jump to navigation

Belajar Membuat Kompos Maret 15, 2013

Posted by indra kh in Environment, inspirasi, lingkungan, Sampah.
Tags: , , , , ,
39 comments

Satu hal yang melatarbelakangi keinginan untuk mengolah sampah menjadi kompos adalah jauhnya TPS (Tempat Pembuangan Sementara) dari rumah Kami. Jika akan membuang sampah harus berangkat menuju TPS di kota kecamatan, yang terlalu jauh untuk dijangkau dengan cara berjalan kaki. Akibatnya aktivitas membuang sampah menjadi sesuatu yang menyulitkan.

Tong pembuat kompos (dok-indrakh)

Tong pembuat kompos (dok-indrakh)

Untuk jenis sampah anorganik mungkin masih bisa diakali dengan cara membakarnya, namun untuk sampah organik seperti  sampah yang berasal dari dapur tidak mungkin dilakukan dengan cara semacam itu. Parahnya lagi sebagaimana yang terjadi di semua rumah, timbulan sampah organik inilah yang jumlahnya paling besar. Bisa dibilang 60% timbulan sampah yang dihasilkan rumah tangga setiap hari adalah sampah organik.

Kesulitan dalam membuang sampah ini ternyata ada hikmahnya juga. Membuat Kami jadi berpikir bagaimana caranya untuk menangani masalah sampah rumah tangga. Sempat juga mencoba pengolahan dengan cara membuat lubang di pekarangan yang diisi sampah organik, namun ternyata jadi banyak lalat dan bau. Pada akhirnya saya dan istri sepakat untuk mencoba mengolah sampah dengan cara membuatnya menjadi kompos.

(lebih…)

Iklan

Sawah yang Tersisa Agustus 29, 2012

Posted by indra kh in Bandung, Environment, lingkungan, nostalgia.
Tags: , , , ,
5 comments

Di sekitar Coblong, Cihaur, Bangbayang, hingga Cisitu pemandangannya masih hijau menyejukkan. Sawahnya masih menghampar. Suara derasnya aliran air irigasi yang mengalir dari mulai pabrik kerupuk RDN hingga ke kawasan Cihaur, tempat saya bermain dulu masih membekas di ingatan

Perjalanan kemarin ketika sedang melewati kawasan Resort Dago Pakar sempat terhenti sejenak. Pandangan saya tiba-tiba  tertuju kepada hijaunya persawahan yang ada di samping jalan, tepatnya di perbatasan antara permukiman penduduk sekitar dan konplek perumahan. Ternyata masih ada sawah yang tersisa di Dago. Namun entah sampai kapan lahan tersebut akan mampu bertahan. Boleh jadi, tak lama lagi nasibnya akan sama dengan persawahan lain di Dago, menghilang dan berubah menjadi bangunan perumahan mewah.

“Salah satu sawah yang masih bertahan di Dago” (dok-indrakh)

Hingga pertengahan tahun 80-an atau menjelang awal tahun 90 sepengetahuan saya persawahan di Dago masih relatif banyak di temui. Di sekitar Coblong, Cihaur, Bangbayang, hingga Cisitu pemandangannya masih hijau menyejukkan. Hamparan sawahnya masih ada. Suara derasnya aliran air irigasi yang mengalir dari mulai pabrik kerupuk RDN hingga ke kawasan Cihaur tempat saya bermain dulu masih membekas di ingatan. Ya, meskipun tempat tinggal orang tua waktu itu bukan di Dago, namun banyak sekali saudara saya yang tinggal di sana, sehingga ketika musim libur tiba atau akhir pekan aktivitas masa kanak-kanak saya banyak dilakukan di daerah ini.

(lebih…)

Sepanjang Jalan Kenangan April 13, 2012

Posted by indra kh in culture, lingkungan, sosial.
Tags: , , , ,
4 comments

Jalan warga yang berada di Kampung Nyalindung, Ciumbuleuit ini tentu kalah populer dengan route 66, atau yang lebih dikenal dengan  The Main Street of America. Terlalu jauh bandingannya. Namun nasibnya kurang  lebih sama, kena gusur! Jika route 66 yang merupakan peninggalan tahun 1926 digusur akibat ambisi Presiden AS Dwight Eisenhower yang menginginkan jalan di Amerika bisa sebagus di Jerman, kalau jalan warga di kawasan Punclut ini kena gusur oleh pengembang yang ingin mengubah jalan jadi pemukiman mewah.

Jalan lama yang kini tiada (dok-indrakh)

Route 66 yang legendaris masih lebih beruntung sebenarnya, karena jalan sepanjang 3.940 km ini masih bersisa. Beberapa bagian jalan di Springfield, Missouri, dan Tulsa masih dipelihara dengan baik. Sedangkan jalan warga di Nyalindung ini nasibnya lebih merana, dibuldozer habis untuk pemukiman.

(lebih…)

Hijaunya Dago Tinggal Cerita? Januari 10, 2012

Posted by indra kh in Bandung, featured, lingkungan.
Tags: , ,
12 comments

Majalah Tempo edisi September 1981 memberitakan tentang kecemasan penurunan debit air bersih PDAM yang berasal dari perbukitan Dago. Salah satu yang dituding sebagai penyebabnya waktu itu adalah penggundulan bukit Pasirmuncang dan sekitarnya, yang akan dijadikan komplek perumahan dosen ITB, dan juga kampus Unisba. Dengan dalih semuanya sudah melalui tahapan perencanaan yang matang pembangunan akhirnya berjalan terus. “Lembaga perguruan tinggi tidak akan sembarangan berbuat,” demikian alasan yang dikemukakan pada masa itu.

Area hijau Dago - Punclut yang akan disulap menjadi perumahan (indrakh)

Kutipan berita di atas hanyalah salah satu contoh bahwa kawasan Dago yang hijau sebenarnya sudah terusik sejak lama. Kini setelah 3 dekade, Dago dan sekitarnya sudah jauh berubah. Tak hanya lembaga perguruan tinggi yang membangun di sana, investor besar seperti berlomba-lomba membangun kawasan ini. Alih fungsi lahan hijau menjadi pemukiman, hotel, restoran, toko, factory outlet, minimarket kian tak tertahankan.

(lebih…)

Tak Sekedar Kardus Bekas Agustus 11, 2011

Posted by indra kh in hidup, inspirasi, Jalan-jalan, kreativitas, lingkungan, sosial.
Tags: , , , ,
4 comments

Kardus bekas di mata seorang juru parkir di Kantin Dago, Bandung  ternyata memiliki manfaat yang lain lagi. Dengan kardus bekas tersebut ia mencoba memberikan nilai tambah bagi para pengunjung bersepeda motor yang parkir di lahan yang dikelolanya.

Kardus bekas bagi kebanyakan orang mungkin hanyalah sampah yang tidak berguna; ditumpuk di gudang atau dibuang begitu saja. Meskipun memang ada juga sebagian orang yang memanfaatkannya kembali agar bisa menghasilkan uang, seperti yang dilakukan oleh pengrajin asesoris atau para pemulung yang menjualnya ke ke pengumpul barang bekas.

Kardus bekas penutup jok motor (dok-indrakh)

(lebih…)