jump to navigation

Menulis Elok dan Teh Kotak Mei 10, 2012

Posted by indra kh in anak, parenting, pendidikan, perkembangan anak.
trackback

Teh untuk hadiah menulis elok (gambar diambil dari http://www.ultrajaya.co.id/)

Di masa awal sekolah Taman Kanak-kanak (TK) ada satu pelajaran yang kurang disukai anak saya. Bukan menulis balok atau berhitung yang sering membuat dia cemberut, melainkan pelajaran menulis elok atau menulis tegak bersambung. Hal tersebut sempat membuat saya bertanya-tanya, mengapa pelajaran itu sudah diajarkan sejak TK? Karena setahu saya menulis elok seharusnya mulai dikenalkan ketika SD.

Kegundahan tersebut pernah mendorong saya untuk membuat tulisan “pembelajaran instan” di tahun lalu. Usai itu saya mencoba mencari informasi mengenai kurikulum TK dan RA, apakah memang pelajaran elok itu memang sesuai bahan ajar atau silabus yang diatur diknas atau tidak?

Sepintas kalau saya baca tidak menemukan anjuran itu. Model pembelajaran untuk aspek seni atau motorik implementasinya banyak dilakukan dengan cara menggambar dari bentuk dasar titik, bentuk dasar lingkaran, atau segitiga. Pandangan saya boleh jadi keliru, mungkin diantara Anda ada yang berkecimpung dalam dunia pendidikan untuk usia dini lebih paham tentang hal ini.

Istri saya juga pernah berdiskusi dengan seorang psikolog mengenai adanya pelajaran menulis elok untuk anak-anak TK ini. Dia cukup kaget, karena menurutnya jika melihat tingkat kematangan anak, pelajaran menulis halus ini sebaiknya baru diajarkan di kelas 2 SD.

Saya sepakat dengan penilaiannya itu, karena anak TK atau RA itu sebaiknya lebih banyak bermain dan mengajarkan bagaimana bersosialisasi. Dalam pengembangan aspek bahasa, kognitif, motorik, seni dan yang lainnya juga sebaiknya jangan dulu memaksa anak untuk membaca dan menulis. Saya mensinyalir banyak sekolah usia dini yang sudah mengenalkan menulis dan membaca karena maraknya sekolah dasar yang  menuntut anak harus sudah bisa membaca dan menulis saat masuk SD.

***

Ketika ada PR pelajaran yang lain seperti menulis balok atau berhitung dia sebenarnya relatif tidak menemui hambatan. Dia menyukai pelajaran tersebut, apalagi berhitung. Masalah biasanya timbul ketika gurunya memberikan PR menulis elok. Dia biasanya mogok tidak mau mengerjakan. Alasannya simpel: “Susah ah,” kata dia.

Adanya PR menulis elok itu akhirnya membuat saya mencari-cari ide, bagaimana caranya agar anak mau mengerjakan dengan senang hati. Karena walau bagaimanapun sebagai orang tua tentu tidak mungkin saya menyarankan kepada anak saya untuk tidak mengerjakan PR menulis elok tersebut. Dia tetap harus taat pada tugas yang diberikan sekolahnya. Perkara saya tidak setuju dengan metode yang diberikan sekolah itu hal yang lain.

Akhirnya terlintas sebuah ide yang saya yakin selalu terpikir oleh para orang tua, yakni dengan menawarkan hadiah.

Saya coba mengobrol dengan sang bocah. Saya bilang begini: “Kerjakan saja sebisanya, dicoba dulu. Mau bagaimana pun hasilnya yang penting sudah dicoba. Nah kalau nanti kalau setiap dapat nilai A, akan dapat hadiah Teh Kotak! “Bagaimana,” tanya saya kepadanya. Ternyata dia mau menjawab tantangan saya. :)

Dalam hati saya berpikir, yang penting mau mengerjakan dulu, lah. Perkara nilai itu urusan belakangan.

Di awal-awal dia agak kecewa juga karena nilai “A” itu tak kunjung tiba, hehe. Namun setelah agak lama, kurang lebih 3 bulan yang lalu untuk pertamakalinya dia diberi nilai “A” oleh gurunya. Senangnya bukan kepalang. Kontan saja dia menagih janji kepada saya. Ketika pulang ke rumah teh kotak yang sudah dijanjikan saya berikan kepada dia.

Sebagai orang tua tentu ada perasaan gembira ketika anak bisa menikmati tugas sekolahnya, tanpa merasa ada tekanan dan takut salah. Terlepas dari itu saya pikir memang sudah tiba pada masanya saja dia bisa mengerjakan. Sama seperti ketika dia tiba-tiba saja jadi bisa menggambar, mewarnai, dan berhitung dengan baik.

Belakangan dia makin sering dapat nilai “A” untuk menulis elok, pelajaran yang sebelumnya dia benci. Dan tentu saja semakin banyak Tek Kotak yang saya berikan kepadanya. Tapi tidak apalah, yang penting dia bisa happy mengerjakan tugas sekolahnya.

About these ads

Komentar»

1. Imelda - Mei 10, 2012

sistem reward memang kadang merupakan jalan yang manjur ya

indra kh - Mei 11, 2012

Kadang kalau lagi terdesak, terpaksa reward jadi jurus pamungkas :)

2. Yudhi Hendro - Mei 10, 2012

Proses pembelajaran memang perlu cara kreatif dan disiplin.

indra kh - Mei 11, 2012

Betul mas. Mudah2an saja cara semacam yang saya tempuh tidak keliru

3. alamendah - Mei 10, 2012

Menurut saya pelajaran menulis indah itumemang belum proporsi anak TK/RA. Btw, pemberian hadian semacam ini mungkin bisa sedikit mengurangi stress anak dalam mengerjakan tugas2 tertentu.

indra kh - Mei 11, 2012

Nah iya sepakat saya mas. TK/RA baiknya saatnya bermain dan bersosialisasi saja.

4. junthit - Mei 11, 2012

Weeh… masih aktif ngeblog mas? hebat!
blog saya sudah koit beberapa tahun silam. ini saya isi artkel lagi dari cachenya google karena lagi iseng2 ikutan kontes SEO. lumayan buat backlink.

indra kh - Mei 11, 2012

Masih mas, walaupun intensitasnya jauh menurun dibandingkan dulu, hehe.

Semoga sukses ikutan kontes SEO-nya :)

5. Toko Baju - Mei 11, 2012

Memang benar, seharusnya anak usia TK itu memang lebih banyak diajarkan ke sosialisasi, namun pada tahap akhir TK mustinya memang harus ada sedikit pelajaran menulis untuk bekal dia ke SD, apalagi sekarang sudah ada model PlayGroup, jadi sebagian anak sudah biasa bersosialisasi semenjak dia di PlayGroup tersebut..

6. barkatlangit - Mei 11, 2012

Sepertinya jadi orang tua zaman sekarang dituntut untuk lebih kreatif mensiasati pendidikan anak. Kasus seperti kang Indra ini pernah saya alami juga dan pola reward ini memang lebih efektif dibanding punishment. Kata teman saya yang berasal dari kalangan pendidikan katanya memang ada kekeliruan di lapangan dalam menginterpretasikan apa yang ada dalam Kurikulum…Saya nggak tau betul atau tidaknya tapi bisa jadi ada benarnya juga :-)

7. za - Mei 11, 2012

Hihi… saya kira di tulisan halusnya, disuruh menulis “Teh Kotak” Salut buat Zahra yang terpacu mencoba!

8. Pewarta27 - Mei 12, 2012

Sepertinya terlalu dini. Mungkin juga ada pemikiran, anak2 kecil mudah menyerap informasi jauh lebih baik, lebih cepat, lebih banyak segala hal. Dan semakin lama, semakin banyak saja generasi muda yang pandai, terutama dalam mencipta sst yg baru … bila kita simak … betapa mereka maju lebih pesat ketika ber-eksperiment. Coba lihat saja .. betapa anak2 skrg mampu mencipta banyak hal. Salam

9. pakdar - Mei 12, 2012

Salam kenal semuanya …
menulis elok,
Waktu saya TK ……th 1978, usia 6 th…….. kalau sekarang mungkin TK usia 6 th dah ketuaan ya, juga sudah diajari dulu namanya menulis halus.
kalau saya bandingkan dengan anak saya sekarang (usia 5 th di TK juga sudah diajari menulis halus) kok hasilnya bagusan tulisan saya dulu ya.
….
Temen saya juga ada tuh, anaknya baru umur 3 th dah dimasukkan ke pra TK.
Sebenarnya ada gak sih penjelasan untuk masalah usia berapa idealnya anak boleh sekolah di PraTK/TK/PAUD?

10. jimmy - Mei 14, 2012

Enak tuh gan teh kotak nya,, bagi dunk.. :)

11. muhyasir - Mei 15, 2012

jangan biasakan mengiming-imingi hadiah pak, takutnya anak jadi tidak ikhlas belajar…

12. nengnongkangkung - Juni 8, 2012

ini sih curhatan mantan guru sd kelas 1, yg gaulnya sama anak tk juga:
katanya merasa aneh jg sama kurikulum dqn buku pegangan sd sekarang..merasa pelajaran kelas 1 itu susaaahh deh, jadi kalo ga bisa baca repot juga.
dilema,,
eh ga tau susah, ga tau salah menginterpretasikan kurikulum yang ada.

eh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 159 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: