jump to navigation

Bemo di Tepi Zaman September 7, 2012

Posted by indra kh in nostalgia, transportasi, transportation.
Tags: , , , ,
trackback

Ketika sedang melewati Jalan Bendungan Hilir, Jakarta, saya cukup kaget karena di kawasan tersebut bemo masih berseliweran. Kendaraan umum beroda tiga peninggalan masa lalu itu masih eksis di ibukota. Padahal di sejumlah kota besar, termasuk Bandung sudah lama tiada.

Bemo di Bendungan Hilir (dok – indrakh)

Memang waktu itu saya tidak menumpangnya, hanya sempat melihat saja. Namun karena melihat bemo tersebut ingatan saya jadi mundur lagi ke belakang, mengingat-ingat lagi ke masa lalu, nostalgia ketika naik bemo di Bandung.

Dibanding oplet, bemo atau becak motor memang relatif lebih lama bertahan di kota kembang. Meskipun mulai terdesak kehadiran angkot tapi si “monyong” ini masih lalu lalang di jalanan Bandung hingga pertengahan tahun 80-an. Rute yang paling sering saya naiki saat itu adalah Abdul  Muis/Kebon Kalapa – Situ Aksan, karena rumah orang tua berada tak jauh dari sana.

Saat itu terminal Leuwipanjang memang belum ada. Terminal di pusat kota masih menggunakan terminal Abdul Muis atau lebih dikenal dengan Kebon Kalapa, dan tempat mangkal bemo berada di salah satu sudut di bagian utara terminal tersebut. Tepatnya di dekat warung nasi Ampera yang kala itu baru ada satu-satunya dan belum menggurita seperti sekarang ini.

Saat saya masih kecil jika bepergian menggunakan bemo sangat senang mengamati. Ngetem atau menunggu penumpang memang sudah ada sejak dulu. Nah jika bemo sedang ngetem di terminal para pengemudinya santai saja makan atau ngopi di warung. Bemo-bemo milik mereka serahkan saja kepada para calo untuk diantrikan, menanti giliran untuk menjadi yang paling depan untuk diisi penumpang. Karen ringan, para calo ini tidak perlu menghidupkan mesin untuk memajukan bemo-bemo tersebut. Mereka cukup mendorong dari luar sambil tangannya menjangkau setir dari jendela sebelah kanan.

Jika naik bemo saya senang duduk di depan karena bisa melihat cara supir bemo mengemudi dan mengintip mesin dari celah  persneling. Kok bisa? Karena bemo itu biasanya dibagian persnelingnya tidak tertutup sehingga bisa melihat ke bagian mesin. Hawa panas memang cukup terasa jika duduk di depan, tapi sensasinya mengasyikkan saja. Maklum anak kecil.

Sekarang bemo sudah tidak mangkal lagi di terminal Kebon Kelapa. Bemo sudah tersingkirkan, begitu pula dengan terminalnya, sudah berubah menjadi pusat perbelanjaan.

***

Sebenarnya bemo ini termasuk cikal bakal mobil Mitsubishi. Konon awalnya bukan diperuntukkan untuk kendaraan pengangkut penumpang, namun untuk mengangkut barang. Entah bagaimana ketika sampai ke Indonesia justru dijadikan kendaraan penumpang. Itulah sebabnya jika duduk di bagian belakang terasa sempit, bahkan diantara penumpang yang berseberangan sering beradu lutut karena memang bukan untuk mengangkut orang.

Bemo mulai digunakan di Indonesia pada awal tahun 1962, pertama-tama hadir di Jakarta dalam kaitannya dengan Ganefo. Hingga saat saya belum mengerti mengapa kehadiran bemo dikaitkan dengan Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang atau Games of the New Emerging Forces (GANEFO)? Apakah karena pada saat itu kendaraan umum masih kurang sehingga perlu ditambah, dan supaya jumlahnya bisa banyak dipilihlah bemo karena kendaraannya kecil. Jika ada yang tahu alasan pemilihan bemo pada saat itu silahkan berbagi cerita di sini.

Selain Jakarta, bemo kala itu mudah ditemukan di Bogor, Bandung, Surabaya, Surakarta, Malang, Padang, Denpasar. Di tahun 80-an perlahan mulai habis. Salah satu tujuan kehadirannya sebagai pengganti becak tidak pernah kesampaian karena hingga kini becak masih banyak ditemui. Polusi yang ditimbulkan menjadi penyebab kenapa bemo disingkirkan.

Beruntung sampai saat ini bemo masih ditemui di Jakarta, sehingga Anda masih bisa menunjukkan kepada anak cucu bagaimana bentuk transportasi di masa lalu. Meskipun alat transportasi umum di Jakarta terus berkembang makin maju,  Tak hanya bis, metromini atau mikrolet saja. Setelah busway konon akan ada juga monorel dan MRT. Namun Jakarta juga ternyata masih ramah terhadap kendaraan umum masa lalu yang melegenda semacam bemo, bajaj, atau oplet. Meskipun jumlahnya terus menyusut, keberadaannya terus tersudut, karena sudah ada di tepi zaman.

Punya kenangan dengan bemo? Atau mungkin di daerah Anda kendaraan yang satu ini masih ada?

Komentar»

1. za - September 7, 2012

Awalnya saya baca, Bemo di Tepi Zalan #eeaa

indra kh - September 7, 2012

Bah macam-macam saza si abang nih🙂

2. Antyo - September 7, 2012

Bemo di Jakarta yang masih jalan misalnya rute Stasiun Mangga Besar – Perempatan Olimo (Jalan Hayam Wuruk). Saya sempat memotreti dan wawancara dengan beberapa sopir dan timer, tapi karena kesempatan menulisnya tertunda terus maka bahan itu menguap. Ketika waktu menulis tiba eh mood sudah hilang, dan sebagian ingatan sudah luntur (misalnya setoran per hari, harga suku cadang termahal, biaya menebus razia dsb).

3. lola - September 12, 2012

bemo skarang masi digunakan kog..belum terlalu ditinggalkan

4. gogo - September 12, 2012

syg, blm pernah ngerain naik bemo..

5. za - September 13, 2012

Saat saya kecil, di depan rumah ada bemo. Rutenya dari Pangkalan Jati – Pasar Klender. Saat saya naik dan tumbuh besar, kaki harus miring agar bisa muat.

6. unikgaul.com - November 14, 2012

artikelnya bagus bagus sob,, senang baca baca di sini.🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: