan tembok tinggi, namun tiba-tiba tampak satu rumah yang sangat eksklusif memagari diri. Memang boleh saja dengan dalih ingin privacy, namun saya pikir masih ada kewajiban terhadap masyarakat yang harus dipenuhi.

Maka jangan heran jika penghuni rumah-rumah semacam itu jarang diketahui kondisinya oleh para tetangga di sekitarnya. Apakah sang pemilik rumah sedang sakit?Apakah sedang menghadapi kesulitan? Ataukah sedang mengalami ancaman? Itu semua karena mereka memilih menutup diri. Apalagi jika mereka ini termasuk pendatang yang semestinya membuka diri kepada para penghuni lama. Oleh karena itu jangan heran jika banyak tetangga rumahnya yang tidak kenal siapa pemilik rumah tersebut.

Padahal jika dicermati, tetangga itu merupakan saudara terdekat bagi siapapun. Selemah apapun sang tetangga pasti akan ada suatu saat mereka bisa membantu. Sebaliknya seideal bagaimanapun sang pemilik benteng-benteng tinggi ini, suatu saat pasti mereka akan membutuhkan pertolongan tetangganya. Tidak bisa tidak. Karena setiap orang tidak bisa hidup sendiri.

Komentar»

1. Ikkyu_san - November 24, 2010

well, memang tuntutan kota besar mungkin ya. Kalau pagarnya tidak tinggi nanti perampok masuk. Padahal kalau pagar tinggi, seandainya perampok sudha masuk, tidak ada yang tahu dan bisa menolong. Untung saja pagar rumah ortu saya di Jakarta memang agak tinggi tapi bukan dari tembok, sehingga masih terlihat jelas isi rumahnya hehehe.

Terima kasih atas kunjungan ke rumah maya saya.

EM

indra kh - November 30, 2010

Betul mbak, kalau alasannya risiko keamanan dan dia tinggal di pinggir jalan raya atau memang semua tetangga satu kompleknya berpagar tinggi semua sih masih ok.

Yang disesalkan adalah untuk seseorang yang tinggal di pemukiman biasa, yang sebelumnya tidak ada rumah dengan tembok yang tinggi, namun tiba2 ada yang membangun rumah dengan benteng2 tinggi seperti cerita saya ini.

2. za - November 24, 2010

waktu kecilnya pada gak suka main benteng kali, hihihi *komentar konyol*

indra kh - November 30, 2010

Main benteng yang pake bola kasti? haha, ada2 aja sih jek😀

3. Prima - November 24, 2010

Hhahaahah… di luar negeri aja, ruma pda gak pake pagar…
Saya pernah lewat perumaham elit, yang pagarnya sampe setinggi benteng, dalam ati: kalo penghuninya di rampok terus mati, apa iya tetangganya tau?😛

indra kh - November 30, 2010

Itulah, dengan bangunan seperti itu malah membuat tetangga sekitarnya sungkan untuk kenal.

4. almascatie - November 24, 2010

semakin kaya semakin takut..
haih diperbudak sama harta pak

indra kh - November 30, 2010

Lebih penting harta ketimbang tetangga😀

5. Sugeng - November 24, 2010

Mungkin mereka takut sendiri dengan harta kekayaan nya, takut ilang diambil orang😆 tapi aku punya teman yang kerja di rumah orang kaya. katanya setiap sudut rumahnya ada kamera cctv yang tersembunyi tapi pas ada berita di koran tentang beberapa napi kabur dari rumah tahanan, dia gak bsia tidur dan pindah di tidur di hotel bintang 5. Mendingan aku, bisa tidur pulas disertai ngiler meskipun ada berita penjarahan dimana2😛

Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

indra kh - November 30, 2010

Terima kasih kunjungannya Mas, jauh2 dari tabanan🙂

Khawatir dengan rasa takut yang ia buat sendiri mungkin ya.

6. Jasa SEO - November 25, 2010

Di rumah, kami cukup memakai pagar setinggi 1,5 meter saja. Tidak ditambah dengan kawat atau apalah. Ada nggak enaknya juga sih, karena tinggal d lingkungan padat, seringkali tetangga main intip atau nyelonong masuk aja.. Sempet kepikiran mau dipagerin rapet2, tapi ya itu.. takut kalau mati nggak ketahuan😀

indra kh - November 30, 2010

Mungkin kalau ingin sedikit tidak terlalu keliatan ditutupi fiber glass. Tak perlu bentang tinggi hingga hampir menutupi atap.

Yang sedang2 saja🙂 Intinya sih di sosialisasi. Kenal dengan tetangga sekitar. Gitu kali, ya?🙂

7. nh18 - November 25, 2010

Indra …
Betul sekali …
Disatu sisi …
Manusia itu pada hakikatnya makhluk sosial …
kita harus hidup bersosialisasi

Disisi lain …
Tidak bisa dipungkiri bahwa satu dua hal kita masih perlu memperhatikan keamanan …

So jalan tengahnya adalah …
Kita bangun pagar secukupnya saja … dan perbanyak sosialisasi dengan warga sekitar … sebab … justru warga sekitar ini lah yang bisa membantu kita untuk bersama-sama menjaga keamanan

Salam saya Indra

indra kh - November 30, 2010

Sepakat sekali, Pakde. Itu jalan tengah terbaik yang harus dipilih sepertinya.

Salam kembali. Trims sudah mampir.

8. Lalu Abdul Aziz MHD - November 25, 2010

sebenarnya, jika kita mau menganalisa, tembok tinggi atau pagar tinggi yang mengelilingi rumah-rumah yang Mas Indra maksudkan itu adalah bentuk “ketakutan” (paranoid) dari orang-orang yang tidak mau bermasyarakat. Bukankah fenomena itu banyak terjadi di perkotaan dimana manusianya sudah hidup sendiri-sendiri. Berdasarkan pengalaman saya tinggal di kota, tetangga samping rumah saja kita tidak kenal, apatah lagi saling bertegur sapa

indra kh - November 30, 2010

Betul mas, padahal ketika kita butuh bantuan, yang paling dekat adalah tetangga.

9. anna - November 25, 2010

kalo rumah saya malah nggak ada pagernya mas.. bener.. terbukaaaaa!

rumah saya kan udah berada di lingkungan perumahan. artinya sudah ada pagar pembatas komplek. jadi untuk apa dipagar.. toh dengan nggak berpagar akan terlihat lebih luas dan lapang..

indra kh - November 30, 2010

Naah memang sudah seharusnya begitu. Terkadang ada rumah di komplek yang pengamanannya sudah berlapis, tapi masih juga membentengi rumahnya tinggi2.

10. ciec - November 25, 2010

ini ‘benteng’ denotasi plus konotasi. benteng rumah, dan benteng sosial.
😀
halo kang indra, nice 2 meet u hehe

indra kh - November 30, 2010

100 buat Teh Ciec, jagoan neguhna😀

11. edratna - November 25, 2010

Saya merindukan tinggal di kompleks rumah dinas, pagarnya tak pernah dikunci, tapi memang satpam nya 24 jam, dan digaji kantor….jadi mereka punya kebanggaan sendiri, untuk mengawasi lingkungan kompleks rumah dinas.

Namun, setelah tinggal di rumah sendiri, selain pagar tinggi, juga dipasang fiber glass, maklum hanya 200 meter dari jalan Fatmawati dan Citos…gangguan banyak sekali, kalau lengah tamu tak diundang masuk. Namun demikian, hubungan antar tetangga baik, dan saling mengenal, dan kami punya nomor telepon tetangga kiri kanan rumah.

indra kh - November 30, 2010

Wah iya bu Enny, kalau tinggalnya di jalan utama seperti itu memang harus mementingkan faktor keamanan. Tapi toh ibu tetap bersosialisasi dengan tetangga. Saya pikir itu yang penting.

12. Yari N K - November 25, 2010

Dulu… zaman Nederlandsch Indië, rumah-rumah di sini juga banyak yang nggak berpagar, orang bisa naik sepeda dengan bebasnya antar rumah. Bahkan di Jalan Ciliwung dekat rumah saya, rumah terakhir yang memasang pagarnya baru terjadi sekitar dua bulan yang lalu, itupun disebabkan karena ada orang gila yang sering bermalam di teras rumahnya.

Dulu, ketika kota belum berkembang dan suasana masih relatif aman, pagar tidak dibutuhkan. Namun ketika superurbanisasi mulai terjadi, keamanan menjadi menurun dan keselamatan menjadi hal yang utama, mungkin itulah hal yang terjadi saat ini.

indra kh - November 30, 2010

Betul pak, kondisinya seperti Bu Enny saya kira. Kalau tinggalnya di jalur utama kota memang mau tak mau harus berpagar tinggi. Namun jika tinggalnya di pemukiman atau perkampungan biasa, sebaiknya jangan mengekslusifkan diri dengan membuat pagar yang tinggi.

13. adit-nya niez - November 27, 2010

Biasanya yang hidup di balik2 benteng seperti itu hidupnya selalu diliputi ketidaktenangan. Mulai dari rasa waswas yang sangat kecil, sampai kekhawatiran yang amat sangat…

indra kh - November 30, 2010

Rasa takut lebih mendominasi dibandingkan kebutuhan sosialisasi dengan tetangga sekitarnya.

14. Sawali Tuhusetya - November 28, 2010

memang benar banget tuh, mas indra. muncul kesan eksklusif, bahkan secara tdk langsung sesungguhnya mereka butuh legitimasi sosial.

indra kh - November 30, 2010

Wah betul juga pak Sawali, legitimasi sosial. Orang di kita kan masih senang disanjung2. Orang yang mulia adalah yang punya rumah mentereng bak penjara eh istana🙂

15. achoey - November 30, 2010

padahal, alangkah baiknya jikalau pagar kita tidaklah tinggi agar bisa bertetangga dengan jauh lebih baik🙂

indra kh - Desember 1, 2010

intinya mau kenal dengan tetangga ya, kang🙂

16. Andi - Desember 4, 2010

mungkin bila diimbangi dengan sifat grapyak oleh si empunya rumah, itu tak mengapa mas.

17. Sepanjang Jalan Kenangan | Indra KH - April 13, 2012

[…] milik pengembang? Apakah pengembang tidak akan membentengi pemukiman real estate miliknya dengan benteng-benteng tinggi pembatas kasta? Saya sendiri tidak […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: