jump to navigation

Warung dan Peradaban Mei 2, 2013

Posted by indra kh in Budaya.
Tags: , ,
trackback

Warung itu unik. Sepintas fungsinya sekedar tempat jual beli, padahal kalau ditelusuri lebih lanjut ia memiliki fungsi-fungsi lain. Bahkan bisa juga dikatakan sebuah warung dapat memengaruhi peradaban sebuah kampung atau daerah. 

"Warung, tempat terenak untuk transit ketika hiking" (dok-indrakh)

“Warung, tempat terenak untuk transit ketika hiking” (dok-indrakh)

Warung seringkali menjadi tempat pertukaran informasi antara pembeli dan penjual. Coba saja Anda kunjungi sebuah warung, terutama yang menyediakan tempat duduk untuk pengunjungnya. Dengarkan saja apa yang sedang dibicarakan oleh penjual dan pembeli pada saat transaksi. Topik pembicaraannya pasti beragam. Bukan hanya tentang barang yang diperjualbelikan yang mereka bicarakan, terkadang ada obrolan politik, keluarga, peristiwa terkini, dan biasanya tidak ketinggalan juga tema tentang gosip. 

Warung juga sering jadi media promo bagi suatu kampung. Info rumah kontrakan, iklan produk, hingga kampanye pun sering menjadikan warung sebagai media pilihan untuk promonya. Selain murah, pemasangan media promo di warung biasanya tidak ada masa berlakunya. Lihat saja poster-poster yang masih setia menempel di dinding warung, padahal apa yang diiklankan atau diumumkan sudah kadaluarsa. 

Keunikan warung lainnya adalah sebagai tempat mencari seseorang. Eh…mbak, si fulan sudah lewat belum, ya? Eh bang….tadi lihat Pak RT enggak lewat sini? Kalau dipikir-pikir seakan-akan pemilik warung itu tidak pernah alpa melihat dan mengingat siapa saja yang lewat di depan warungnya.

Sudah tidak asing lagi warung merupakan basecamp paling tepat bagi anak-anak sekitar ketika akan berkumpul. Kongkow di warung bagi anak muda memang mengasyikkan. Saya jadi ingat zaman sekolah dulu, saking seringnya anak-anak kelas berkumpul di warung pas jam istirahat atau sepulang sekolah sampai ada komunitas khusus. Namanya “KingReup – nangkring di hareup”, yang artinya nangkring di depan.🙂       

Warung juga sering berfungsi seperti local mapping. Sepertinya sudah lumrah terjadi, jika sedang kesulitan mencari alamat seseorang di sebuah perkampungan, tempat pertama yang dijadikan tempat bertanya pasti tukang warung. Apalagi jika kita bertanya sambil membeli sesuatu, dengan senang hati ia akan menunjukkan tempat yang dimaksud hingga mendetail. 

Jika Anda tertarik untuk mengenali karakteristik suatu daerah? Mengunjungi warung di daerah tersebut merupakan cara yang jitu.  Asalkan Anda mau bersedia duduk sejenak dan membeli sesuatu, biasanya sang pemilik warung akan membuka pembicaraan tanpa diminta. Apalagi  Anda bukan penduduk daerah tersebut. “Dari mana ….? Mau kemana ….?” Pertanyaan seperti itu biasanya “otomatis” diucapkan oleh pemilik warung. Dari obrolan pembuka itu biasanya akan memudahkan kita untuk mencari tahu bagaimana tentang kondisi keamanan suatu daerah, karakteristik penduduknya, tentang tokoh masyarakat setempat, dsb.

Oleh karena itu ketika hiking bersama keluarga ke sebuah tempat pun saya tidak pernah lupa untuk menyempatkan singgah di warung untuk sekedar mencari tahu keadaan daerah tersebut. Sambil rehat karena lapar tentunya🙂

***

Warung itu egaliter. Orang yang datang bisa dari berbagai kalangan, dan status sosial apapun. Ketika bertemu dengan tetangga di warung untuk sekedar makan gorengan, belanja sayuran bagi kaum ibu, membeli rokok untuk para pria biasanya obrolan yang berlangsung seperti tidak ada sekat sosial. Semua memiliki kepentingan yang sama, berbelanja ke warung.

Beberapa keunikan warung yang saya tuliskan di atas mungkin hanya beberapa contoh saja. Diantara Anda boleh jadi masih banyak kesan atau penilaian lain tentang keberadaan warung ini. 

Sekali lagi warung memang unik. Ada banyak hal yang tidak bisa diakomodasi oleh keberadaan mini market yang kian menjamur sekarang ini. Meskipun kian terpinggirkan, namun saya yakin keberadaan warung tidak akan hilang, karena ada nilai-nilai kemasyarakatan yang dibutuhkan di dalamnya. Warung bisa memengaruhi peradaban suatu kampung. 

Komentar»

1. za - Mei 2, 2013

Begitupun kata Indonesianis asal Jepang, yang menulis buku “Kangen Indonesia”.

Sayangnya kini serbuan indo/alfamart begitu gigih…

indra kh - Mei 2, 2013

Jadi pengen punya buku Hisanori Kato itu. Bagus bukunya, Zak?

za - Mei 6, 2013

Punya. Kalau mau pinjam, nanti saya bawakan, Mang. Bagus. Saya jadi tahu perspektif orang luar (dalam hal ini Jepang) tentang orang Indonesia.

Ada sisi positif (dan negatif tentunya).

2. Coretan Kecil Nita - Mei 2, 2013

Iyaaap bener bangeeet,,, warung kalau di kampung itu kaya pusat informasi..tempat jagong, dan lain sebagainya,

Saya yang baru sebulan benar2 pulang ke sebuah desa di Jepara saja merasakan hangatnya.🙂

indra kh - Mei 2, 2013

Dalam urusan kehumasan penjual di warung bisa mengalahkan aparat desa dalam mengelola informasi😀

Coretan Kecil Nita - Mei 2, 2013

Joooosss….🙂

3. lambangsarib - Mei 2, 2013

Kapan warung pertama kali mengisi kehidupan manusia ?

indra kh - Mei 2, 2013

KIra-kira kapan itu? hehe

lambangsarib - Mei 2, 2013

Hehe… ini, serius nanya.

indra kh - Mei 2, 2013

Sama mas, saya juga belum tahu kalau itu:)

4. airyz - Mei 2, 2013

di warung…
asal mula gosip tersebar..

indra kh - Mei 2, 2013

Iya bener, biasanya kabar kabari suka muncul awalnya dari warung

5. ericka - Mei 2, 2013

hahahah benar juga bang..
saya jadi inget novelnya Andrea Hirata tentang warung😀
memang bener itu warung sumber informasi.. selain penyedia barang, juga berfungsi sebagai entertainment xixixi

6. Nathalia DP - Mei 2, 2013

kadang kalau lagi buru2 saya suka jadi serba salah..
si ibu warung seneng banget cerita2 & bagi2 gosip eh informasi😀

indra kh - Mei 2, 2013

Yang jadi pertanyaan, kenapa rata2 tukang warung punya hobi ngobrol? Mungkin itu salah satu kompetensi yang dibutuhkan untuk jadi pemilik warung😀

7. capung2 - Mei 4, 2013

warung klo di pedesaan adlh corong dr segala informasi..

za - Mei 6, 2013

Maksudnya, warung informasi?

8. za - Mei 6, 2013

Oh ya Mang Odonk, kalau Warung Internet bagaimana? Sudah jadi sejarah peradaban ya, sekarang😀

9. sitirobiah - Mei 7, 2013

ea benar banget soh,, jangan lahh warung harus tetap di lestarikan jangan sampai hilang.

10. roisz - Mei 12, 2013

kalau sayah mah pengen hikingnya dulu laaah

11. abi_gilang - Juni 10, 2013

Pemandangan yang beda akan tampak jika kita membeli sesuatu di mall, jarang ada interaksi antar pengunjung.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: