jump to navigation

Era Baru Jual Beli Musik Indie April 7, 2016

Posted by indra kh in Budaya, music.
Tags: , ,
add a comment

era baru jual beli musikIndependent music atau sering disingkat sebagai indie music atau indie adalah musik yang diproduksi secara bebas, mandiri, tanpa tergantung kepada label rekaman. Proses berkarya dalam musik yang dilakukan secara otonom. Pemusik atau penyanyi indie bebas berkreasi dalam memilih genre musik. Tidak jarang jenis lagu-lagu yang diciptakan berbeda jauh dengan yang sedang ngetrend di pasaran. Bermusik secara indie tidak ada paksaan tenggat waktu untuk menyelesaikan album, serta tidak ada tekanan dari perusahan label untuk mencapai jumlah penjualan tertentu.

Dalam sejarah musik, The Velvet Underground sering disebut-sebut sebagai pionir dalam musik indie, meskipun sebenarnya The Byrds-lah yang mengawali karir bermusiknya secara indie. Di tahun 60-an Lou Reed dkk dinilai mampu memberikan “pesan” yang berbeda pada setiap lagu yang dinyanyikan. Dibandingkan dengan lagu-lagu yang sedang nge-hit di Amerika keluaran label rekaman terkemuka saat itu, karya The Velvet seperti melawan arus. Tempo pada lagu-lagu The Velvet Underground dibuat cepat ke lambat, melodinya pun dibuat bervariasi. Latar belakang beberapa personel yang pernah bermain musik klasik sedikit banyak mempengaruhi hal tersebut. Pemilihan lirik pun mengambil yang anti mainstream. Singkatnya, mereka menyanyikan tentang segala sesuatu yang orang lain tidak lakukan.
(lebih…)

Keroncong Stasiun Gambir Oktober 3, 2013

Posted by indra kh in Jalan-jalan, music, pertunjukan, serbaneka.
Tags: , , , , ,
16 comments

Petang hampir datang di Stasiun Gambir. Di stasiun terbesar di Jakarta yang dulu bernama Koningsplein itu tampak lima orang pria sedang sibuk menyiapkan alat-alat musik keroncong: biola, ukulele, dan kontabass. Seusai menyetem  alat musik, mereka kemudian berganti kostum dengan pakaian putih-putih dan juga topi putih ala pengawas di zaman  Belanda.

Grup Keroncong Gambir Merdeka (Foto: indra kh)

Grup Keroncong Gambir Merdeka (Foto: indra kh)

Ada pemandangan unik waktu itu. Sambil mengganti kostum, salah seorang diantara pemain saya lihat meminum jamu tolak angin sachet terlebih dahulu. “Ritual supaya tidak masuk angin, mas?” Tanya saya kepadanya. Pria pemain ukulele ini hanya tertawa  saja mendengar pertanyaan saya.

10 menit jelang pukul 15.00 WIB. Beberapa saat lagi grup musik bernama Keroncong Gambir Merdeka ini akan mentas di atas panggung sebelah barat stasiun. Setiap harinya, hingga pukul 16.00 WIB, kelima pria ini membawakan sejumlah lagu keroncong untuk menghibur penumpang kereta api yang menunggu keberangkatan.

(lebih…)

Detik Hidup, Iwan Abdulrachman (Abah Iwan) Juli 21, 2006

Posted by indra kh in music.
5 comments

Photobucket - Video and Image Hosting
Saya mulai mengenal karya-karya Iwan Abdulrachman (Abah Iwan) seperti “Sejuta kabut,” Seribu Mil Lebih Sedepa,” “Melati Putih,” dll lewat acara-acara Bang Lengser dan Kang Ibing di Radio Mara Bandung. Ketika hari Jumat (2/6) saya disodori undangan untuk menonton konser Abah Iwan “Kabar dari Gunung” di Grand Ballroom Hyatt, Jln. Sumatra No.51, Bandung pada Sabtu (3/6) beberapa pekan lalu, tentu betapa girangnya hati saya.

Di tempat konser yang disetting mirip hutan itu, Jendela Ide Kids Percussion tampil sebagai sajian pembuka. Kelompok perkusi yang personelnya terdiri dari para bocah yang kerap manggung di mancanegara itu benar-benar memukau 700-an penonton yang memadati Hyatt.

Sastrawan Iman Soleh kemudian tampil selanjutnya. Ia membawakan puisi berjudul ‘Air, Burung, dan Nenek Moyang. ‘ Penampilannya menggiring penonton untuk semakin masuk dalam suasana alam. Satu hal yang paling diingat saya dari performa Iman Soleh adalah gaya membaca puisinya yang unik. Saat itu, sambil diikuti hentakan kaki seperti melangkah dalam sebuah perjalanan, pria berkumis tebal ini berkata dalam gaya seperti kakek-kakek :…Yaa Hujaan, …Yaa Aiir…”

Seusai Iman Soleh, dan sedikit prolog dari Kang Aat Suratin, acara yang dinanti pun tiba yakni sajian musik balada dengan kemasan akustik penuh pesan dari seorang Iwan Abdulrachman. Malam itu Abah Iwan membawakan sejumlah lagu pilihan soal alam.

Sedikitnya 20 lagu Abah bawakan malam itu, diantaranya lagu Simphoni Pohon Bambu, Tragedi, Badai, Akar, Anak Tarzan, Melati dari Jayagiri, Flamboyan, Mentari, dan Detik Hidup.

Detik-detik berlalu dalam hidup ini
Perlahan tapi pasti, menuju mati
Kerap datang rasa takut, menyusup di hati
Takut hidup ini terisi oleh sia-sia

Pada hening dan sepi, aku bertanya
Dengan apa ku isi, detikku ini

Kerap datang rasa takut, menyusup di hati
Takut hidup ini tersisi oleh sia-sia

Tuhan kemana kami setelah ini
Adakah Engkau dengar doaku ini

Lagu Detik Hidup, hasil karya Abah di tahun 1976 bagi saya merupakan lagu terbaik dari seorang Iwan Abdulrachman yang telah berbaur dengan alam sekira 45 tahun. Isinya benar-benar penuh nasehat yang dikemas tanpa menggurui. Petikan gitar dan suara khasnya pada lagu itu menyiratkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah dan ada kehidupan kekal menanti.

Malam telah menjelang pergantian hari, sekitar dua jam salah seorang tokoh Wanadri ini akhirnya mengakhiri tausyiah lewat petikan gitarnya malam itu. Sebagian penonton bahkan berkesempatan membawa berbagai bibit pohon dari para petani di Kuningan untuk ditanam di tempatnya masing-masing.