jump to navigation

Lahang yang “Terbuang” Maret 26, 2013

Posted by indra kh in culture, featured, food and drink, nostalgia.
Tags: , , ,
31 comments

Lain dulu lain sekarang. Makin ke sini pedagang lahang kian kesulitan ruang. Jika dulu sempat disuka orang, namun sekarang pembelinya makin jarang.  Makanya, tidak heran jika pedagang pun enggan berjualan lahang. Terbuang.

"Pedagang lahang, mencoba bertahan di ibukota (dok - indrakh)

“Pedagang lahang, mencoba bertahan di ibukota (dok – indrakh)

Anda kenal lahang, atau pernah mencobanya? Minuman tradisional ini berasal dari nira yang disadap dari pohon aren.  Lahang biasanya dikemas dalam beberapa batang bambu yang disusun dalam pikulan. Jika ada pembeli, pedagang lahang akan menuangkan lahang yang ada di dalam batang bambu ke dalam gelas. Alasan penggunaan bambu sebagai wadah mungkin agar terasa dingin saat akan diminum. Rasanya manis, dingin dan menyegarkan. Meskipun ada juga orang yang kurang suka dengan baunya yang dianggap tidak enak.

(lebih…)

Iklan

Bemo di Tepi Zaman September 7, 2012

Posted by indra kh in nostalgia, transportasi, transportation.
Tags: , , , ,
7 comments

Ketika sedang melewati Jalan Bendungan Hilir, Jakarta, saya cukup kaget karena di kawasan tersebut bemo masih berseliweran. Kendaraan umum beroda tiga peninggalan masa lalu itu masih eksis di ibukota. Padahal di sejumlah kota besar, termasuk Bandung sudah lama tiada.

Bemo di Bendungan Hilir (dok – indrakh)

Memang waktu itu saya tidak menumpangnya, hanya sempat melihat saja. Namun karena melihat bemo tersebut ingatan saya jadi mundur lagi ke belakang, mengingat-ingat lagi ke masa lalu, nostalgia ketika naik bemo di Bandung.

(lebih…)

Sawah yang Tersisa Agustus 29, 2012

Posted by indra kh in Bandung, Environment, lingkungan, nostalgia.
Tags: , , , ,
5 comments

Di sekitar Coblong, Cihaur, Bangbayang, hingga Cisitu pemandangannya masih hijau menyejukkan. Sawahnya masih menghampar. Suara derasnya aliran air irigasi yang mengalir dari mulai pabrik kerupuk RDN hingga ke kawasan Cihaur, tempat saya bermain dulu masih membekas di ingatan

Perjalanan kemarin ketika sedang melewati kawasan Resort Dago Pakar sempat terhenti sejenak. Pandangan saya tiba-tiba  tertuju kepada hijaunya persawahan yang ada di samping jalan, tepatnya di perbatasan antara permukiman penduduk sekitar dan konplek perumahan. Ternyata masih ada sawah yang tersisa di Dago. Namun entah sampai kapan lahan tersebut akan mampu bertahan. Boleh jadi, tak lama lagi nasibnya akan sama dengan persawahan lain di Dago, menghilang dan berubah menjadi bangunan perumahan mewah.

“Salah satu sawah yang masih bertahan di Dago” (dok-indrakh)

Hingga pertengahan tahun 80-an atau menjelang awal tahun 90 sepengetahuan saya persawahan di Dago masih relatif banyak di temui. Di sekitar Coblong, Cihaur, Bangbayang, hingga Cisitu pemandangannya masih hijau menyejukkan. Hamparan sawahnya masih ada. Suara derasnya aliran air irigasi yang mengalir dari mulai pabrik kerupuk RDN hingga ke kawasan Cihaur tempat saya bermain dulu masih membekas di ingatan. Ya, meskipun tempat tinggal orang tua waktu itu bukan di Dago, namun banyak sekali saudara saya yang tinggal di sana, sehingga ketika musim libur tiba atau akhir pekan aktivitas masa kanak-kanak saya banyak dilakukan di daerah ini.

(lebih…)

Reminisensi Damri, dari Tata Hingga Mercy April 30, 2012

Posted by indra kh in featured, Jalan-jalan, nostalgia, transportasi, transportation.
Tags: , , ,
16 comments

Saat melintas di terminal Leuwipanjang, Bandung beberapa hari lalu pandangan saya tertarik pada sebuah bis Damri yang sedang berhenti menunggu penumpang. Baru sadar, ternyata bis Mercedes Benz butut yang sering disebut goyobod itu masih beroperasi. Saya kira sudah dikandangkan seperti Tata dan Hino yang melegenda.

Bis Mercy Damri jadul, masih bertahan hingga kini (dok-indrakh)

Kalau diingat-ingat kapan yah terakhir kali naik bis kota di Bandung? Sepertinya sudah lama sekali. Terakhir ingat sih jaman mahasiswa dulu, karena setiap hari naik bis Damri jurusan Dipatiukur-Jatinangor.

(lebih…)