jump to navigation

Dilema Pasar Kaget Januari 12, 2011

Posted by indra kh in culture, pasar, serbaneka, sosial.
Tags: , , ,
35 comments

Pasar kaget di negeri ini biasanya muncul di tempat-tempat kerumunan orang yang berolahraga atau jalan kaki di Minggu pagi, seperti alun-alun kota, tanah lapang, atau jalan-jalan yang digunakan untuk program car free day.  Awalnya mungkin hanya penjual makanan saja yang berjualan di tempat-tempat kerumunan semacam ini, namun lambat laun pedagang berbagai macam jenis barang lainnya pun akan ikut nangkring juga untuk mengadu untung.

Pasar kaget di jalan menuju Sesko AU, Lembang (dok - indrakh)

Keberadaan pasar kaget ini memang dilematis. Di satu sisi menguntungkan untuk pertumbuhan ekonomi rakyat, dan memberikan alternatif tempat berbelanja murah bagi masyarakat, namun di sisi lain keberadaannya kerap menjadi biang kerok kemacetan dan membuat kotor kota. Pasalnya usai pasar beroperasi saya amati sampah sering dibiarkan menumpuk atau mengotori jalan begitu saja oleh para pedagang dadakan ini.

(lebih…)

Iklan

Bursa Buku Palasari Desember 15, 2010

Posted by indra kh in Bandung, buku, featured, Jalan-jalan, pasar, serbaneka.
Tags: , , ,
33 comments

Belakangan saya lihat bermunculan toko-toko buku baru di Bandung. Senang juga sih, karena itu artinya tempat untuk mencari buku jadi semakin banyak pilihan. Meskipun demikian, bursa buku di Palasari sepertinya tetap menjadi pilihan banyak orang untuk membeli buku.

Salah satu kios di Bursa Buku Palasari (dok- indra kh)

Saya amati banyak orang yang mendatangi toko-toko buku tersebut hanya untuk mencari informasi mengenai buku-buku apa saja yang jadi best seller saat ini; judulnya apa dan pengarangnya siapa? Usai itu tetap saja mereka akan membelinya ke Palasari karena harga yang lebih murah. Atau kalaupun datang ke toko buku tersebut hanya untuk numpang baca. 🙂

(lebih…)

Ketupat dan Bunga di Hari Raya Oktober 13, 2008

Posted by indra kh in Bandung, food and drink, hidup, Jalan-jalan, lebaran, Lembang, pasar, ramadhan, serbaneka, travel and places.
Tags: , , , ,
6 comments

Hampir dua pekan sudah lebaran terlewati namun nuansanya masih terasa hingga kini. Jadi tidak ada salahnya jika pernak pernik bertema hari raya saya angkat kali ini.

Kehadiran ketupat selalu jadi primadona saat hari raya di hampir seluruh pelosok nusantara. Yang membedakan antara daerah satu dengan daerah lainnya biasanya adalah kuah pendampingnya. Ada yang memilih opor ayam, gulai kambing, atau sayur nangka, lalu ada juga yang lebih memilih sayur kari, dan bahkan sayur lodeh. Semuanya dipilih tergantung selera dan kebiasaan daerah masing-masing.

Ketupat, unik dan menarik – Indra KH  From Pernak-pernik

Berbicara tentang ketupat, bagi saya selalu ada hal yang menarik dan unik. Menjelang lebaran tiba pemandangan muka setiap pasar saya amati nyaris sama: dipenuhi tukang cangkang ketupat yang menggelar dagangannya di pintu masuk pasar. Sebagian besar mereka adalah penjual musiman yang memilih berdagang cangkang ketupat setiap menjelang hari raya. Dari hasil pengamatan saya di sejumlah pasar di Bandung dan Lembang, harga seikat cangkang ketupat (biasanya berisi 10 buah) pada musim lebaran kemarin berada pada kisaran 3000 – 4000 rupiah. Jika Anda berminat membeli cangkang yang belum dirangkai tentu saja bisa lebih murah, yakni sekitar 1500 – 2000 rupiah seikatnya.

(lebih…)

Memburu Cita Rasa Teh Januari 4, 2008

Posted by indra kh in food and drink, health and wellness, Jalan-jalan, pasar.
30 comments

Dibanding minum kopi saya sebenarnya lebih suka minum teh. Apalagi jika musim hujan seperti sekarang ini. Menikmati secangkir teh hangat ditemani pisang goreng dan ubi goreng sepertinya merupakan pilihan yang mantab. Pun ketika kita kelelahan. Secangkir teh dingin (bukan es teh) dari poci biasanya mampu menyegarkan badan.

“Salah satu kios penjual beraneka macam teh di pasar Mandalagiri, Garut (indrakh)”

Diantara Anda mungkin sudah tidak asing lagi dengan beraneka merk teh seperti teh Walini, Sariwangi, 2Tang, Sosro, Tong Tjie, Goalpara, dll. Setiap orang tentu memiliki seleranya masing-masing. Saya pribadi untuk teh bermerk cenderung memfavoritkan teh hitam Walini produksi PT Perkebunan Nusantara VIII.

(lebih…)

Pasar Tradisional di Tengah Kepungan Pasar Modern September 3, 2007

Posted by indra kh in business, culture, ekonomi, pasar, topics.
43 comments

Sekitar dua dekade lampau jumlah supermarket atau hypermarket maupun mini market di negeri ini masih bisa dihitung dengan jari. Di Bandung saja seingat saya keberadaan pasar modern waktu itu masih sangat jarang. Kalau pun ada paling satu dua, itupun hanya di pusat kota. Coba Anda bandingkan dengan sekarang. Bagi Anda yang tinggal di perkotaan, tak jauh dari pemukiman kita pasti ada minimarket. Jumlahnya juga mungkin lebih dari satu. Jika akan berbelanja dalam skala besar, sebagian orang kini lebih cenderung mendatangi hypermarket ataupun pusat grosir. Selain tempatnya lebih nyaman, harganya bersaing, jenis barangnya pun sangat beragam.

pasar1.jpg

“Tawar menawar penjual dan pembeli di los ikan pasar tradisional (indrakh)”

Kehadiran pasar modern yang memberikan banyak kenyamanan membuat sebagian orang enggan untuk berbelanja ke pasar tradisional. Berbagai alasan mungkin akan dilontarkan orang jika ditanya:” Mengapa tidak memilih pasar tradisional?.” Dari mulai kondisi pasar yang becek dan bau, malas tawar menawar, faktor keamanan (copet, dsb), resiko pengurangan timbangan pada barang yang dibeli, penuh sesak, dan sejumlah alasan lainnya. Padahal pasar tradisional juga masih memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki pasar modern. Diantaranya adalah masih adanya kontak sosial saat tawar menawar antara pedagang dan pembeli. Tidak seperti pasar modern yang memaksa konsumen untuk mematuhi harga yang sudah dipatok.

(lebih…)