“Derenten,” Bertahan di Tengah Kepungan Gedung dan Permukiman Oktober 24, 2009
Posted by indra kh in Environment, Jalan-jalan, keluarga, lingkungan.Tags: Bandung, Jalan-jalan, keluarga, travel
19 comments
Meneer Hoogland dan para aktivis Bandungse Zoological Park yang hidup pada tahun 1930-an mungkin tidak pernah mengira jika taman botani di sekitar Huygensweg (Tamansari) yang mereka pilih untuk Kebun Binatang Bandung akan bernasib seperti sekarang, terkepung oleh banyak bangunan. Salah satu hutan kota yang masih tersisa dan salah satu tempat rekreasi murah bagi warga kota kembang ini entah sampai kapan bisa bertahan dari desakan permukiman, perkantoran dan tempat usaha.

"Beberapa pengunjung di Kebun Binatang Bandung (dok/ikh)"
Sekedar informasi orang Sunda tempo dulu menyebut kebun binatang ini dengan istilah “Derenten,” yang diambil dari Bahasa Belanda Derentuin yang artinya kebun binatang.
Lansia Bukan Halangan Berkarya Oktober 16, 2009
Posted by indra kh in Jalan-jalan, culture, fenomena, hidup, my-life, serbaneka.Tags: Jalan-jalan, lansia, singapura, travel
15 comments
Akhir pekan lalu saya berkesempatan mengunjungi negeri tetangga, Singapura. Banyak hal yang bisa diceritakan dari hasil kunjungan tersebut, mudah-mudahan satu per satu bisa saya kupas di sini. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah bagaimana cara negeri singa itu dalam mengaryakan para lansia.

"Lansia penjual es di kawasan Bugis st, Singapura (dok/ikh)"
Ketertarikan sudah saya rasakan sejak di Bandara Internasional Changi. Dalam hati saat itu timbul pertanyaan, mengapa para petugas kebersihan di bandara tersebut orang tua semua, dan tidak ada orang muda? Ah mungkin itu hanya kebetulan di bandara saja, pikir saya.
(lagi…)
Ngabuburit September 8, 2009
Posted by indra kh in Islam, culture, hidup, ramadhan, serbaneka.Tags: lomba blog dijaminmurah.com, ramadhan
17 comments
Suasana petang di Bulan Ramadhan biasanya cenderung ramai dibandingkan bulan lainnya. Waktu Maghrib menjadi momen yang paling dinanti banyak orang. Alun-alun kota, masjid raya, pusat belanja dan berbagai area terbuka mendadak lebih ramai oleh aktivitas orang-orang yang ingin mengisi waktu menunggu senja di bulan puasa. Kegiatan semacam itu dikenal juga dengan istilah “ngabuburit.”

"Menyimak ceramah sore di Masjid Raya Bandung, sambil ngabuburit (dok/indrakh)
Kata ngabuburit sendiri sebenarnya berasal dari Bahasa Sunda. Dalam Kamus Bahasa Sunda yang diterbitkan Lembaga Basa dan Sastra Sunda (LBSS) disebutkan bahwa ngabuburit adalah “ngalantung ngadagoan burit,” yang artinya kurang lebih bersantai-santai sambil menunggu waktu sore. Dugaan saya, istilah tersebut menjadi terkenal di Indonesia karena peranan orang-orang Sunda di Ibukota yang turut mempopulerkannya, yang kemudian diikuti oleh media.
Nestapa Mushala di Pusat Belanja Agustus 26, 2009
Posted by indra kh in Islam, Jalan-jalan, Masjid, hidup, ramadhan.Tags: Islam, Masjid, mushala, ramadhan
22 comments
Pusat perbelanjaan atau mal di negeri ini terus bertambah bak cendawan di musim hujan. Setiap tahun muncul mal baru, terutama di kota-kota besar. Namun, bila kita amati tidak banyak pusat perbelanjaan yang menyediakan mushala yang layak dan nyaman bagi pengunjungnya. Sebagian besar pusat perbelanjaan menempatkan mushala satu lantai dengan area parkir pengunjung di basement. Padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, yang tentunya membutuhkan tempat ibadah yang nyaman untuk menunaikan shalat lima waktu.

"Petunjuk mushala di sebuah mal (doc/indrah)"
Kemerdekaan Bukan Hasil Permainan Agustus 20, 2009
Posted by indra kh in culture, my-life, topics.Tags: 17 agustus, indonesia, kemerdekaan
8 comments
Usia lebih dari setengah abad bagi seorang manusia adalah tibanya masa tua, namun bagi sebuah bangsa usia 64 tahun mungkin belum seberapa. Perjalanan masih sangat panjang jika dibandingkan negara-negara lain yang sudah merdeka sejak ratusan tahun lalu. Sejumlah tantangan pasti siap menghadang perjalanan bangsa ini, namun di sisi lain potensi yang bisa digali juga tak kalah beragamnya, agar pencapaian negeri ini di banyak aspek kelak bisa setara dengan negara maju.

"Lomba gebuk bantal menyemarakkan HUT RI (doc/indrakh)"
Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 64 memang baru saja kita lewati, tapi gaungnya hingga saat ini masih terasa. Di sejumlah tempat bahkan masih menyisakan sejumlah kegiatan. Namun belakangan ini saya melihat semarak perayaan kemerdekaan mengalami pergeseran. Sebagai contoh acara untuk menyambut 17 Agustus di perkotaan yang tidak seramai dulu. Kondisi ini salah satunya bisa jadi disebabkan oleh kian minimnya tanah lapang untuk sarana berkumpul masyarakat. Jangankan untuk menggelar acara yang melibatkan orang banyak dari segala usia, ketika pemilu yang baru lalu saja tak sedikit TPS yang terpaksa didirikan di atas trotoar akibat tidak adanya lahan kosong.
(lagi…)

