jump to navigation

Sawah yang Tersisa Agustus 29, 2012

Posted by indra kh in Bandung, Environment, lingkungan, nostalgia.
Tags: , , , ,
trackback

Di sekitar Coblong, Cihaur, Bangbayang, hingga Cisitu pemandangannya masih hijau menyejukkan. Sawahnya masih menghampar. Suara derasnya aliran air irigasi yang mengalir dari mulai pabrik kerupuk RDN hingga ke kawasan Cihaur, tempat saya bermain dulu masih membekas di ingatan

Perjalanan kemarin ketika sedang melewati kawasan Resort Dago Pakar sempat terhenti sejenak. Pandangan saya tiba-tiba  tertuju kepada hijaunya persawahan yang ada di samping jalan, tepatnya di perbatasan antara permukiman penduduk sekitar dan konplek perumahan. Ternyata masih ada sawah yang tersisa di Dago. Namun entah sampai kapan lahan tersebut akan mampu bertahan. Boleh jadi, tak lama lagi nasibnya akan sama dengan persawahan lain di Dago, menghilang dan berubah menjadi bangunan perumahan mewah.

“Salah satu sawah yang masih bertahan di Dago” (dok-indrakh)

Hingga pertengahan tahun 80-an atau menjelang awal tahun 90 sepengetahuan saya persawahan di Dago masih relatif banyak di temui. Di sekitar Coblong, Cihaur, Bangbayang, hingga Cisitu pemandangannya masih hijau menyejukkan. Hamparan sawahnya masih ada. Suara derasnya aliran air irigasi yang mengalir dari mulai pabrik kerupuk RDN hingga ke kawasan Cihaur tempat saya bermain dulu masih membekas di ingatan. Ya, meskipun tempat tinggal orang tua waktu itu bukan di Dago, namun banyak sekali saudara saya yang tinggal di sana, sehingga ketika musim libur tiba atau akhir pekan aktivitas masa kanak-kanak saya banyak dilakukan di daerah ini.

Ketika sawah usai dipanen yang menyenangkan bagi anak-anak seusia kami waktu itu adalah tentu saja bisa bermain bola di area yang luas. Selain bisa bermain bola, permainan yang paling asyik dilakukan ketika usai masa panen adalah jika bertepatan dengan musim layang-layang, karena serasa tiba-tiba memiliki lapangan khusus untuk bermain. Mengadu layang-layang pun semakin seru. Terkadang memang bermain curang  juga. Bersama teman-teman saya suka menggunakan kunci agar bisa menang, mumpung ada tempat untuk berlari menarik benang sejauh mungkin dengan kunci tersebut. Seingat saya tak hanya anak-anak yang senang bermain layangan di area persawahan yang habis di panen, orang tua juga banyak. Bahkan tekniknya lebih tinggi lagi ketika mengadu layangan, yakni dengan menggunakan kincir.

Kesan bermain layang-layang di area persawahan lainnya adalah ketika menjahili pemain lainnya, yang lokasinya berada jauh dari Kami. Biasanya jika mereka kalah, benang kenur atau gelasannya akan  menjuntai ke tanah. Nah saat itulah biasanya benang tersebut Kami tahan sehingga sulit ditarik oleh mereka. Bahkan jika benangnya berkualitas bagus tidak jarang Kami putuskan dan diambil. Di tanah Sunda istilahnya lebih dikenal dengan “ngarebol.”

***

Seperti dituliskan oleh Her Suganda dalam bukunya yang berjudul “Jendela Bandung,” di zaman dulu daerah Dago ini sebenarnya merupakan hamparan sawah yang subur. Keadaannya digambarkan secara singkat dalam riwayat didirikannya Technische Hoogeschool Bandoeng/THB. Pada saat perguruan tinggi teknik tersebut diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada hari Sabtu, tanggal 3 Juli 1920, Prof. Ir. J Klooper, Rector – Magnificus TH pertama mengungkapkan keadaan di sekitar kampus. Katanya: “Pada tanggal 4 Juli 1919, di tengah-tengah pesawahan yang membentang diantara Cikapundung dan Jalan Dago, pada sebidang tegal yang hanya bisa dicapai melalui pematang sawah yang sempit, ditanamlah empat pohon beringin (oleh empat gadis berbagai bangsa), di tengah-tengah dataran tempat kompleks bangunan Technische Hoogeschool akan didirikan.

Saya memang tidak mengalami masa-masa tersebut. Namun setidaknya hingga menjelang awal 90-an persawahan di kawasan Utara Dago itu masih cukup banyak. Kalau untuk di kawasan selatan Dago memang waktu itu juga sudah tidak ada, karena ketika jaman Belanda kawasan tersebut sudah didesain untuk open westerse-bouw, bangunan untuk penghuni elite orang-orang Belanda dan Eropa.  Oh ya, kawasan Utara Dago itu wilayahnya terletak sejak simpang empat Jalan Ir. H. Djuanda dengan Jalan Dipati Ukur/Jalan Siliwangi sampai daerah Dago Utara. Sedangkan kawasan Selatan adalah sejak simpang empat Jalan Ir. H. Djuanda sampai simpang empat Jalan Ir. H. Djuanda  dengan Jalan R.E Martadinata dan Jalan Merdeka.

Kini di era tahun 2000 persawahan di daerah Dago menyusut drastis. Meskipun saya tidak tahu persis berapa persentase alih fungsi lahan persawahan menjadi permukiman atau pusat bisnis yang terjadi di Dago, namun secara kasat mata pun sudah bisa menegaskan hal tersebut. Sekarang, selain di dekat Resort Dago Pakar tadi, dimana lagi masih ada sawah yang tersisa? Daerah Tanggulankah? Mungkin diantara ada yang tahu?

***

Susah memang, alih fungsi lahan tersebut sulit dihindari dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang tinggi seperti sekarang ini. Namun menurut saya selain faktor tersebut, andil pembiaran oleh pemerintah juga memegang peranan dalam menyusutnya area persawahan di Dago.  Beberapa dekade ini tata kota Bandung bisa dibilang sangat amburadul, sudah tidak jelas mana kawasan khusus hunian, mana kawasan khusus bisnis, ruang terbuka hijau, dsb.

Semoga saja hingga masa depan masih ada lahan persawahan yang masih bisa bertahan, agar orang Bandung masih bisa menunjukkan secara dekat kepada anak cucunya bagaimana itu indahnya sawah.

Komentar»

1. Antyo - Agustus 30, 2012

Dan leluconnya tetap saja, “Padahal di ITB ada jurusan planologi kan, ya?”😀
Sampai awal 90-an, sekitar Sarijadi sampai tembus Cimindi di Cimahi itu banyak sawah. Sekarang rumah semua. Sekitar kampus Maranatha yang dulunya ladang sudah padat sekarang. Byuh, berat amat beban lingkungannya ya?
Lima tahu lalu saya bertandang ke sebuah perumahan di Dago yang melalui jalanan curam. Ternyata di dalam juga sudah padat.

2. sewa mobil jakarta - Agustus 30, 2012

Setuju, sawah dan ruang terbuka hijau harus dipertahankan untuk menunjang keseimbangan hidup manusia.

3. gogo - Agustus 30, 2012

sawah keluarga ane skrg terjepit perumahan..

4. peyek - September 6, 2012

Sepertinya dimana-mana sama, saya nggak ngerti seberapa cepat sebenarnya penambahan penduduk di negeri ini, jika data kependudukan layak diragukan, bukannya ini adalah akibat dari hasrat ekonomi dengan dalih investasi?

5. lola - September 12, 2012

sudah jarang terlihat sawah2 sekarang ini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: