jump to navigation

Pengaruh Televisi Terhadap Konsentrasi Anak April 18, 2012

Posted by indra kh in anak, family, health and wellness, keluarga, parenting, pendidikan, perkembangan anak.
Tags: , , , , ,
trackback

Dalam sebuah kuesioner sekolah yang sempat saya baca beberapa waktu lalu terdapat sejumlah pertanyaan menarik tentang tontonan anak. Sebagai contoh: Berapa lama rata-rata anak menonton televisi dalam sehari? Apakah ada batasan jenis tontonan? Siapa yang mendampingi? Apakah anak menonton sinetron? Apakah anak menonton infotainment?

Membatasi tontonan menumbuhkan minat baca (dok-indrakh)

Sangat pentingkah pengaruh tontonan bagi seorang anak sehingga perlu menjadi bahan observasi saat akan masuk sekolah? Kalau berdasarkan pengalaman saya jawabannya adalah ya! Karena kebanyakan anak sudah mulai bersentuhan dengan tayangan televisi jauh sebelum masuk usia sekolah.

Televisi itu bak dua sisi mata uang, bisa memiliki manfaat namun juga mudarat. Di satu sisi menjadi sumber ilmu pengetahuan, namun di sisi lainnya berpotensi memberikan kerugian bagi perkembangan anak.

Sejak dulu saya setuju dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa tayangan televisi untuk anak lebih banyak membahayakan ketimbang menguntungkan. Oleh karena itu saya sempat mencoba alternatif lain yakni dengan menyediakan sejumlah tontonan anak yang dikemas dalam format DVD, dengan harapan dia tidak hanya melihat sekadar tontonan tapi juga disertai tuntunan.

Pilihan saya ternyata tidak sepenuhnya benar. Meskipun tayangan dari stasiun televisi telah disubstitusi dengan tontonan DVD,  namun yang namanya tontonan sekecil apapun tetap memiliki dampak bagi perkembangan anak. Yang paling menonjol adalah pada konsentrasi anak. Di awal masa sekolah si sulung sempat kesulitan konsentrasi. Dia tidak tahan berlama-lama untuk mengerjakan sesuatu, mudah bosan.

Selidik punya selidik salah satu penyebabnya adalah karena tontonan. Perpindahan adegan dalam sebuah tontonan memang sangat cepat, konon setiap 7 detik, akibatnya konsentrasi penonton pun ikut terbawa cepat untuk mengikuti perpindahan cerita tersebut.

Waktu menonton pun memiliki pengaruh yang besar. Jika anak menonton sebelum berangkat sekolah, meskipun hanya sebentar tetap saja akan berpengaruh pada konsentrasi. Di satu sisi sejak pagi dia sudah sudah diajak bergerak cepat lewat perpindahan adegan di televisi, sedangkan di sekolah sang anak harus memulai belajar dengan ritme yang lambat.

***

Belakangan ini setelah membaca sejumlah literatur dan mendengarkan pendapat para ahli parenting, saya dan istri mencoba sejumlah kiat untuk mengatasi dampak tontonan ini.

Pertama, membatasi kuantitas menonton anak. Setiap hari sang anak hanya diperbolehkan menonton 3 buah film kartun. Kalau dihitung-hitung durasi menonton maksimalnya sekitar 75  menit. Asal-usul waktu ini saya ambil dari rekomendasi The American Academy of Pediatrics  yang menyarankan anak sebaiknya menonton tidak lebih dari 2 jam perhari.

Kedua, tidak mengijinkan anak untuk menonton di waktu sebelum berangkat sekolah. Dia diperbolehkan menonton sepulang sekolah. Tepatnya setelah makan siang. Alasannya terkait ritme pada tontonan dan pelajaran sekolah yang bertolak belakang seperti sudah saya ceritakan sebelumnya.

Ketiga, untuk mengatasi kebosanan atau perasaan sepi di pagi hari karena tidak ada siaran televisi, saya menyiasatinya dengan menyetel radio. Dengan siaran yang pas untuk didengarkan anak-anak tentunya.

Keempat,  menyediakan alternatif sarana bermain lain yang lebih edukatif, misalnya dengan menambah koleksi buku, dan alat menggambar.

Perlahan tapi pasti kiat di atas ternyata cukup berhasil juga. Konsentrasi si sulung di sekolah meningkat. Di rumah kini dia bisa tahan berjam-jam untuk menggambar, membaca buku atau pun menuliskan sesuatu yang ada dalam pikirannya.

Selain pengaruh pembatasan tontonan, sosialisasi dengan teman sebaya di sekitar rumah juga bisa menimbulkan manfaat yang banyak untuk perkembangan anak.

***

Semua orang pasti setuju jika menonton terlalu banyak akan menyebabkan kerugian bagi perkembangan anak, namun berapa lama sebenarnya waktu menonton anak sudah dianggap berlebihan?

The American Academy of Pediatrics kembali memberikan sejumlah catatan dan rekomendasi tentang hal ini.

Lembaga tersebut merekomendasikan bahwa anak-anak di bawah 2 tahun sebaiknya tidak menonton apapun, sedangkan untuk anak yang berusia lebih dari itu sebaiknya waktu menontonnya tidak lebih dari 2 jam sehari.

Mengapa anak berusia di bawah 2 sebaiknya tidak menonton apapun? Karena 2 tahun pertama dianggap merupakan saat yang kritis bagi perkembangan otak. Hiburan dan media eksplorasi bisa diperoleh dengan cara bermain, berinteraksi dengan orang tua dan orang lain. Pilihan aktivitas tersebut bisa mendorong pembelajaran dan perkembangan fisik dan sosial yang sehat ketimbang tontonan.

Apa dampak buruk lain yang bisa timbul akibat menonton yang berlebihan? The American Academy of Pediatrics menyebutkan beberapa contoh.

Pertama, anak-anak yang secara konsisten menonton lebih dari 4 jam per hari akan cenderung memiliki kelebihan berat badan (obesitas).

Kedua,  anak-anak yang melihat tindak kekerasan lebih berpotensi meniru untuk menunjukkan perilaku agresif. Namun di sisi lain anak-anak juga menjadi lebih penakut,  karena kehidupan di luar rumah menakutkan seperti yang ia lihat di televisi.

Ketiga, Karakter di televisi seringkali menggambarkan perilaku berisiko, seperti merokok, minum,dan perilaku lainnya.

***

Tantangan orang tua masa kini sepertinya akan lebih berat, karena jumlah stasiun televisi bertambah sangat banyak dibandingkan dulu yang hanya terpaku pada satu stasiun televisi. Orang tua menjadi pemegang kunci bagi perkembangan anak. Sebisa mungkin orang tua tidak menyerahkan pengasuhan pada si kotak ajaib, jangan sampai dikendalikan oleh tontonan (apapun itu), namun orang tualah yang harus membatasi dan menyeleksi tontonan untuk si buah hati.

Anda memiliki kiat lain atau pengalaman lain, silahkan berbagi di sini.

About these ads

Komentar»

1. Liaaa - April 18, 2012

makasih infonya :)

meskipun tv nyala, untungnya jav engga suka nonton tv.. dia cuman tertarik sama iklan susu..
tapi sekarang mulai stop tv, meminimalisir dialog searah.. soalnya khawatir udah 15bln ngomongnya belum lancar :(

2. Ipung - April 18, 2012

terimakasih sudah mengingatkan…

3. tricajus herbal ajaib - April 21, 2012

harus pintar-pintar menjaga tontonan anak :)

4. muslimin, balikpapan - April 24, 2012

terima kasih atas infonya, jadi harus lebih hati-hati dalam menjaga anak karna masa depan mereka tanggung jawab kita.

5. trianto - Juni 21, 2012

lebih baik, kalo belum punya TV tidak usah beli. yang sudah ada TV diusahakan dioffkan secara perlahan. ganti dengan peran orangtua yang menjadi TV bagi anak – anak(sumber informasi bagi anak).#sukses selalu*

6. Deden - Juli 23, 2012

disisi lain pemerintah juga seolah-olah masa bodo dengan tayangan tv yang tidak mendidik bagi warganya

7. Di Sini Senang - Juli 30, 2012

Teman saya di SMA ada yang 6 tahun tanpa TV di rumahnya. Hasilnya? NIlai-nilainya bagus, hafalannya mantap… jadi gak konsen nonton TV tapi konsen belajar :)

8. za - Februari 18, 2013

Kalau pengaruh Internet terhadap konsentrasi bagaimana Mang? #eeaa

9. elli nahari bbr siagian - Februari 23, 2013

anak q neysha memasuki umur 4 tahun ini…. sekarang mulai tertarik nonton acara tv, kaya’ film anak – anak atau sinetron cilik seperti biang kerok cilik, tapi q tetep menemaninya, neysha mulai mengomentari cerita film…”kan ga boleh ya ma…, kasihan ya ma…”, tapi alhamdulillah durasinya tidak terlalu lama, karena neysha aktivitas sehari – harinya cukup padat,seperti bangun pagi, langsung mandi, sarapan berangkat sekolah, di sekolah nanti sampai sore, neysha ga pernah tidur siang, jadi sore sampai dirumah, mandi…, menggambar, baca buku dll…., terkadang langsung tidur, tapi…q ngenes juga waktu baca artikel kalau anak di bawah usia 3 tahun tidak boleh menonton tv coz menghambat perkembangannnya….trz gimana ya…anak q yang ke dua fino baru 4 bulan sudah sering aku nyalain tv…, walau belum ngerti fino ga rewel…jadi q bisa sambil ngerjain tugas rumah tangga deh…,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 159 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: