jump to navigation

Belajar Membuat Kompos Maret 15, 2013

Posted by indra kh in Environment, inspirasi, lingkungan, Sampah.
Tags: , , , , ,
trackback

Satu hal yang melatarbelakangi keinginan untuk mengolah sampah menjadi kompos adalah jauhnya TPS (Tempat Pembuangan Sementara) dari rumah Kami. Jika akan membuang sampah harus berangkat menuju TPS di kota kecamatan, yang terlalu jauh untuk dijangkau dengan cara berjalan kaki. Akibatnya aktivitas membuang sampah menjadi sesuatu yang menyulitkan.

Tong pembuat kompos (dok-indrakh)

Tong pembuat kompos (dok-indrakh)

Untuk jenis sampah anorganik mungkin masih bisa diakali dengan cara membakarnya, namun untuk sampah organik seperti  sampah yang berasal dari dapur tidak mungkin dilakukan dengan cara semacam itu. Parahnya lagi sebagaimana yang terjadi di semua rumah, timbulan sampah organik inilah yang jumlahnya paling besar. Bisa dibilang 60% timbulan sampah yang dihasilkan rumah tangga setiap hari adalah sampah organik.

Kesulitan dalam membuang sampah ini ternyata ada hikmahnya juga. Membuat Kami jadi berpikir bagaimana caranya untuk menangani masalah sampah rumah tangga. Sempat juga mencoba pengolahan dengan cara membuat lubang di pekarangan yang diisi sampah organik, namun ternyata jadi banyak lalat dan bau. Pada akhirnya saya dan istri sepakat untuk mencoba mengolah sampah dengan cara membuatnya menjadi kompos.

Tong plastik untuk komposter

Untuk membuat kompos, alat yang digunakan adalah tong plastik yang biasa digunakan untuk wadah air. Anda bisa membelinya di supermarket atau di penjual jerigen atau drum. Harganya sekitar 100 – 150 ribu rupiah. Jumlahnya bisa Anda sesuaikan sesuai kebutuhan. Saya sendiri menyiapkan dua tong plastik untuk dijadikan komposter.

Tong plastik tersebut kemudian dilubangi di bagian bawahnya. Tujuannya agar cairan sampah (lindi) pada saat pengolahan terjadi dapat terbuang keluar. Meskipun ada juga yang memilih menampung kembali cairan lindi tersebut untuk digunakan sebagai pupuk cair.

Metode pengolahan kompos yang kami pilih adalah anaerob sehingga bagian tong yang dilubangi hanya bagian bawahnya saja. Jika Anda akan memilih metoda aerob, bagian samping dari tong plastik tersebut sebagiknya dibuat lubang-lubang kecil agar udara bisa masuk, atau bisa juga dengan memasang pipa di tengah-tengahnya.

Memilah sampah

Sebenarnya langkah inilah yang paling penting. Untuk mengolah sampah kita harus mulai belajar untuk memilah sampahnya terlebih dahulu, agar mudah ketika akan membuat komposnya. Pada awalnya kami mencoba membuat dua tong sampah di dapur; yang satu untuk sampah kering (anorganik), dan tong sampah yang satunya lagi untuk membuang sampah basah (anorganik organik). Namun cara semacam ini ternyata kurang efektif juga, karena untuk sampah basah ketika akan dimasukkan ke dalam pengolah sampah masih banyak terlalu banyak mengandung air.

Lalu dicobalah cara lain. Untuk sampah basah Kami menyediakan semacam saringan yang terbuat dari wadah plastik yang bawahnya berlubang, sehingga ketika akan mencuci piring, sampah sisa makanannya tinggal dimasukkan ke dalam wadah tersebut. Nanti ketika sudah penuh, sampah dalam wadah tersebut tinggal dimasukkan ke dalam tong pembuat kompos.

Bakteri pembuat kompos

Agar pengolahan sampah berjalan efektif sebaiknya juga menggunakan bakteri. Ada beberapa jenis bakteri pengurai sampah yang bisa dipilih; bisa dengan cara membuatnya sendiri atau membeli di toko pertanian.

Untuk melihat efektifitasnya kemudian Kami mencoba kedua jenis bakteri tersebut.  Untuk tong yang pertama  dicoba dengan menggunakan bakteri nasi. Sedangkan untuk tong kedua menggunakan bakteri EM4 yang dibeli dari toko pertanian.

Sebagai gambaran untuk membuat bakteri nasi, cara membuatnya seperti ini:

  • Siapkan nasi busuk (nasi yang sudah dibusukkan selama 3 hari) kurang lebih 1/2 kg
  • Siapkan juga gula merah  1/2 kg
  • Nasi busuk dan gula merah tersebut kemudian dicampurkan, dan diaduk hingga merata
  • Setelah selesai, campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah bertutup, lalu diisi air kurang lebih 10 liter
  • Tunggu hingga 10 hari, bakteri nasi sudah bisa digunakan untuk pembuatan kompos
  • Jika akan membuat bakteri dengan jumlah yang lebih sedikit, Anda bisa mengurangi takaran-takaran di atas dengan perbandingan yang sama

Dari hasil percobaan pembuatan kompos tersebut ternyata yang lebih efektif adalah ketika menggunakan EM4. Pembusukannya lebih cepat. Entahlah apakah karena bakteri nasi yang dibuat masih kurang campuran lain atau apa.

Cara mengolah sampah menjadi kompos

Cara pengolahan sampah menjadi kompos ini langkah-langkahnya kurang lebih sebagai berikut:

  • Sampah organik hasil pemilahan dimasukkan ke dalam komposter tong plastik
  • Campur sampah tersebut dengan sedikit tanah (bisa juga serbuk gergaji). Perbandingannya bisa 1:1
  • Jangan lupa untuk menutup komposter
  • Setelah tong plastik terisi seperempatnya campurkan bakteri pengurai
  • Lakukan pengadukan secara berkala agar proses pengolahan berlangsung merata
  • Periksa komposter, jika terasa hawa panas dari dalam tong yang telah diisi sampah tersebut berararti pengolahan berjalan dengan baik, namun jika banyak lalat atau belatung biasanya pembuatan kompos gagal

Pupuk kompos dari hasil pengolahan sampah rumah tangga ini biasanya sudah bisa dipanen kurang lebih setelah dua bulan.

***

Itulah sekilas cerita Kami tentang belajar membuat kompos. Mungkin diantara Anda ada yang lebih berpengalaman dalam hal ini bisa berbagi tipsnya.

Semoga jika ada yang tertarik ingin membuat kompos, pengalaman ini bisa bermanfaat.

Komentar»

1. Yudhi Hendro - Maret 15, 2013

selain sampah organik rumah tangga, daun-daunan juga bisa untuk kompos, Kang

indra kh - Maret 18, 2013

Iya pak betul. Kalau saya daun-daunan kering itu dicoba diolah dengan metode biopori

za - Maret 27, 2013

Lah biopori bukannya lubang? Apa hubungannya dengan daun?

indra kh - Maret 27, 2013

Biopori memang multi manfaat, Zak. Selain sebagai sumur resapan dia juga befungsi sebagai komposter. Oleh karena itu setelah lubang siap bisa dimasukkan sampah organik, seperti daun2 kering, atau juga sampah dapur.

za - Maret 28, 2013

Lhoh nanti lubangnya gak mampat, Mang? Airnya masih bisa masuk gak klo sudah ada sampah dapur atau daun-daun kering?

Klo mengubur tikus boleh gak di biopori? #eeaa

indra kh - Maret 28, 2013

Gak, kan mengurai nantinya. Tapi memang harus dilubangi lagi secara berkala lubang bioporinya.

Mengubur tikus? Aya-aya wae😀

2. Dunia Ely - Maret 15, 2013

wow .. salut mas .. keren kegiatanya , andai byk yg melakukan hal serupa ya di sana🙂

indra kh - Maret 18, 2013

Wah senangnya bu kalau setiap rumah bisa melakukan hal yang sama. Setidaknya masalah sampah rumah tangga bisa lumayan teratasi, tidak seperti sekarang kesulitan lahan untuk TPA. Timbulan sampah semakin banyak, namun di sisi lain lahan untuk tempat pembuangan akhir semakin terbatas.

mugi kaharayon - Maret 19, 2014

kalau rasa malas sudah hilang untuk memanfaatkan sampah rumah tangga khususnya sampah dapur,, pasti tak sampai kesulitan seperti ini pak untuk TPA. mungkin butuh sosialisasi dan di galak kan di seluruh perkotaan maupun pedesaan. di buat secara kelompok maupun paket,, selain pengelolaan nya bisa terarah, bisa memberi nilai tambah. pupuk organik bisa di ambil secara kolektif oleh pemdes maupun pemkot dan selanjutnya bisa untuk supplay kebutuhan pupuk,, tak menutup kemungkinan juga,, untuk ketahanan pupuk sekala daerah ( minimal )

3. bibit arwana - Maret 16, 2013

go green… make better world

4. Ika Koentjoro - Maret 18, 2013

Aku udah bikin tempatnya. sama pake drum biru gitu. Dah dikasih pipa de el el tapi belum praktek😦

indra kh - Maret 18, 2013

Selamat mencoba praktek, mbak🙂

Ika Koentjoro - Maret 18, 2013

Sekarang ndak ngurus KWT jadi males mau praktek😦

5. Acep Aprilyana - Maret 18, 2013

Hallo Mas Indra,,
terima kasih sudah berbagi..
saya dari nunukan, kaltim.
kebetulan saya ni petani. dan saya selalu menggunakan kompos untuk tanaman saya.
btw, saya membuat kompos dengan daun dan kotoran .
hasilnya mantap…
selain tanaman bebas penyakit, juga hasilnya WUUUUIIIIIIIIHHHHHHH, pokona mah lah.
hehehehhe

indra kh - Maret 19, 2013

Salam kenal Kang Acep.

Wah dahsyat bener, sudah terbukti komposnya berguna.

6. ronal - Maret 18, 2013

waaah aku dah lama bgt gak bikin pupuk dan sejenisnya sejak lulus SMU dulu..:Dnice share mas

indra kh - Maret 19, 2013

Selamat mencoba lagi, Mas Ronal🙂

7. kangope - Maret 19, 2013

Kalo yang dari nasi disebut MoL (Mikroorganiske Lokal), memang kurang oke tapi coba aja bakteri dari sisa-sisa buah-buahan. Yang bagus dari nanas, nanti hasilnya wangi buah-buahan kang. Maklum EM4 mah rada awis pami dianggena teras-terasan mah🙂

indra kh - Maret 20, 2013

Taahh belum nyobain kang dari bakteri buah-buahan mah. Dicoba ah. Nuhun🙂

8. alrisblog - Maret 20, 2013

Andai banyak orang punya kemauan seperti Kang Indra makin bersih lingkungan kita. Sukses selalu. Hade pisan kang euy…

indra kh - Maret 20, 2013

Masih belajar ini juga kang. Mudah2an memberi ide buat yang lain.

9. ilhamzen09 - Maret 20, 2013

usaha bagus kang…
btw, boleh ngga’ pake aktivator lain selain EM4, kalo mikrooranisme lokal gimana?

indra kh - Maret 26, 2013

Pake MoL bisa mas, selamat mencoba🙂

10. ded - Maret 21, 2013

Ada sedikit kekeliruan In pada kalimat : sampah kering (anorganik), dan tong sampah yang satunya lagi untuk membuang sampah basah (anorganik)”
Keduanya anorganik….

Oya kebetulan ibu2 di komplek saya sedang giat-giatnya menggalakkan sampah rumah tangga diolah menjadi kompos……🙂

indra kh - Maret 27, 2013

Wah betul pak, ada kekeliruan yang baru saya lihat. Terima kasih🙂

Hebat. Bapak2nya giat juga, gak pak? Hehe

11. Acep Aprilyana - Maret 26, 2013

Hallo lagi Mas Indra,,
apa kbr neh?
mau tnya neh,,, saya lagi coba2 bikin pupuk pake buah2an busuk, kira2 bagus ga ya?

indra kh - Maret 26, 2013

Alhamdulillah baik kang.

Pake buah-buahan busuk bisa, bahkan nanti hasilnya jadi wangi buah-buahan, kalau menurut kangope kawan saya yang komentar di atas mah.

Acep Aprilyana - Maret 26, 2013

tapi saya pake buat mupuk cabe mas.

indra kh - Maret 27, 2013

Kalau untuk mupuk cabe saya juga belum nyoba kang, karena untuk cabe saya pake pupuk dari kotoran kambing. Tapi kalau diteusuri di internet banyak juga yang pake kompos untuk cabe, meskipun dicampur dengan pupuk kandang.

Acep Aprilyana - Maret 27, 2013

ya itulah, saya pingin nyoba. klo sukses nti saya kasih info.

12. Emanuel Setio Dewo - Maret 28, 2013

Seru juga ya?
BTW, kompos-nya untuk apa? Dijual atau dibuat pupuk tanaman sendiri?

indra kh - Maret 28, 2013

Dipake buat kebun sendiri aja, mas🙂

13. ratutebu - April 6, 2013

bermanfaat sekali mas, saya memang lagi mencari referensi untuk pembuatan kompos skala rumah tangga, niatnya besar: mengurangi tumpukan sampah dunia. mulai dari rumah sendiri, langkah kecil setiap orang tentu berarti untuk dunia bukan?

14. langkah kecil nan berarti | la vita e bella - April 6, 2013

[…] yang hendak saya sampaikan hari ini, adalah bahwa sannya saya terkesima oleh artikel mas indra kh disini *maap tanpa permisi saya comot fotonya ya […]

15. pursuingmydreams - April 6, 2013

Kang Indra, mau tanya dong, klo sampah dapur spt kupasan bawang, kentang dll hanya ditimbun tanah saja tanpa bakteri dari toko pertanian apa bisa dijadikan kompos?. Klo menggubakan bakteri pasti tdk akan dtg belatung ya?.

16. Imat Kalimahi - April 14, 2013

Salam kenal kang Indra…! Saya suka tulisan ini karena saya ni orang yang suka bonsai…hehe
Salam…!

17. jj - Juni 19, 2013

mkasih gan bermanfaat sekali wacanany..lanjutkan

18. zuhasna - September 26, 2013

salam kenal kang indra. sekarang saya mau memulai membuat kompos. karena lumayan banyak sampah dari dapir. yang mau saya tanya. apakah ukuran tong boleh yang kecil dari itu, berapa lama sampah dikumpulkan? takut keburu busuk.

19. anna - Oktober 4, 2014

beli bakterinya di mana ya kang?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: