jump to navigation

Antrean di Perpustakaan, Bukan Antrean Biasa November 30, 2010

Posted by indra kh in inspirasi, Jalan-jalan, serbaneka, Singapura.
Tags: , , , ,
trackback

Masih ingat dengan antrean para pembeli sepatu di salah satu Mal di Jakarta pada April 2009 lalu? Mereka bersedia  mengantre sejak pagi agar bisa berada di urutan terdepan saat gerai sepatu itu mulai dibuka, karena takut kehabisan model sepatu yang diidam-idamkan. Nah mungkin tidak antrian semacam itu terjadi di perpustakaan?

Perpustakaan Nasional Singapura (dok-indrakh)

Kalau di perpustakaan kita, saya masih sedikit sangsi. Tapi kalau di negeri lain seperti Singapura bisa dipercaya. Ya, yang saya tahu di Negeri Singa itu orang biasanya sudah mengantre sejak pagi untuk menunggu perpustakaan nasional buka. Kenapa mereka rela mengantre? Karena ingin mendapatkan tempat paling strategis dan paling nyaman untuk membaca.

Perpustakaan Nasional Singapura atau The Lee Kong Chian Reference Library saya lihat memang bagus.  Bila di perpustakaan kita buku yang disajikan kebanyakan merupakan buku-buku jadul, sedangkan di sana tidak. Buku-buku baru pun ada. Saya sempat mencari sejumlah buku baru yang sebelumnya saya lihat di Toko Buku Kinokuniya, Bugis Junction dan ternyata ada. Perpustakaan Singapura memiliki koleksi kurang lebih sekitar 600 ribu item dalam berbagai format.

Perpustakaan Nasional Singapura yang berada di Victoria Street ini memiliki banyak fasilitas yang modern, diantaranya mesin bookdrop,  dan layanan penelusur koleksi yang mereka sebut Online Public Access Catalog. Bookdrop sendiri adalah mesin yang digunakan untuk menyetor buku yang selesai dipinjam, mirip-mirip dengan mesin ATM untuk menyetor uang lah. Bookdrop ini beroperasi 24 jam, sehingga para peminjam bisa kapan pun mengembalikan buku tanpa perlu menunggu perpustakaan buka. Perangkat ini dilengkapi sensor untuk memastikan buku yang dikembalikan sesuai dengan record data yang ada.

Salah satu ruang baca di Perpustakaan Singapura (dok - indrakh)

Perpustakaan yang mulai beroperasi pada tahun 2005 ini terdiri dari 14 lantai. Lantai 1 disediakan untuk fasilitas bookdrop, cafe, ATM dan layanan publik lainnya. Lantai berikutnya ada perpustakaan anak, perpustakaan referensi, data penelitian, dan juga ada drama center.

Bagi orang yang memiliki kebiasaan tertidur di perpustakaan saat membaca buku, jangan mencobanya di perpustakaan Singapura. Jika hal itu dilakukan siap-siap saja kena tegur oleh sejumlah petugas perpustakaan ber-roller blade yang berkeliling ke berbagai area.

Mengambil foto di dalam ruangan perpustakaan juga sebenarnya tidak diperkenankan, saya saja yang curi-curi kesempatan mengambil gambar dengan ponsel *dasar orang Indonesia :D*. Sejumlah etika lainnya saya kira sama saja. Seperti tidak boleh berisik, dan ponsel harus di-setting silent.

Cerita-cerita saya di atas adalah berdasarkan kunjungan pada tahun 2009 silam. Boleh jadi keadaan sekarang sudah berbeda, dan mungkin lebih baik dan modern lagi.

Pengunjung Perpustakaan Singapura memang luar biasa. Setiap tahunnya ada sekitar 4 juta orang yang mengunjungi “istana” buku ini. Baik pengunjung lokal maupun dari luar negeri. Yup, sepertinya tidak bosan mengunjungi tempat semacam ini. Mudah-mudahan akan ada kesempatan lagi.

Komentar»

1. Ikkyu_san - November 30, 2010

aku jadi ingat bahwa pernah ingin pergi ke perpustakaan nasional Diet/Parlemen Jepang, yang katanya jumlah koleksinya “lengkap” (ngga tau sih berapa hehehe)

EM

indra kh - November 30, 2010

Kalau sudah sempat ke sana, ditunggu ceritanya ya Mbak Sensei🙂

2. za - November 30, 2010

seharusnya *antre*; polisi EYD😀

Wah ada mesin bookdrop? Baru denger euy. Kok yang bookdrop gak ada fotonya, Mang Odonk? Hihihi galak amat gak boleh moto.

Rollerblade? Wah karena saking luasnya kali ya. Seru juga nih kerja di perpusnya, bisa sekalian olahraga.

Oh ya, di Indonesia perpustakaan gak rame karena gak ada buku baru soalnya para penerbit berkonspirasi dengan perpustakaan supaya pembaca tetap membeli buku bukan pergi ke perpustakaan.😀

indra kh - November 30, 2010

Haha, nulisnya terburu-buru jadi gak sempat ngecek KBBI. Thanks, za. Sudah saya ubah🙂

Saya sempat baca ada rekrutmen relawan. Tapi meskipun relawan, tetap dapat fee, sekitar 1500 dolar SG. Sambil berolahraga dapat duit dan bisa baca🙂

3. RomoWage - November 30, 2010

Semua kembali akan kesadaran “membaca”, sementara perpustakaan di Indonesia jarang diminati oleh masyarakat karena kurangnya sosialisasi perpustakaan itu sendiri akan koleksi2 yang ada.

indra kh - November 30, 2010

Betul sekali, Cara komunikasi via websitenya pun masih kurang menarik. Saya coba menbandingkan websitenya Perpustakaan Nasional dengan perpustakaan SG.

za - Desember 3, 2010

website perpustakaan nasional yang mana Mang Odonk?

4. Prima - November 30, 2010

Hmmm..besar sekali perpusnya… di sana mungkin satu negara satu perpus, jadi tumpah blek di sana semua, hahahahah…
dulus aya suka ke perpus di US, sayangs aya tidak pernah ambil foto disana…satu kali saya tertidur, staff perpus membangunkan saya dengan lemah lembut, hahahahah…cantik pula, saya pikir itu mimpi😛

indra kh - Desember 1, 2010

Iya saya juga kaget pas pertama berkunjung ke sini. Wah kayaknya jadi sering ke perpustakaan ya mas. Sambil pura2 tidur, siapa tahu staff yang cantik itu menghampiri lagi, haha.

5. Clara Croft - Desember 1, 2010

Tempat duduknya pasti nyaman juga ya.. tapi kalo buku disetor begitu saja, kerusakannya apa ada yang cek? Hmm.. Indonesia, semoga saja nanti budaya bacanya bisa seperti di Singapur dan negara2 maju itu..

indra kh - Desember 1, 2010

Iya mbak, dan orang rela mengantre untuk berburu tempat ternyaman.

Betul juga ya, apakah sensor bookdrop memeriksa hingga detail fisik buku atau tidak untuk memastikan tidak ada kerusakan. Saya juga kurang tahu kalau tentang itu.

6. choirunnangim - Desember 1, 2010

di per[utakaanku di Univ UMY aja sepi ko.banya yg tanya mbah google..

indra kh - Desember 2, 2010

Ya seperti itulah kodnsisi perpustaakaan di Sekolah2 Tinggi kita.

7. IndahJuli - Desember 1, 2010

kalau di Indonesia, yang ngantri tuh bioskop😀
Selain itu, budaya baca bangsa Indonesia masih kecil, jadi sebagus apa pun perpustakaannya, yang datang yang perlu saja.

indra kh - Desember 2, 2010

Haha, betul sekali. Orang rela menunggu jam pertunjukan berikutnya demi film yang ingin ditontonnya.

8. muhyasir - Desember 2, 2010

Perpusatakaannya 14 lantai? Ckckck, setara hotel bintang 4 di makassar

indra kh - Desember 2, 2010

Kunjungan sehari sangat tidak cukup untuk menjelajah perpustakaan semacam ini🙂

9. adit-nya niez - Desember 2, 2010

Di sini perpus bakal banyak yg ngantri klo di situ jadi posko pengungsian dan lagi bagi2 makanan gratis…:mrgreen:

indra kh - Desember 2, 2010

Plus bagi-bagi uang BLT😀

10. bundadontworry - Desember 2, 2010

benar2 mengagumkan semangat membaca orang singapur ya Indra.
mungkin di negeri kita, lebih banyak orang membeli buku di toko buku, krn di perpus gak tersedia buku2 baru😦
salam

indra kh - Desember 2, 2010

Iya bunda, di sana anak2 sekolah banyak yang kerja kelompok di perpustakaan karena literaturnya yang lengkap.

11. Andi - Desember 2, 2010

wealah… yg jaga perpus pake roler blade?! trus ada bookdrop juga… hebat bgt!!!
sementara kita jgn muluk2 dl lah, tingkatkan dl daya baca masyarakat…

indra kh - Desember 17, 2010

Betul, minat baca meningkat pun sudah senang

12. Pendar Bintang - Desember 2, 2010

Selamat Malam
(Dini harikali….)

Bener2 menakjubkan…seandainya di sini ada perpustakaan kaya gitu mungkin aku nggak akan pernah ngerancanain main kemana-mana saat libur…

Perpustakaan di sini koleksi bukunya jadul2 dan bukunya bau2 karena jarang di sentuh…😥

Pendar Bintang - Desember 2, 2010

Tapi masih bangga di Malang sering di adakan bedah buku di perpustakaannya, pameran buku, dan koleksinya lumayan….

za - Desember 3, 2010

Wah bagus dong, perpustakannya dinamis. Ada kehidupannya. Harusnya aku pikir di perpustakaan juga ada kegiatan.

indra kh - Desember 17, 2010

Waduh begadang nih mbak🙂

Iya kalau ada perpustakaan seperti itu di sini tentu sangat menyenangkan, apalagi kalau koleksinya juga baru2.

13. John Murdock - Desember 4, 2010

hm, klo di Indonesia= rela ngantri demi belanja
klo di Spore= rela ngantri demi ilmu, wah-wah,,,
gw jg ingat wktu datang ke perpustakaan umum di kota saya, jarang banget ada yg ngantri, yang ada hanya bangku kosong yang banyak dan berdebu,,, kapan yah Indonesia bisa menjejaki animo masyarakat yg ngantri di perpus itu?….

indra kh - Desember 17, 2010

Semoga budaya literasi di negeri ini bisa meningkat, ya mas.

14. ais ariani - Desember 4, 2010

wah keren Kang. saya hobi ke perpust
(halah gayyya)
biasanya saya ke perpust kampus emang gak nyari buku. tapi nyari tempat yang nyaman buat ngerjain tugas.

hlahh nyari buku di perpust tuh pilihan nya begini: buku baru dan copy – an yang udah lecek2 gitu.😦
kalau ada buku aseli, pasti udah keluaran tahun lama.
healaah.. kok malah curhat yah

indra kh - Desember 17, 2010

Hehe, inget jaman mahasiswa. Saya juga nangkring di perpustakaan lebih banyak untuk mengerjakan tugas.

15. edratna - Desember 4, 2010

Tentu menyenangkan ya kalau punya perpustakaan lengkap.
Tapi saya sebetulnya juga tak berhak komentar, setelah lulus dari PTN, ke perpustakaan juga hanya perpustakaan perusahaan atau yang ada kaitannya, sehingga tak tahu seperti apa perkembangan perpustakaan umum di Indonesia.

indra kh - Desember 17, 2010

Iya bu, betul. Saya juga hanya kagum saja dengan perpustakaan di Singapura ini.

16. sawali tuhusetya - Desember 5, 2010

budaya literasi di negara kita agaknya memang masih parah, mas indra. saya lihat belum ada gedung perpustakaan semegah di negeri singa itu. saya baru bisa sebatas mimpi utk menyaksikan hebatnya budaya literasi di negeri ini.

indra kh - Desember 17, 2010

Kapan ya pak bisa ada yang semacam ini di negeri ini?😦

17. senny - Desember 6, 2010

di Indonesia, perpustakaan sepi mungkin karena:
1. minat baca masyaraktnya kurang
2. kelengkapan bukunya juga kurang
3. fasilitas yang disediakan oleh perpustakaan itu sendiri tidak nyaman, sehingga mereka lebih memilih untuk membaca di rumah atau di kafe

indra kh - Desember 17, 2010

Betul sekali yang disampaikan Senny. Kalau di sini buku baru di perpustakaan juga kayaknya belum jaminan pengunjungnya akan banyak juga ya.

18. zfarlinda - Desember 9, 2010

keren banget tuh, kalo di temapat saya mah gak usah antri karena gak ada yang datang, dalam sehari yang datang bisa dihitung pake jari. miris pokoknya

indra kh - Desember 17, 2010

Di tempat lain juga kayaknya gak beda jauh kondisinya, mbak.

19. tian - Desember 9, 2010

wah, pengen punya perpustakaan kaya gtu.

indra kh - Desember 17, 2010

Sama kalau begitu ^-^

20. aswadiwarman - Desember 12, 2010

budaya literasi di indonesia masih kalah oleh budaya terasi di indonesia. orang lebih memilih menyantap sambal terasi daripada melahap bahan literasi banyak-banyak.

indra kh - Desember 17, 2010

Kapan kita makan sama2 dengan sambal terasi, bang Aswadi?🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: