jump to navigation

Mengenalkan Hiking Pada Balita November 26, 2012

Posted by indra kh in anak, family, health and wellness, hidup, hiking, Jalan-jalan.
Tags: , , ,
trackback

Datangnya akhir pekan berarti saatnya untuk menjelajah rute baru untuk walking atau hiking, karena bagi keluarga Kami hari Sabtu atau Minggu merupakan family hiking day. Beruntung sekali Kami tinggal di daerah pegunungan sehingga rute hikingnya pun sebenarnya tidak perlu jauh. Asalkan rute yang akan dilalui itu memiliki letak ketinggian yang bervariasi, jarak 4 – 5 KM pun saya kira sudah cukup. Masih adanya anak balita dalam anggota keluarga Kami juga menjadi pertimbangan hal tersebut.

“Mengenalkan hiking sejak dini (dok – indrakh)”

Orang sering bilang kalau berolahraga bersama anak balita itu bikin repot. Kurang bisa dinikmati. Pendapat seperti itu tentu sah-sah saja, tapi berdasarkan pengalaman sih sebenarnya jika sudah dicoba tidak repot-repot amat.

Masa yang dianggap repot mungkin ketika anak balita belum bisa berjalan, sehingga orang tua masih harus menggendongnya kemana-mana. Namun sebenarnya di masa itulah peran Anda sebagai orang tua untuk mulai mengenalkan asyiknya hiking kepada sang buah hati. Meskipun harus sambil menggendongnya, asalkan bergantian dengan istri/suami tidak akan terasa berat. Anggap saja semacam olahraga berjalan kaki sambil membawa beban, hehe.

Balita hiking mulai usia berapa?

Mulai usia berapa sebaiknya balita dikenalkan pada hiking? Kalau menurut saya ketika dia sudah bisa duduk dengan tegak sudah bisa untuk memulai pengenalan. Tak masalah sepanjang perjalanannya digendong juga.  Saya pribadi baru mengenalkan hiking kepada si bungsu ketika usianya kurang dari 1 tahun.  Mengapa meskipun anak belum bisa berjalan perlu dikenalkan walking atau hiking? Agar ketika sudah bisa berjalan minat terhadap olahraga tersebut sudah tumbuh, sehingga ketika orangtuanya mengajak hiking ia akan langsung suka.

Untuk tahap awal tentu saja jangan langsung menargetkan rute yang jauh, bisa-bisa Anda hanya bisa kuat berangkat dan tidak sanggup untuk pulang lagi ke rumah. Setiap pekan tambahkan jarak rute yang akan ditempuh secara bertahap. Kombinasikan dengan variasi ketinggiannya. Jika  variasi ketinggian pada rute yang akan ditempuh cukup ekstrim, maka jaraknya sebaiknya tidak terlalu jauh, sebaliknya jika rute yang akan ditempuh relatif datar maka sebaiknya jaraknya harus lebih jauh.

Sebagai contoh, pada waktu anak yang paling kecil sudah bisa berjalan dengan baik (kurang lebih 1,5 tahun), Kami hanya menjelajahi rute yang pendek saja, yakni sekitar 1 KM dengan variasi ketinggian seperti grafik di bawah ini.

Rute hiking balita 1,5 tahun (dok – indrakh)

Dengan rute seperti ini saya ingin tahu apakah balita 1,5 tahun mampu melewati rute seperti ini? Ternyata waktu itu dia bisa sampai ke finish tanpa digendong. Tantangan orang tua dalam membujuk anak ternyata bukan pada jauhnya rute yang akan dilewati, tapi pada medan yang dihadapi. Anak saya pada awal pengenalan hiking cenderung rewel dengan kondisi tanah basah, berlumpur, ada parit kecil yang harus dilewati, atau semak yang terlalu rimbun.

***

Setiap pekan rute tersebut Kami tambah beberapa ratus meter, dan mencari lokasi yang bervariasi. Beberapa waktu lalu si bungsu sempat melintasi rute Maribaya – Dago Pakar juga, meskipun belum sepenuhnya terbebas dari menggendong🙂

Pada pekan lalu dia sudah berhasil melewati rute kurang lebih 4 km dengan hanya dua kali gendong. Kalau dihitung bersihnya sekitar 3 km dia mau berjalan sendiri. Tentu saja kemampuannya sudah sangat meningkat dibanding dulu. Apalagi kalau dilihat variasi ketinggiannya lumayan sulit juga sih. Rutenya seperti ini:

Rute hiking balita 2,5 tahun (dok – indrakh)

Saat hiking pekan lalu dia minta digendong di KM 2 dan KM 3.

***

Beberapa hal yang perlu dipersiapkan jika akan mengajak balita Anda untuk hiking:

Rencanakan rute

Satu hal yang paling penting sebelum mengajak hiking keluarga Anda adalah rencanakan rute terlebih dahulu. Hal ini perlu dilakukan untuk melihat tingkat kesulitan medan yang akan dilalui, terutama untuk anak balita. Idealnya sih memang rute yang dipilih adalah jalur yang sudah pernah dilalui agar mudah mengukurnya, namun terkadang bosan juga kalau melewati rute yang itu-itu lagi.  Saya biasanya mencoba memprediksi tingkat kesulitan itu dengan mencoba merencanakan rute dengan menggunakan peta, misalnya dengan menggunakan fasilitas google earth. Memang sih akurasinya tidak selalu benar karena data yang diambil biasanya yang beberapa tahun lalu, tapi itu cukup membantu.

Persiapan bekal dan peralatan

Aspek lain yang tak kalah pentingnya jika akan mengajak balita Anda hiking adalah perbekalannya. Jika memilih rute pegunungan, jangan pernah berpikir di sepanjang rute yang akan dilalui  mudah dijumpai toko atau warung, oleh karena itu persiapkan bekal si kecil dengan baik. Roti, biskuit, susu pastikan sudah tersedia, karena anak balita biasanya rewel akan makanan/minuman.

Lengkapi  si kecil dengan pakaian yang melindungi: Baju lengan panjang dan celana panjang, kaus kaki, sepatu, topi, jas hujan. Semuanya itu untuk melindungi balita selama perjalanan dari kemungkinan cuaca panas/hujan, duri pada semak belukar/tumbuhan lainnya, lumpur, batu, dsb. Jangan biasakan anak berolahraga jalan kaki dengan sandal, atau bahkan tanpa dilengkapi kaus kaki.

Persiapan obat-obatan

Selain perbekalan makanan dan perlengkapan, hal lainnya yang perlu dipersiapkan adalah obat-obatan. Jangan lupa untuk membawa obat-obatan pribadi sang anak (jika ada), atau minimal bawa obat-obatan yang akan berguna saat  di perjalanan nanti, seperti obat gosok, obat gatal, obat oles anti nyamuk, dan obat luka dan plester pelindung luka.

***

Itulah sekilas yang bisa saya bahas tentang bagaimana untuk melatih balita untuk hiking. Boleh jadi masih banyak aspek lain yang belum saya sentuh, namun semoga tulisan ini bermanfaat.

Selamat hiking!

Komentar»

1. Tempat Tinggal dan Anak | Zaki Akhmad - November 26, 2012

[…] Berbeda dengan rekan saya yang tinggal di perbukitan. Yang ia perkenalkan adalah bagaimana menikmati menaiki bukit. […]

2. Marchia Diandra - November 26, 2012

Waah hebat dari usia satu tahun sudah dikenalkan hiking ckckck🙂
Kapan saya bisa memperkenalkan anak saya hiking ya *jadi ngiri

3. za - November 26, 2012

Grafiknya dapat dari mana Mang? Keren juga.

indra kh - November 26, 2012

Pake google earth, zak

Budi Santoso - Maret 5, 2013

sepakat. Grafiknya bagus.

4. Aulia - November 26, 2012

ini nanti bakal jadi balita petualang deh, minimal backpacker🙂

indra kh - Maret 27, 2013

Mudah2an senang berjalan kaki, menjelajah hutan sampai nanti🙂

5. Wong Cilik - November 26, 2012

keren, mengajari anak hiking sejak kecil …

indra kh - Maret 27, 2013

Rekreasi murah dan menyehatkan, hehe

6. bang jay ngeblog - Desember 1, 2012

keren gan, pasti tar gedenya jago tu😀

bang jay ngeblog

7. baju muslimah bandung - Desember 7, 2012

Sip bagus bagus, memperkenalkan alam sejak usia dini kepada anak anak biar anak jadi mandiri.

8. ratutebu - Desember 17, 2012

kalo anakkuu jalan lurus aja ogah2an, begimana kalo hiking😀

indra kh - Maret 27, 2013

Siapa tahu kalau hiking mah suka karena ada tantangannya, mbak😀

9. Budi Santoso - Maret 5, 2013

terimakasih, Pak. bermanfaat ini sharing pengalamannya.

indra kh - Maret 27, 2013

Alhamdulillah kalau bermanfaat🙂

10. Merencanakan Hiking | Bilik Tak Berruang - Maret 16, 2013

[…] baca postingan dari kang Indra tentang Hiking Bersama Balita nampaknya sangat seru sekali. Berjalan-jalan menyusuri jalan setapak di alam terbuka tentunya akan […]

11. Surti - Desember 16, 2013

Mas Indra, saya ingin sekali mengenalkan alam pada tiga anak saya: umur 11, 5, 1,5 th. Ada rencana pergi ke hutan Cikaniki Citalahab di Bogor awal tahun ini. Mohon saran: apakah bisa kita ‘nekat’ jalan saja dengan ditemani pemandu? Atau sebaiknya si abang dan kakak saja yang ikut, si bungsu ditinggal? Katanya sih jalaur pendakian relatih tak terlalu sulit, cukup landai biasanya ditempuh orang dewasa selama 1,5 jam. Kami bayangkan mungkin kami bisa jalan bolak-balik seharian penuh. Banyak terimakasih.

indra kh - Desember 16, 2013

Untuk anak 1,5 tahun rute 1,5 jam cukup, harus ada beberapa kali istirahat tentunya. Tapi ada baiknya dilatih dulu sebelum berangkat, misalnya setiap akhir pekan dengan panjang rute yang terus ditambah, agar nantinya tidak kaget.

Syarat penting lainnya adalah orang tuanya harus siap jika nanti anak akan minta gendong jika merasa sudah tidak kuat🙂

Harus dicermati juga sih, apakah ketika anak minta digendong saat hiking itu karena benar-benar sudah lelah atau karena sekedar manja.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: